KURUNGBUKA.com – Di sepanjang perjalanan, Minli mengalami banyak perjumpaan. Artinya, Minli bukan tokoh sendirian dalam novel Where the Mountain Meets the Moon (2010) gubahan Grace Lin. Di setiap tempat yang dikunjungi, Minli mengusahakan dirinya bisa bergaul dan mencipta hubungan yang baik. Bahasa dan sikap yang membuatnya dapat diterima dan mendapatkan kebaikan-kebaikan.
Yang terpenting tentu keselamatan. Minli selalu selamat. Yang membuat selamat bukan dirinya sendiri. Ada pihak-pihak yang menyayangi dan mengasihi. Pada suatu hari, Minli diberi nasihat: “Kau gadis pemberani, Minli, sigap dan cerdas. Namun, kau sudah terlalu lama meninggalkan rumah. pulanglah secepatnya.” Minli sepenuhnya mengerti. Ia berjanji kembali, berjalan untuk pulang setelah semuanya tercapai.
Minli menuju gunung. Pengarang mengisahkan: “Minli tidak bisa melihat puncak maupun kaki gunung itu, yang tampak seolah-olah tumbuh dari jurang yang sangat dalam sehingga dasarnya tentu ada di lapisan dalam bumi.” Yang sedang diceritakan adalah Gunung Tak Berujung. Minli dalam pengembaraannya seperti belajar ilmu bumi.
Kehadiran di tempat yang membuat Minli tidak seutuhnya mengerti misteri dan hal-hal yang tersingkap. “Minli merasa seperti berada di tepi dunia,” tulis Grace Lin. Pembaca diajak terkesima: “Gunung itu berdiri di hadapan mereka bagaikan sebongkah zamrud mentah raksasa yang menjulang menembus langit dan menghilang ke bali mega keperakan.” Minli berada dalam pengalaman yang tidak mungkin tertulis dalam pelajaran ilmu bumi.
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












