KURUNGBUKA.com – (30/04/2024) Yang rajin menulis kota dalam puisi-puisi berbahasa Indonesia: Afrizal Malna. Ia lahir dan tumbuh di kota. Ia yang berkelana di kota-kota. Yang ditulisnya adalah kota dalam ratusan puisi. Kesadaran yang termiliki sejak awal ketimbang telat menyadari puisi itu politik. Selama puluhan tahun, Afrizal Malna seperti membuat pendokumentasian kota-kota.

Ia yang membaca dan menulis kota, yang berbeda cara dari para penguasa, kaum modal, dan kalangan intelektual. Kota-kota yang ditulisnya adalah penciptaan dan penghancuran. Kita membacanya mudah salah tafsir.

Afrisal Malna mengungkapkan: “Setelah reformasi terjadi, saya merasa puisi kian kehilangan darahnya. Darahnya telah diambil oleh ‘teater politik’ yang kian ‘menghalalkan’ kekerasan, merusak lingkungan semiotik kita untuk mengalami sensitivitas-sensitivitas yang diberikan kehidupan kepada kita.” Puisi dan politik berlatar setelah 1998.

Afrizal Malna yang makin ingin mengerti Indonesia: meluap dan tersiksa. “Saya merasa puisi terjepit pada leher botol tidak bisa masuk ke dalam untuk mengalami esensinya juga tidak bisa keluar untuk bertemu dengan kehidupan luas,” keterangan yang agak lucu.

Kita yang mengingat Indonesia masa 1990-an atau akhir abad XX memerlukan membaca lagi puisi-puisi gubahah Afrizal Malna. Indonesia makin ramai dan ruwet. Namun, Afrizal Malna terus berkelana ke kot-kota, tidak hanya di Indonesia. Ia perlahan mengalami sepi.

Yang diungkapkan: “Setiap saya seorang, di malam hari, di sebuah jalan, saya seperti baru saja bisa bertemu dengan diri saya.” Ia pun bertanya tentang pulang dan kota.

(Afrizal Malna, 2021, Kandang Ayam: Korpus Dapur Teks, Diva)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<