Lorong Abed
Bintang berjalan ngambang,
pasir pantai melayang,
wangi dari gelap yang panjang.
Abed, terjaga
Duduk memandangi kota yang hampir tenggelam.
Mengingat masa kecil dan rindu pertama.
Benarkah cinta berkeringat dan tak pernah ingkar janji?
Kita menjadi bunyi, jauh dari pelabuhan dan pusat perbelanjaan.
Bulan sabit. Asin udara. Kata-kata tak berguna.
Abed, terjaga
Dan kita telah bersalin. Berubah kosakata serta tanda baca.
Juga bukan siapa-siapa.
Tirto, Mei 2024
***
Kuil di Atas Bukit
Masih kuingat benar cinta belum genap setahun. Begitu kuat menguras tubuhku. Mengulur-
ulur perasaan hingga jauh, mendekati langit dan ujung laut. Berjalan tanpa alas. Hilang.
Menaiki awang-awang.
Aku pernah hening. Berkali pergi berkala jumpa. Di sana telah lama kosong. Dewa-dewi
sembunyi di balik uang dan kerlap kerlip kota.
Aroma dupa. Patung yang bukan Patung, lonceng langit berdentang. Mencari Tuhan yang
bukan Tuhan. Wajah awan, mata lautan dan punggung bukit-bukit.
Semua menyerah. Semua berserah. Menjadilah aku. Disetiap sisi paling jahanam.
Penang-Bogor 2023-2024
***
Riwayat Dua Pejalan
Pergilah pada hari baik, ketika anak-anak manusia lupa dirinya. Lupa menuai keinginan dan
semakin menggila.
Kau dan dia bersandar di sebatang pohon. Merawat tanda menempel di kulit wajah. Debu-
debu tertawa seperti remaja dirundung cinta pertama.
Matamu dan matanya bengkak dimanjakan malam. Berdua melangkah ke arah kabut. Melepas semua pakaian, melipat-lipat kebrengsekan masa lalu.
Beginilah jalan tak berbatas. Seperti kuburan di kampung halaman. Semua akan berdiam di
dalam sana.
Bogor, Juni 2024
***
Di Kebun Raya
Ratusan abad merambat, gugur berdaun-daun. Serangga mengelupas menjadi pelangi kota.
Berpasang muda remaja menciumi rumput. Berburu kehangatan dan rahasia. Segenggam
prasasti berlumut ditelan udara. Akar-akar mengeras, menindih sejarah yang limbung di mata
setiap penguasa.
Gerimis warna biru berjatuhan, menggigit pertemuan dan perpisahan. Gadis-gadis bersepeda,
bercanda begitu riangnya. Tubuhnya hijau daun, matanya matahari sore.
Semua tercatat di atas tanah, rapih sekali. Serapih ingatanku tentang sepasang tangan
bergandengan. Tanpa kemudian.
Bogor-Jogja 2024
***
Ma..
: Pat Boonnitipat
cahaya itu bukan dari surga tapi dari rumah terjual. berdandanlah agar dunia hadir
dipangkuanmu. memeluk dan menciumimu.
ma..
sedih dan bahagia diciptakan setiap hari untuk menghibur para penguasa. seorang lelaki kecil
datang padamu, ia membawa hati warna abu. berbulan menata ingatan dan menganyam napas
panjang.
ma..
wajah itu, kulit keriput itu, tubuh itu, kaki dan kuku-kuku itu. bicara berkilo kilo. menatap
bertatap-tatap. satu satu rambut perak berlepasan, tak mengenal musim.
ma..
siapa paling kau sayangi? untuk menemanimu memahat diam dan kemarau. lelaki kecilmu
ma, mengantarmu. lalu bunga-bunga itu..
hinggap di tangkai tanah.
Jakarta-Surakarta, Juni 2024
*) Image by istockphoto.com












