KURUNGBUKA.com – Abdul Hadi WM berasal dari Madura. Ia meninggalkan Madura dalam misi-misi besar, termasuk bersastra. Sampailah ia di Jogjakarta! Di situ, ia yakin bersastra ketimbang hidup tak keruan. Ia bertemu dan berkumpul dengan orang-orang yang sama-sama sengaja mencebur dalam sastra. Maka, ia menjadi sosok muda yang sangat bergairah dalam sastra, selain sibuk membaca buku-buku filsafat dan berusaha mengerti agama.
Ditulislah puisi-puisi, yang lama-kelamaan menjadi ratusan, dimuat di pelbagai majalah dan koran Buku-buku puisinya pun terbit meski tipis-tipis. Kolektor buku terbitan Balai Pustaka dan Pustaka Jaya pasti mengetahui persembahan Abdul Hadi WM. Ada pula bukunya yang diterbitkan Bentang dan Grasindo. Pokoknya ia seperti memenuhi janji sehidup-semati bareng puisi.
Apakah ia sudah menempuh seribu kilometer untuk berpuisi? Ia berjalan jauh dengan lelah dan capaian. Ia terbukti berjalan di alur akademis. Sosok yang berani kuliah sampai bergelar tinggi, yang diperolehnya di Malaysia. Pada suatu masa, ia bersastra di dua negara sambil mengerjakan tulisan-tulisan ilmiah, yang terbit menjadi buku.
Hal yang membuktikan ketangguhannya adalah esai-esai. Sebenarnya, ia tidak hanya menulis esai-esai sastra atau tasawuf. Ia kadang masuk ke seni rupa. Jadi, Abdul Hadi WM yang kondang itu memang meramalkan diri bakal terkenang dengan tulisan-tulisan. Mengapa ia memberi banyak warisan tulisan?
Kita membaca tulisannya yang dimuat dalam Budaya Jaya edisi November 1975. Esai panjang berjudul “Sajak-Sajak Suasana Hati”. Ia sedang menelusuri puisi-puisi, bukan lagu-lagu asmara yang cengeng. Namun, pilihannya suasana hati? Kita yang tidak pintar dalam sastra mengira suasana hati itu cocoknya untuk lagu-lagu asmara yang berlinangan air mata atau kebahagiaan yang semu.
Penjelasan yang diberikan Abdul Hadi WM: “Suasana hati sebagai keadaan batin selalu berobah-obah dan terhadap setiap perobahan akibat sentuhan realita atau peristiwa yang bermacam-macam menimbulkaan gelombang yang berbeda-beda.” Kita cukup mengerti dengan keinginannya membahasa sajak dan suasana hati.
Sajak itu menggunakan bahasa. Yang diterangkan: “Bahasa sendiri adalah realisasi kemampuan batin dan pikiran manusia untuk menggambarkan, memberi nama, menggolongkan hal-hal dan realitas dalam segala aspeknya dan kemudian menjadi alat penyimpan, komunikasi dan penyusun bentuk-bentuk kehidupan yang kacau.” Keterangan yang bermutu. Kita boleh bingung. Yang pasti Abdul Hadi WH serius memasalahkan bahasa.
Di sastra Indonesia, ia memilih sajak atau puisi gubahan Amir Hamzah, Sanoesi Pane, dan Chairil Anwar untuk berpanjang-panjang menjelaskan suasana hati. Sebelumnya, ia sibuk mengenalkan puisi dari para pujangga dunia yang terkenal. Ia tampak menyenangi sastra dunia ketimbang sastra Indonesia.
Ia mungkin agak suka puisi gubahan Goenawan Mohamad, yang selanjutnya mendapat pembahasan setelah 3 pengarang masa lalu. Yang membuatnya yakin dalam konklusi setelah membaca puisi berjudul “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi” yang ditulis Goenawan Mohamad: “… yang dapat dipastikan ialah Goenawan Mohamad ketika menulis sajaknya pastilah sudah membaca sajak Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Seperti ketika Chairil Anwar menulis sajaknya pastilah sudah membaca sajak Amir Hamzah. Dan, sajak-sajak tersebut merupakan sajak-sajak yang berhasil dalam perbendaharaan sastra Indonesia.” Berulang ia menulis “pasti”. Apakah kita berani meragukannya dan membantahnya?
Esai yang ditulis Abdul Hadi WM jarang dikutip para mahasiswa atau pengamat sastra. Esai yang mungkin biasa-biasa saja dan tidak terlalu penting. Namun, ia telanjur melakukan penelitian dan menuliskannya. Pada bagian akhir, ia memberi hikmah: “….sajak suasana hati yang baik sering menolong kita menunjukkan bentuk-bentuk perasaan dengan mengemukakannya secara dewasa.”
Yang terbaca dalam majalah Budaya Jaya itu warisan yang diberikan Abdul Hadi WM. Kita membacanya tidak serius tapi mengerti bahwa tulisan itu dibuat berbarengan perkembangan isu-isu dalam sastra Indonesia saat presidennya membuat suasan hati jutaan orang tidak keruan. Abdul Hadi WM sekadar memasalahkan sajak, belum sampai mengurusi dampak kekuasaan terhadap suasana hati. Bila kita mau membaca esai sambil membaca puisi-puisi mutakhir, penyebutan “suasana hati” mungkin bisa berlaku. Kita tentu tidak ingin meniru Abdul Hadi WM yang berani menulis dengan “pasti”. Kita memilih jarang “pasti” dan boleh ragu-ragu.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












