NYANYIAN KOTA MEDAN
dini hari
warga Medan bersedih hati
“telah tiada pagar rumah awak ini!”
nyanyi mereka temani hati
lanjut jalan kerjapun himpit
di simpang-simpang kota resah
gaskan awak sedikit,
maulah klakson orang itu berderit
bergerak menyipi sempit
sodako yang selalu dioto
nyanyian kita bagaikan berkah.
Medan, 2025
***
GURU KATAKU
apa jawabmu nak?
_______guru kataku wak
ah, tak kayalah kau!
_______memang harus begitu?
ya begitu harus!
_______tapi wak mamakku kayanya
_______apa ditanya selalu ada
jadi mengapa guru?
suruh dulu mamakmu.
belikkan ladang. capek, suruh orang
_______sebab wak, mamakku tak merdeka
_______kerja tak bisa dipilihnya
_______bapak tak bisa ditolaknya
_______meski bapak tak ada untuknya
_______tak bisa dia buat apa
bah! tapi yang kayanya dia
mengapa tak dilaporkannya
_______itulah wak yang tak ada isi kepalanya
_______kerja berpeluh entah dimana
_______malam tak ada dianya
_______ditanya mengapa
_______sebab aku bodoh katanya
_______________taklah ku dengar cakap guruku
_______________sekarang tak kemana-mana aku
_______________macam dijajah belanda
dibodoh-bodohi bisa.
Medan, 2022
***
DI KAMPUNG AWAK
banyak orang mati di jalan lurus
sebab takkanlah itujalan mulus
selayaknya syair bapak-bapak Melayu
utamanya pada balada cinta yang ia ramu
“ingatmu ia selalu tulus
namun berakhiran luka serius
akhiran cinta kian layu tergerus.”
macamnya awak di belantara kota,
sejujur hati mengikut arus
badan malah kurus tak terurus
macamnya awak mati di jalan lurus.
Medan, 2025
*) Image by istockphoto.com
















