KURUNGBUKA.com – Agustus mau berlalu. Namun, kita belum mengetahui kabar adanya peringatan Manifes Kebudajaan. Orang-orang di jagat sastra sedang lesu, sengsara, dan bingung. Situasi aneh dan buruk. Sastra terdampak oleh pelbagai kebijakan penguasa. Sastra belum semaput atau tiarap tapi tampak tidak bergairah saat Indonesia amburadul.
Peringatan untuk Proklamasi dilakukan dengan meriah. Lomba dan upacara diadakan dengan sukacita. Proklamasi bukan untuk tangisan, yang menandakan Indonesia sedang sesak dusta. Bolehkan kita mengingat Proklamasi dengan seliter air mata dan seribu kalimat meratap? Yang tidak gembira untuk mengenang peristiwa 1945 dapat dianggap gagal menjadi manusia Indonesia.
Pada masa yang berbeda, Agustus pernah bermakna sekaligus menegangkan. Kita melihat lagi satu halaman yang tidak terisi penuh. Judul yang dicantumkan Manifes Kebudajaan. Pernyataan itu ditandangani di Jakarta, 17 Agustus 1963. Jadi, orang-orang memperingati Proklamasi dan menentukan sikap terhadap situasi sastra, politik, dan kebudayaan Indonesia.
Di sejarah sastra, Manifes Kebudajaan biasa mendapat pembahasan, yang biasanya dikaitkan dengan Lekra dan rezim Soekarno. Di halaman yang dimuat dalam majalah Sastra, Nomor 9/10, Tahun III, 1963, kita membaca kalimat-kalimat yang menimbulkan dukungan dan perlawanan. Kalimat yang terbaca: “Bagi kami kebudajaan adalah perdjuangan nntuk menjempurnakan kondisi hidup manusia. Kami tidak mengutamakan salah satu sektor kebudajaan diatas sektor kebudajaan jang lain. Setiap sektor berdjuang bersama-sama untuk kebudajaan itu sesuai dengan kodratnja.” Pernyataan yang tidak mudah dipahami jika kita tidak mengetahui gejolak-gejolak masa 1960-an.
Siapa yang membuat kalimat-kalimat dalam Manifes Kebudajaan? Kita belum menjawab dulu. Yang terpenting adalah orang-orang yang bertanda tangan. Kita menemukan orang-orang yang tekun dalam sastra: HB Jassin, Trisno Sumardjo, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Hartojo Andangdjaja, Taufiq Ismail, dan lain-lain. Pada masa 1960-an, beberapa orang itu masih muda dan membara dalam bersastra. Kini, masih ada sosok-sosok yang masih hidup, yang mendapat ketenaran dalam sastra.
Di majalah Sastra, kita juga membaca halaman-halaman “Pendjelasan”. Kita mengutip: “Sebaliknja kami menerima ‘humanisme universil’ apabila dimaksudkan bahwa kebudajaan dan kesenian itu bukanlah semata-mata nasional, tetapi djuga menghajati nilai-nilai universil, bukan semata-mata temporal, tetapi djuga menghajati nilai-nilai eternal.” Yang membaca kalimat-kalimat selanjutnya boleh pusing. Banyak kalimat yang berat sekaligus membingungkan. Apakah itu akibat dari yang memikirkan dan bertanda tangan adalah orang-orang yang “paham” sastra?
Sastra masa 1960-an, sastra yang seru dibahas bila mengaitkan dengan partai politik, Pancasila, Manipol-Usdek, pers, dan lain-lain. Kaum sastra merasakan guncangan dan kerumitan. Namun, mereka terus menggubah teks sastra selain ikut ribut-ribut dalam beragam masalah.
Mereka hidup dalam deru bahasa yang keras. Kita membaca lagi paragraf yang menjelaskan Manifes Kebudajaan: “Menurut kejakinan kami maka masjarakat sosialis Pantjasila jang kami perdjoangkan setjara kulturil-revolusioner itu adalah suatu keharusan sedjarah jang tidak dapat dihindarkan oleh siapapun, tetapi terutama oleh kami sendiri.” Kita masih kesulitan mencernanya. Bayangkan bahasa Indonesia yang berkembang masa 1960-an memiliki keruwetan.
Majalah lama dan kertasnya mau hancur itu dapat menjadi referensi penyusunan sejarah sastra atau kebudayaan di Indonesia. Kita masih beruntung bisa memegang dan melihatnya. Pengalaman membaca masa lalu di kertas memang mengesankan meski ada penyesalan bila akhirnya rusak. Kualitas kertas untuk majalah Sastra itu jelek sekali, tidak bisa melewati seratus tahun.
Majalah belum ditutup, kita membaca di bagian bawah. Keterangan dalam kotak: “Para seniman dan tjendekiawan seluruh Indonesia jang menjetudjui Manifes Kebudajaan harap mengirimkan pernjataan dukungannja ke redaksi Sastra untuk diumumkan setjara berturut-turut dalam madjalah sastra.” Lembaran-lembaran itu akhirnya memicu perdebatan, benci, dendan, kesewa, tobat, penyesalan, dan lain-lain.
Adanya pemuatan lembaran Manifes Kebudajaan itu segera mendapat sebutan mengandung ejekan oleh lawan: “Manikebu”. Yang masih suka membaca sejarah, yang memuat masalah sastra dan kebudayaan, Manifes Kebudajaan itu penting meski tak berada di arus setelah “polemik kebudayaan”, yang bermula pada masa 1930-an. Kita sekadar membaca majalah Sastra dan menemukan Manifes Kebudajaan tanpa ada keinginan memahaminya secara kritis atau serius.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












