KURUNGBUKA.com – Pengalaman di hutan, berbeda dengan pengalaman di kota. Tempat-tempat memiliki keramat dan laknat, yang dirasakan orang yang mengunjungi atau singgah. Di pengembaraan jauh, tempat-tempat selalu memberikan godaan dan rahasia, yang tidak semua mudah terurai. Minli akhirnya sampai ke kota. Minli masih beradalam dalam cerita menakjubkan Grace Lin dalam buku Where the Mountain Meets the Moon (2010).

Minli, bocah yang berani. Ia memasuki kota. Yang dilihatnya: “Jalanan ramai dan riuh rendah. Manusia tumpah ruah di kota itu bagaikan nasi dalam periuk.” Imajinasi yang sederhana: melihat manusia di kota, melihat nasi dalam periuk. Minli tidak berimajinasi sembrono. Ia malah yang menjadikannya gampang dan akrab atas diri yang belum punya banyak pengalaman.

Kota adalah tempat terjadinya rebutan kepentingan. Minli mengetahui kesibukan banyak orang. Mereka minta perhatian. Kota yang berisik, terlarang tenang. Minli tidak bertujuan tinggal di kota. Kehadirannya hanya untuk perjalanan selanjutnya. Penglihatannya terhadap kota belum sempurna. Ia masih harus terus berjalan dengan bertanya dan menduga.

Di kota, Minli perlahan mengetahui kesulitan dan kemudahan, kebaikan dan keburukan, kejelasan dan kesamaran. Bocah yang meyakini dongeng tetap memberikan petunjuk untuk sampai jawaban. Kota itu memang memberikan kesan-kesan kepada bocah, yang tidak mau merumitkan semuanya. Kota bukan teka-teki yang tersulit dalam pengembaraan.

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<