Penulis : Leila S. Chudori
Judul buku : Laut bercerita
Tahun terbit : 2024
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : ke-79

KURUNGBUKA.com – Laut Bercerita karya Leila S. Chudori adalah novel yang mengisahkan perjuangan Biru Laut, seorang mahasiswa dan aktivis yang berani melawan ketidakadilan pada masa Orde Baru. Bersama kawan-kawannya, ia mengalami penangkapan, penyiksaan, hingga penghilangan paksa, sementara di sisi lain sang adik, Asmara Jati, terus mencari dan menyuarakan kehilangan itu. Novel ini menghadirkan kisah perlawanan, kehilangan, dan luka sejarah yang tak pernah benar-benar usai.

Buku Laut Bercerita ini mengajarkan tentang nilai nilai kemanusiaan dan keberanian dalam menegakkan keadilan di antara situasi yang tidak adil. Meskipun tahu resikonya akan sangat berbahaya, tapi demi kemajuan dan kesejahteraan rakyat ke depannya, Biru Laut bersama teman seperjuangannya berani melawan dan mempertaruhkan jiwa mereka.

Di buku ini, sosok Biru Laut beserta teman temannya sangat gigih dalam memperjuangkan Indonesia di masa orde baru. Sang adik, Asmara Jati juga tak kalah gigih dalam memperjuangkan keadilan atas penghilangan paksa atas kakaknya.

Menurut saya, buku ini sangat sadis bagi pembaca yang tidak kuat akan hal hal kekerasan, karena penyiksaan yang dialami oleh Biru Laut dan teman temannya sangatlah sadis, seperti di setrum, di siksa di atas balok es, dan penyiksaan keji lainnya.

Selain itu, hal menarik dari buku Laut Bercerita adalah cara penulis menyampaikan cerita melalui dua sudut pandang yang berbeda, yaitu dari Biru Laut dan adiknya, Asmara Jati. Hal ini membuat pembaca tidak hanya melihat penderitaan korban penghilangan paksa, tetapi juga merasakan kesedihan dan perjuangan keluarga yang ditinggalkan. Cerita menjadi lebih hidup dan emosional karena pembaca diajak memahami perasaan kehilangan dari dua sisi.

Trauma dan ingatan yang terus membekas meskipun waktu telah berlalu. Rasa takut, rindu, dan harapan yang tidak kunjung terjawab dituliskan dengan sangat mendalam, sehingga pembaca dapat merasakan luka batin yang dialami para tokohnya. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan tidak hanya menyakiti secara fisik, tetapi juga meninggalkan dampak psikologis yang panjang.

Hal menarik lainnya adalah kuatnya nilai persahabatan dan solidaritas antar tokoh. Para aktivis digambarkan saling mendukung dan menguatkan satu sama lain di tengah situasi yang berbahaya. Persahabatan ini menjadi sumber kekuatan untuk bertahan dan terus memperjuangkan apa yang mereka yakini benar.

Melalui bahasa yang puitis namun menyayat hati, Laut Bercerita juga menjadi pengingat bagi pembaca tentang sejarah kelam bangsa yang tidak boleh dilupakan. Buku ini menyampaikan pesan bahwa ingatan, kebenaran, dan keadilan harus terus diperjuangkan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Buku ini penting dibaca agar kita dapat mengetahui betapa kejamnya rezim pada orde baru, yang menegakkan keadilan untuk kebaikan bangsa selanjutnya di bungkam, di siksa, dan bahkan dihilangkan secara paksa. Mahasiswa, aktivis, serta masyarakat yang berjuang menegakkan keadilan di masa Orde Baru dapat disebut sebagai pahlawan tanpa nama dalam sejarah. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban penghilangan paksa akibat kerasnya kekuasaan saat itu. Oleh karena itu kita berterima kasih kepada penulis yang mengingatkan kita kembali atau membawa kita kepada suasana mencekam pada masa orde baru 1998.