Siapa yang tertawa terbahak-bahak? Lee Ji Hyun yakin ada orang di sana. Dia mencari ke kolong tempat tidur, menengok ke luar jendela, dan menajamkan pendengaran.
Siapa yang mereka tertawakan? Lee Ji Hyun ragu tentang siapa yang mereka tertawakan. Gadis itu mencari ke kolong tempat tidur, menengok ke luar jendela, dan memandangi seisi ruangan.
Lee Ji Hyun mencari ke mana-mana. Namun, tidak ada apa pun di sana.
***
“Manse!*” Sejumlah siswa-siswi mengangkat tangan begitu Lee Ji Hyun memasuki area kantin.
Gadis itu mengibaskan rambutnya yang panjang sepinggang dan melangkah percaya diri melewati beberapa meja.
“Panjang umur Ratu Ji Hyun,” gurau salah satu siswa sambil mengangkat sebotol susu pisang tinggi-tinggi.
Lee Ji Hyun meletakkan sebuah ransel ke atas salah satu meja lalu mengedipkan mata. Sebuah isyarat bahwa sesuatu yang keren akan dia lakukan. Beberapa siswa-siswi yang sedari tadi berteriak-teriak menggodanya kemudian datang mengerumuni tas ransel Lee Ji Hyun.
Setelah mengintip ke dalam, beberapa siswi membelalak, sementara para siswa melompat kegirangan.
“Singkirkan semua susu pisang dari hadapanku. Aku akan memberi kalian hadiah ayam goreng dan bir malam ini,” bisiknya.
“Malam ini? Lalu untuk apa botol-botol yang kau selundupkan? Bukankah kita akan menikmatinya sebentar lagi?” Salah seorang siswa mengernyitkan kening, protes.
Lee Ji Hyun menggeleng. “Bagaimana kalian meminta hadiah tanpa bekerja?” Gadis yang dipuja bak ratu itu menyentil dahi siswa yang protes tadi.
“Lagi?” Seorang siswa lain tergelak. “Siapa yang akan jadi korban myunsinrae** berikutnya?”
Semua mata tertuju pada Lee Ji Hyun. Menunggu gadis itu memberi titah.
“Gadis pindahan bernama Kim Su Jin itu. Melihatlah ke belakangku, arah jam dua belas,” kata Lee Ji Hyun dengan kedua tangan bersedekap.
Kepala-kepala dimiringkan, mencari sosok Kim Su Jin. Gadis itu duduk beberapa meter dari punggung Lee Ji Hyun.
“Apa bagusnya? Dia bukan sainganmu. Tidak perlulah kami susah payah membuatnya tidak betah di sekolah ini.” Rupanya para bawahan tidak begitu setuju dengan korban pilihan sang ratu.
Lee Ji Hyun lalu tertawa terbahak-bahak seperti sedang menonton Gag Concert. “Justru itu. Bukankah wajahnya mengganggu pemandangan? Itu saja sudah cukup!”
***
Kim Su Jin tersengal-sengal. Matanya tertutup selembar sapu tangan hitam, begitu juga kaki dan tangannya. Dia berkali-kali tersedak minuman keras yang dicekokkan para seniornya.
“Kau mabuk? Ingin muntah?” tanya seseorang yang tidak dikenali Kim Su Jin. Yang dia tahu, beberapa anak menyeretnya ke gudang peralatan olahraga.
“Bawa dia ke toilet. Dia mungkin perlu minum air.”
Tidak lama kemudian, Kim Su Jin kembali diseret hingga tubuhnya terasa dingin, punggung dan terutama kaki. Sesekali rok sekolahnya tersingkap dan kakinya menabrak benda-benda entah apa. Sesekali pula rambutnya terinjak oleh seseorang yang bertugas menarik tangannya.
Kim Su Jin tidak tahu apa alasan mereka memperlakukannya seburuk itu. Belum juga pertanyaan itu terjawab, kepalanya sudah membentur sebuah benda keras. Kakus, tempat buang air besar. Ingin Kim Su Jin berteriak tetapi tidak ada kekuatan lagi.
Kepala Kim Su Jin dibenamkan ke lubang toilet. Lalu suara tawa berisik menggema ke seluruh kakus itu bersamaan dengan kucuran cairan hangat di atas kepalanya.
Kim Su Jin benar-benar tidak tahu apa alasan mereka memperlakukannya sangat buruk. Sejak hari itu, berkali-kali, hampir setiap hari.
***
Lee Ji Hyun yakin mendengar ada yang tertawa, tetapi dia juga ragu, karena tidak seorang pun pernah menertawakannya. Selama tujuh belas tahun hidupnya.
Dia adalah Lee Ji Hyun. Ratu SMU Cheonan. Mereka akan meneriakkan Manse!, puja-puji bagi sang ratu. Dia boleh suka dan tidak suka kepada siapa pun. Terserah dia. Orang-orang bodoh akan melakukan apa pun demi menjadi temannya. Demi botol-botol bir dan obat-obatan yang dia selundupkan.
Tidak akan ada yang berani menertawakannya karena dia Lee Ji Hyun, putri Ketua Dewan Sekolah. Guru-guru sayang kepadanya. Lee Ji Hyun yakin siapa pun sayang kepadanya. Ah, tidak. Tidak juga. Lee Ji Hyun coba mengingat-ingat sambil melawan suara berisik di telinganya.
Siapa yang tertawa terbahak-bahak? Siapa yang berani menertawakannya? Suara itu makin jelas. Telinganya terasa sakit.
Tunggu dulu. Siapa yang tertawa terbahak-bahak lalu menangis tersedu-sedu? Ada yang menangis. Dia tertawa atau menangis? Lee Ji Hyun kebingungan sampai kemudian nama Kim Su Jin dibisikkan ke telinganya serupa angin.
“Tidak. Tidak ada Kim Su Jin. Siapa dia? Oh, anak baru jelek itu. Aku tidak ada urusan dengannya. Dia sudah mati, mati karena lemah dan bodoh, tidak ada yang menyuruhnya mati. Padahal kepalanya hanya terbentur beton jalan belakang sekolah itu.”
Lee Ji Hyun tertawa terbahak-bahak.
Lamat-lamat, nama Kim Su Jin kembali ditiupkan ke telinganya.
“Kim Su Jin? Dia hidup kembali? Di mana dia?” Lee Ji Hyun mencari ke kolong tempat tidur, menengok ke luar jendela, dan memeriksa seluruh ruangan. “Tidak mungkin!”
Nama itu terus menghantuinya, berkali-kali, setiap hari. Lee Ji Hyun lelah mencari Kim Su Jin. Gadis itu tidak menemukan siapa-siapa di kamarnya. Lalu suara tawa terbahak-bahak kembali menggema dari kejauhan.
Lee Ji Hyun berlari ke balkon, dia yakin di sana ada orang yang sedang menertawakannya. Diterangkannya pendengaran, suara itu sangat dia kenal. Suara itu, suara seorang gadis tertawa terbahak-bahak lalu memanggil Kim Su Jin.
“Kim Su Jin! Di mana kau?”
Lee Ji Hyun kenal suara itu tetapi dia tidak benar-benar kenal suara Kim Su Jin. Dia makin ragu karena dia hanya sering melihat wajah jelek Kim Su Jin yang pantas ditertawakan, dia tidak tahu apakah itu suara Kim Su Jin atau bukan. Mereka tidak pernah saling mengobrol. Lee Ji Hyun lalu menengok ke bawah dari kamarnya di lantai 15. Suara itu makin jelas.
Makin rendah Lee Ji Hyun menundukkan kepalanya, makin jelas pula suara itu di telinganya. Dan suara itu makin terdengar akrab, suara itu… Suaranya sendiri. Sayangnya, begitu dia menyadarinya, semua sudah terlambat.
Lee Ji Hyun melompat jauh ke bawah, mencari siapa yang menertawakannya. Kepalanya membentur beton jalan. Dia pun pergi bersama kenangan tentang Kim Su Jin.
Catatan:
*Manse: Puja-puji untuk raja di Korea Selatan
**Myunsinrae: Perploncoan di zaman Dinasti Joseon
*) Image by istockphoto.com












Menurut pendapat saya setelah membaca cerpen ini, ada beberapa kata yang kurang tepat seperti “melihatlah ke belakangku” menurut saya lebih tepat “melihat ke belakang” beserta awalanya