KURUNGBUKA.com – (23/02/2024) Orang-orang menonton film ingin mengetahui kekuatan cerita. Film yang selesai ditonton belum selesai dalam permainan ingatan, dilanjutkan pemberian makna yang henti-hentinya. Penonton yang akan mencipta lagi cerita di kepalanya meski di hadapannya sudah tidak ada layar.

Ia yang menggerakkan cerita seolah masih bersama gambar-gambar yang sebelumnya dilihat. Namun, cerita adalah urusan yang menentukan keterikatan dengan cerita-cerita yang ingin dikenang atau akhirnya dibuang.

Di penulisan cerita bagus yang menikmati film, ada nama yang terjamin: Sidney Sheldon. Yang berdatangan di Indonesia adalah novel-novelnya. Pengakuan yang terpenting ia adalah penulis atau pemberi cerita. Yang membaca novel-novel gubahan Sidney Sheldon mungkin merasa menonton film-film. Ceritanya yang mula-mula terpenting. Penulisan tidak boleh sembarangan.

Kejengkelan yang disampaikan Sidney Sheldon: “Aku mempekerjakan penulis-penulis lain untuk membantuku memikul sebagian beban, tetapi aku tidak puas dengan banyak naskah yang mereka serahkan. Banyak penulis yang percaya pendekatan terbaik adalah menumpuk fantasi di atas fantasi.”

Ia menghadapi kesulitan, yang ingin selalu menghasilkan cerita bermutu dalam film. Kemauan dan kerja keras diperlukan, tidak mungkin menyerahkannya ke orang lain. Keterangan yang ia berikan: “Sejak Februari 1966 hingga April tahun selanjutnya, aku menulis 38 naskah secara berturut-turut atas namaku sendiri.”

Kita mengetahui penulisan (naskah) cerita dalam perfilman berbeda dengan pertaruhan saat menulis novel. Di film, Sidney Sheldon mengerti posisi penulis yang nantinya harus dipertemukan dengan pihak-pihak lain dalam mewujud sebagai film.

(Sidney Sheldon, 2007, The Other Side of Me, Gramedia Pustaka Utama)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<