KURUNGBUKA.com – Ada rasa campur aduk waktu saya datang ke Gala Premiere film Tuhan, Benarkah Kau Mendengarku? tanggal 20 Januari 2026 kemarin. Mungkin karena saya sempat ikut di tim development naskahnya, jadi ada rasa memiliki sekaligus khawatir. Takut versi akhirnya beda jauh dari yang dulu kami bayangkan. Tapi ternyata yang saya rasakan justru sebaliknya. Filmnya terasa jauh lebih hidup, lebih emosional, dan lebih utuh dari ekspektasi saya.

Film produksi Paragon Pictures dan Ideosource Entertainment ini bercerita tentang Sarah (Revalina S. Temat) yang hidup dalam rumah tangga yang dari luar terlihat baik-baik saja bersama suaminya, Satrio (Gunawan Sudrajat), dan putri remaja mereka, Laila (Annisa Kaila). Semua berubah ketika Satrio menyampaikan niatnya untuk berpoligami dengan sekretarisnya, Annisa (Megan Domani). Sarah memilih bercerai, tapi keputusan itu justru membuka fase hidup yang jauh lebih rumit. Hubungannya dengan Laila ikut merenggang, ia harus menghadapi tekanan sosial sebagai janda, dan berjuang mandiri lewat usaha butik kecil. Saat hidupnya mulai terasa lebih stabil, Satrio jatuh sakit keras. Dalam situasi yang serba tidak nyaman, Sarah justru harus menerima mantan suaminya tinggal satu rumah dengannya—bersama istri barunya. Dari situ film berubah jadi pergulatan batin tentang luka, nilai kemanusiaan, dan doa yang terasa seperti menggantung di langit.

Yang paling kena buat saya tentu penampilan Revalina sebagai Sarah. Aktingnya terasa tulus dan tidak berlebihan. Banyak momen dia hanya diam, tapi kita tetap bisa merasakan pergulatan emosi di hatinya. Saya beberapa kali merasa sesak sendiri padahal adegannya tenang. Gunawan sebagai Satrio memang tidak selalu seimbang secara emosi, tapi justru itu terasa pas dengan karakternya yang canggung menghadapi akibat dari pilihannya sendiri. Sementara Kaila sebagai Laila cukup mengejutkan. Ada ledakan emosi dari karakternya yang terasa jujur banget di beberapa scene seperti anak yang terluka tapi tidak tahu harus meluapkan amarahnya ke siapa.

Penyutradaraan Jay Sukmo menurut saya berhasil menjaga film ini tetap membumi. Tema seperti ini rawan jatuh jadi drama yang terlalu meledak-ledak, tapi di sini emosinya lebih banyak ditahan. Justru karena ditahan, ketika pecah rasanya lebih mengena. Penonton dibuat ikut duduk dalam posisi yang tidak nyaman. Kita dipaksa ikut berpikir, ikut menilai, bahkan mungkin ikut menghakimi.

Sepanjang film saya merasa tidak ada tokoh yang sepenuhnya bisa saya bela tanpa syarat. Saya kasihan pada Sarah, tapi juga melihat kebingungan Laila. Saya kesal pada Satrio, tapi tetap melihat sisi rapuhnya ketika sakit. Film ini seperti bilang bahwa hidup tidak pernah sesederhana mana benar dan salah.

Memang ada beberapa detail cerita yang terasa kurang tergarap dengan baik, tapi secara keseluruhan emosi utamanya tetap sampai. Kalian pasti setuju pilihan tone warna di film ini bagus sekali termasuk wardrobe para pemainnya. Terlepas dari itu, buat saya pribadi, menonton film ini seperti melihat cerita yang dulu hanya berupa bahan diskusi di ruang pengembangan, sekarang benar-benar bergerak lewat para pemainnya.

Menjelang Ramadan, film ini terasa relevan karena ia bicara tentang makna ikhlas, tapi bukan versi yang indah. Ini tentang ikhlas yang dipaksa oleh keadaan. Tentang doa yang mungkin tidak langsung dijawab sesuai keinginan kita. Judulnya jadi terasa seperti jeritan pelan dari orang yang lelah, bukan sekadar kalimat puitis—judul ini dikutip dari lirik lagu Teramini yang dinyanyikan oleh Ghea Indrawari dan dijadikan sountrack film ini.

Film ini mulai tayang 29 Januari 2026. Dan setelah menonton, mungkin pertanyaan terbesarnya bukan lagi apakah Tuhan mendengar doa kita atau tidak, tapi… kalau kita ada di posisi Sarah, sanggupkah kita menjalani pilihan yang sama?

Skor: 7,5/10