Kepada Al-Hallaj

Di ujung debu,
tubuhmu masih hangat.

Angin menyibak sisa jubahmu,
menyeret aroma daging
yang belum sepenuhnya padam.

Langit menunduk pelan,
seperti menyesap uap darah
yang mengandung nama.

Satu huruf jatuh
dari lidahmu,
bergetar di antara
bara dan napas.

Di pasar,
suara-suara menimbang iman
dengan timbangan yang berkarat.

Anak-anak memungut abu,
menyimpannya di saku
sebagai jimat
dari api yang pernah bernyanyi.

Malam itu,
waktu berhenti
menggulung bayangan.

Aku melihat wajahmu
menyala di cermin air,
menjadi sumbu
yang tetap menyala
di kegelapan Tuhan.

Dan dari jauh—
aku mendengar suaramu,
retak dan ringan:

“Yang terbakar adalah dingin
yang ingin menjadi terang.”

2025

***

Penunggu

Kau datang dari kabut,
Membawa basah yang asing —

Lalu duduk di tepi waktu,
Antara riak
Dan sisa cahaya yang menolak padam.

Aku tak memanggilmu,
Tapi udara tiba-tiba menjadi lebih berat,
Seakan tubuhku ingat
Pada sesuatu yang pernah hangus.

Kita saling pandang tanpa nama —
Kulitmu dingin,
Matamu memantulkan sisa ombak
Yang gagal pulang
Ke lautnya sendiri.

Kau menyentuh nadi di pergelanganku,
Seakan membaca petunjuk cacat
Yang telah lama dilupakan,
Dan berbisik:
Di bawah batu-batu,
Waktu juga bernafas.

Aku percaya —
Sebab malam tak lagi hitam,
Melainkan hangat
Seperti dada yang baru ditinggalkan.

Kita terdiam,
Menunggu detik pertama
Saling lenyap.

Jika esok hujan turun,
Biarlah kita larut
Jadi tanah —

Agar akar-akar dapat saling mengenal
Tanpa perlu tubuh.

Sebab yang sejati
Tak butuh kata,

Hanya getar kecil
Di antara dua diam —

Yang terus mengingat
Satu sama lain,
Walau telah menjadi debu.

2025

***

Selatan

Langit memerah,
Seseorang menutup jendela
Dengan pelan.

Kopi tumpah di meja.
Udara basah.
Tak ada yang benar-benar
Menunggu.

Di pojok ruangan,
Kipas bergoyang,
Menyisir rambut
Yang tak ada.

Di luar,
Suara peluit.
Sepasang sendal
Tertinggal
Di depan warung.

Seseorang bertanya,
“Kau masih di sini?”

Tapi suara itu
Untuk siapa?

Jari-jari
Menyentuh roti hangat,
Lalu diam.
Suhu tubuh
Berubah.

Aku melihat bayangan
Lewat di kaca lemari,
Tapi tidak memanggil.
Tak ada
Yang dipanggil.

Hanya seorang anak,
Menulis angka
Di uap jendela.

Sementara waktu
Bergerak.
Atau
Mungkin tidak.

2025

*) Image by istockphoto.com