Pemandangan yang suram. Tidak butuh waktu lama hari untuk jadi gelap. Tapi langkah tak juga ditanggalkan. Saya berpacu dengan waktu agar tidak kemalaman di dalam hutan. Sejak turun dari ojek di pinggir hutan sore tadi, saya terus memelihara semangat agar tak menyerah pada keadaan. Saya sadar berjalan di dalam hutan bukanlah perkara mudah. Kampung yang dituju seperti petunjuk tukang ojeg, berada di seberang hutan ini. Tak ada jalan lain untuk sampai ke tempat itu kecuali menembus hutan, menghabiskan langkah di jalan setapak dalam remang hari.

“Kau tak perlu khawatir sepanjang punya bibir,” ujar ayah ketika tadi berpamitan. Bibir yang dimaksud ayahku itu ‘bisa bicara’ untuk bertanya manakala tersesat. Saya setuju dengan prinsip ayah itu. Siapapun harus berani bertanya. Lebih baik bodo alewoh daripada bodo katotoloyoh. Lebih baik bodo tapi mau bertanya daripada sudah bodoh tidak pula mau bertanya.

Menurut orang-orang yang saya tanya, di pinggiran Cibungur katanya, ada orang pintar yang bisa menyembuhkan segala penyakit. Tak hanya penyakit fisik, tapi juga psikis. Saya dianggap mengidap penyakit yang terakhir itu. Saya sudah tidak muda lagi. Kedua orang tua saya sudah menempuh beragam jalan agar saya cepat menikah. Bukan tak ada perempuan yang mau. Tapi setiap akan menjalin hubungan serius bahkan sudah beberapa kali sedang membicarakan hari pertunangan, seketika hati dirundung ragu, dan merasa saatnya untuk segera mengakhiri hubungan. Selalu saja begitu. Tanpa alasan yang jelas. Entah sudah berapa banyak perempuan dan keluarganya yang dikecewakan.

“Kamu itu sakit. Siapa pun kalau sakit, ya harus mau diobati. Di mana, kepada siapa dan dengan obat apa, tidak akan ada yang mengetahui dengan pasti, karena itu rahasia Tuhan. Tugas kita terus berusaha. Ya, seperti itulah galibnya orang hidup,” ujar kedua orang tua saya. Saya sudah tua sekarang, sudah matang, punya usaha yang baik, dan telah melakukan banyak hal untuk mendekati perempuan. Benar kata ibu kemarin, kalau kau tidak kasihan pada dirimu sendiri, kau harus kasihan paling tidak pada kami dan adikmu.

“Saya tidak tertarik, Ayah.”

“Cinta bisa datang dengan sendirinya. Dulu kami juga tidak saling mencintai, tapi kemudian setelah menikah, hidup bersama, lambat laun cinta itu membersamai,” tukas ibu ingin menguatkan apa yang dikatakan ayah.

“Mau cari yang bagaimana lagi?”

Saya tak menjawab. Beragam upaya untuk menata hati agar mau segera menentukan pilihan, tak juga berhasil. Setiap memasuki fase serius, selalu saja hati ini bimbang, dan akhirnya mencari-cari alasan untuk bisa segera mengakhiri hubungan. Padahal untuk keperluan rumah tangga, hampir tak ada masalah. Saya akan mampu menyediakan biaya untuk resepsi tiga hari tiga malam sekalipun, punya cadangan lebih dari cukup untuk menghidupi istri, dan jika saya harus menyekolahkan anak-anak kelak sampai ke universitas, tidak akan merepotkan orang tua dan sanak saudara. Saya bisa saja memilih wanita manapun yang bisa menawarkan kebahagiaan. Tapi itu tidak mudah saya lakukan. Selalu saja dihantui bimbang pada akhirnya. Tak sedikit pula datang utusan orang tua perempuan, menawarkan anak gadisnya untuk dipinang. Tapi mereka pulang dengan tangan hampa. Penyakit itu ada pada diri saya. Tiap tengah malam saya mandi, pakai kembang ini itu, di beberapa sungai wingit, di bawah curug, hasilnya cuma kedinginan. Seminggu setelah mandi di tujuh curug itu, saya malah sakit, demam gak karuan.

Keputusan ada pada diri saya. Kedua orang tua tampaknya mulai kehabisan akal, dan berjanji tak akan turut campur dalam urusan jodoh saya. Suatu hari saya mengenalkan gadis bertaut 15 tahun usianya. Ayah samasekali tidak komentar. Tidak bertanya anak siapa, orang mana, berapa bersaudara dan lain sebagainya. Barangkali ayah lebih memilih diam daripada harus menanggung malu kalau tiba-tiba saya mundur lagi. Kecuali ibu yang masih komentar, anak itu senyumnya ramah, matanya indah, kelihatannya cocok denganmu, katanya. Tampaknya ibu berharap banyak pada perempuan itu, kecuali Nimas, adikku. Mata elangnya tajam mengamati, seakan bertemu musuh bebuyutan.

Sebelum mendapat kabar di Cibungur ada orang pinter, ada yang datang ke rumah, disuruh bibi saya. Bicaralah dia panjang lebar. Katanya di tubuh saya itu ditanami barang goib, dari perempuan yang pernah saya sakiti. Itulah sebabnya setiap akan menentukan hari pernikahan, ujug-ujug dihantui gamang. Saya percaya saja, namanya juga sedang ikhtiar. Semua saran dia saya lakukan dengan segenap hati, selama tidak melenceng dari aturan agama. Seminggu kemudian saya bertemu perempuan, janda muda. Suami pertamanya meninggal. Katanya bandar jengkol, mobilnya tabrakan. Tidak tahu benar tidaknya. Sekilas perempuan itu tidak sekedar bisa dandan, tapi juga pandai membawa diri, cepat akrab dengan siapapun. Hanya saja ketika muncul perasaan suka, penyakit itu muncul lagi, tetiba saja bimbang mendera.

“Bagaimana kalau dipaksakan? Kali ini tak perlu risau benar dengan suara hatimu itu?” usul ayah. Saya berusaha untuk setuju. Segera ibu bersiap untuk acara lamaran. Dua hari sebelum acara lamaran, datang utusan keluarga janda muda itu, mengaku sebagai pamannya.

“Beribu maaf untuk keluarga di sini. Mamang mendapat tugas dari kakang, orang tua Si Nyai….” Begitu tamu itu membuka omongan. Lalu dia cerita panjang lebar. Ternyata janda muda itu tengah mengandung. Setelah didesak akhirnya perempuan itu mengaku siapa lelaki yang sudah menanamkan benih di rahimnya itu. Marah? Oh, tentu saja tidak. Hati saya malah senang mendengarnya. Hanya ibu setelah kejadian itu selama sepekan jatuh sakit. Sakit hati katanya, percuma sudah menyiapkan segalanya.

Tak terasa langkah saya sudah sampai di tengah hutan. Di bawah remang cahaya bulan, terlihat batu datar. Di atas batu datar itulah saya berhenti. Rasanya lebih baik tidur di sini saja daripada memaksakan diri untuk meneruskan perjalanan. Saya sudah tidak kuasa menahan lelah. Malam berselimut sepi. Samasekali tak terdengar suara binatang malam. Serasa tersirap kekuatan gaib, seketika saya tertidur. Saat tidur itulah mendengar suara laki-laki. Mendengar suaranya saya menaksir tubuh orang itu tinggi besar. Rasa penasaran untuk memastikan tampang lelaki itu terus meronta tapi mata tak mau terbuka.

“Malam serupa ini, dahulu kala, saya mimpi mendekap Nyi Putri. Tapi tidak lama. Sebab tubuh mengajak bangun. Saya tertegun, memerhatikan sekeliling, tak ada Nyi Putri. Rupanya dia sedang tidur bersama suaminya di puncak bukit.”

Dia berhenti bicara. Sebentar saja. Anehnya mata tak juga bisa dibuka, tapi telinga mendengar apapun, juga suara angin di dalam hutan.

“Impian itu menyisakan degup aneh di hati. Hanya mimpi. Tapi mimpi yang meninggalkan bukti. Di puncak bukit terlihat saung. Dari atas atap saung tembus ke dalam hati, membuka gambar kenangan pengalaman yang mengendap. Makin lama gambar kenangan itu makin jelas. Saat itu Nyi Putri dililit ular, lalu dibopong dibawa turun. Lalu balik lagi untuk menyelamatkan Den Bagus. Serupa kilat gambar kenangan itu berubah lagi. Ingat pada kejadian di dalam gua, menggendong Nyi Putri. Terasa kembali ada yang hangat di punggung. Rambut dipermainkan angin, sesekali menutup wajah.”

Diam sesaat. Rasa penasaran semakin membuncah. Apa yang akan diceritakannya lagi, dan apa hubungannya dengan saya?

“Hati semakin merana, sebab dulu tak pernah merasa apa yang dirasakan sekarang,” ucapnya saat mata saya semakin sulit dibuka. “Dulu tak pernah sekalipun merasakan dada bertalu, gugup, setiap dekat dengan Nyi Putri. Sadar diri bahwa saya ini penjaga, lebih memerhatikan keselamatannya. Tapi kenapa sekarang harus berubah pikiran?”

“Jangan-jangan mulai suka.”

“Tidak. Jangan sampai kejadian. Perasaan serupa itu harus segera dipadamkan. Namanya juga penjaga. Mendapat tugas dari Wa Lengser, untuk menjaga keselamatan Nyi Putri dan Den Bagus, jangan sampai celaka. Tapi anehnya setiap dipadamkan, serupa bara, yang meminta untuk dinyalakan kembali. Akhirnya saya tiduran lagi, sekalipun mata tak bisa dipejamkan, gambar kenangan terus menggoda untuk bercerita. Sambil duduk terpaku mencari akal agar jangan sampai dikejar musuh dan perasaan itu harus terus dipadamkan, sampai terbit fajar saya tidak bisa tidur. Seraya menatap matahari saya berjanji, tak akan pernah sekalipun menunjukkan apa yang ada dalam hati. Disaksikan gunung-gunung saya bertekad tak akan pernah melakukan apa yang tersimpan dalam hati. Saya bersumpah lebih baik jadi lutung…”

            Suara itu hilang. Tak berjejak. Malam di dalam hutan kembali ramai dengan berbagai suara. Loklok dan bungaok membuncah. Suara kicau dari kejauhan terdengar menyayat. Suara gemerisik di dalam semak-semak terinjak ular yang lewat, suara dedaunan dipermainkan angin malam, semua terdengar jelas galibnya di dalam hutan. Mata segera bisa terbuka dengan gampang. Sambil duduk di atas batu, pikiran mengembara mencari jawab, tentang suara laki-laki itu.

            Sekira jam lima subuh saya bergegas membelah hutan, terus melangkah tanpa lelah menuju Cibungur. Menjelang Zuhur saya tiba di tujuan. Tak susah mencarinya, sebab orang itu sudah terkenal. Mereka menyebutnya Abah. Rumahnya resik sekalipun berada di tengah kebun bambu.

            “Ini mah sakit dibuat sendiri. Jangan buruk sangka pada siapa pun, menuduh dikirim barang goib. Hati-hati berat akibatnya. Di mana pun sulit sekali menemukan orang yang dituduh jelak mau menerima dengan ikhlas. Justru kebanyakannya marah. Bahaya kalau kemarahan itu terbawa mati,” ujar Abah setelah mempersilakan saya duduk. Saya hanya bengong, belum juga bicara sudah disambut omongan serupa itu. Akhirnya saya hanya mengangguk-angguk persis tekukur.

            “Rasa sayang itu harus benar cara menempatkannya, Jang. Rasa sayang pada orang tua, saudara, jangan tertukar dengan cara saya kepada perempuan lain yang akan jadi pasangan kita.”

            Saya sampai pada kesimpulan merasa untuk tidak bicara, sebab Abah ternyata sudah tahu semuanya. Sambil tak henti merokok, Abah terus bicara.

            “Rakean itu sayang sama Nyi Putri. Tapi pikirannya bisa dikendalikan sebab ada yang jauh lebih penting dari rasa sayang sebagai laki-laki kepada perempuan, yaitu tugas dari Wak Lengser untuk menjaga keselamatan Nyi Putri. Rasa cinta itu dia wujudkan dengan senantiasa menjaga keselamatan putri bungsu Raja Pajajaran itu. Kita juga harus begitu.”

            Saya mengangguk lagi.

            “Pulanglah kalau memang sudah paham,” ujarnya seraya mematikan puntung rokok, menatap tajam seakan sedang membaca hati dan pikiran saya. Aneh juga datang jauh-jauh hanya diberi wejangan serupa itu. Tak diberi obat atau semacam wirid untuk diamalkan.

            “Hidup itu jangan selalu mengandalkan pada obat dan wirid. Cukup menyerahkan bulat hati dan pikiran pada Gusti Alloh. Jangan sok ikut ngatur. Kalau dengan ijin Alloh, rumput yang tumbuh di halaman pun bisa jadi obat untuk sakitnya Nabi Musa.”

            Saya hanya tersenyum. Abah memang pandai membaca pikiran dan hati saya.

            “Permisi saya pulang, Bah.”

            “Heug!”

            Sambil berdiri saya menyodorkan amplop yang sudah disiapkan dari rumah.

            “Kasihkan saja sama orang di jalan, siapa tahu dia lebih butuh.”

            Keluar dari rumah Abah bergegas membelah kebun bambu, sampai di jalan kampung, berjalan ke utara masuk ke dalam hutan, takut kemalaman seperti kemarin. Di sisi hutan melihat nenek-nenek duduk di samping sebongkah kayu bakar. Tanpa pikir panjang, amplop yang sedianya untuk Abah saya berikan padanya.

            “Mau ke mana?” tanya setelah mengucap terima kasih.

            “Ke hutan, Nek.”

            “Sudah sore, tentu akan kemalaman.”

            “Semoga saja tidak. Saya ditunggu tukang ojeg di seberang sana.”

            Nenek itu mengangguk mempersilakan.

            “Jangan nengok ke belakang,” saran nenek-nenek itu terakhir kali.

            Saya meneruskan perjalanan, lebih semangat dari sebelumnya. Rasanya suara azan Asar masih menempel di telinga, tapi anehnya saya sudah berada di seberang sana. Langsung naik ojek yang menunggu menuju terminal.

            Sekira subuh saya sampai ke rumah. Setelah salat rencananya meneruskan tidur, tapi terganggu suara adik mengetuk pintu kamar.

            “Kenapa pergi jauh nggak ngasih tahu Eneng?” gugatnya kesal.

            “Ibu nggak bilang?”

            Nimas menggeleng makin kesal. Matanya mulai sembab.

            “Ayah?”

            Menggeleng makin kencang.

            “Ada urusan penting, Aa nggak sempat bilang sama Neng.”

            “Peluk….” Bilangnya manja. Tak malu dengan seragam putih abu. Saya pegang tangannya diajak keluar dari kamar. Kini saatnya untuk bicara.

            “Peluk….”

            Pelan Nimas saya peluk, kepala bersanda di dada. Tercium wangi sampo.

            “Mau punya teteh nggak?”

            Nimas tak bicara. Dia menatap seakan tak percaya.

            “Siapa? Orang mana? Cantik nggak? Sayang nggak sama Neng? Pintar masak nggak? Sayang nggak sama Aa?” ujarnya serupa mitraliur. Kembali menatap. Tatapannya makin berat. Pelan tangannya ditarik, tapi Nimas menggeleng.

            “Neng sayang sama Aa.”

            “Aa juga sama.”

            “Tapi kenapa kemarin ibu bilang…”

            “Bilang apa?”

            “Jangan terlalu manja sama Aa, biar Aa cepat nikah. Betul?”

            “Tanya aja sama Ibu.”

            “Aa sendiri?”

            “Sayang Aa tak akan berubah sekalipun sudah ada Teteh.”

            “Siapa? Orang mana? Cantik nggak? Sayang nggak sama Neng? Pintar masak nggak? Sayang nggak sama Aa?”

            “Orang Cibungur.” Hanya kata itu yang terpikir.

*) Image by istockphoto.com