KURUNGBUKA.com – (08/06/2024) Yang disampaikan guru kepada murid-murid saat belajar tentang puisi: pilihan diksi atau pilihan kata. Murid-murid yang sering bingung dengan puisi diharapkan agak menunda keputusasaan dengan menyimak penjelasan pilihan kata.

Guru tidak bertele-tele dalam mengajar, cukup mengajak murid-murid mengetahui bahwa kata-kata dalam puisi adalah “istimewa”. Kita menganggap “istimewa” itu tidak seperti kata-kata yang digunakan oleh umum. Kata-kata yang hanya dimiliki orang yang serius melakukan pergumulan dalam bahasa dan makna.

Namun, kita mendapat pernyataan yang berbeda dari Sapardi Djoko Damono setelah mengamati puisi-puisi masa 1970-an: “Sejumlah kata dipungut dari kosakata sehari-hari, yang dalam perkembangan puisi kita sebelumnya tampaknya haram.” Kita yang pernah menjadi murid mengalami kesulitan saat membaca puisi-puisi Amir Hamzah, Sutan Takdir Alisjahbana, Chairil Anwar, Rendra, dan lain-lain.

Di sekolah, belajar puisi berarti belajar yang istimewa, termasuk dalam masalah kata-kata. Murid yang bisa menggunakan kata-kata istimewa mudah dicap guru dan teman: ia akan menjadi pengarang. Istimewa itu bukan kata-kata yang biasa digunakan sehari-sehari.

Sapardi Djoko Damono memahami kesulitan yang sering dialami para penbaca puisi. Kata-kata istimewa dalam puisi memaksa pembaca membuka kamus-kamus. Pada masa sekarang, masalah kamus yang membekali pembaca sudah tidak terlalu merepotkan. Puisi-puisi yang dibaca masih mungkin dinikmati dengan pengalaman bahasa sehari-hari.

Pencarian arti kata-kata makin dimudahkan jika tangan bergawai. Kita masih ingat selama belajar di sekolah bahwa menulis dan membaca puisi mengharuskan punya perbendaharaan kata. Hal itu masih penting.

(Sapardi Djoko Damono, 2014, Bilang Begini, Maksudnya Begitu, Gramedia Pustaka Utama)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<