KURUNGBUKA.com – Hidup di desa, hidup yang mudah merana. Namun, kita tidak harus percaya bahwa desa bertakdir merana. Kita perlahan-lahan mengenali desa dan manusianya melalui bocah yang mengubah nasib dengan cerita dan perjalanan panjang. Bocah yang tidak berniat berkhotbah tapi dirinya menyadarkan para pembaca.
Nama bocah perempuan itu Minli, yang tinggal dalam keluarga miskin. Alamat hidupnya di desa, yang terlihat di peta Tiongkok: sulit bahagia dan makmur. Bocah itu dikenalkan Grace Lin dalam novel berjudul Where the Mountain Meets the Moon (2010). Perkenalan: “Minli tidak cokelat dan suram seperti segala sesuatu di desa itu.” Kita membayangkan desa yang mungkin kehilangan daya hidup. Desa yang dihuni orang-orang tabah meski tak ada janji sejahtera.
Minli mengerti dirinya hidup dalam keluarga miskin, yang rumahnya kecil dan jauh dari indah. Yang membuatnya tabah dan menjadi “terang” bagi kemeranaan desa adalah tingkah, rambut, dan senyum. Di rumah, ia mendapat pengasuhan yang istimewa meski orangtua diharuskan bekerja keras tanpa dapat memenuhi kebutuhan pokok yang sepantasnya.
“Penyebab Minli tidak kelihatan cokelat dan suram seperti segala sesuatu yang ada di desanya adalah kisah-kisah yang dituturkan oleh ayahnya,” tulis Grace Lin. Ayah yang tidak hanya bertanggung jawab dalam penyediaan pangan dan sandang. Ia menjadi pencerita saat makan malam. Minli yang menikmati dan tergoda melakukan petualangan. Ayah yang letih tapi tak jemu memberi cerita-cerita.
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<
















