KURUNGBUKA.com, SERANG – Komunitas literasi Rumah Dunia kembali menghadirkan gelaran Panggung Sastra pada Minggu (30/11/2025) dengan menggelar bedah novel Andra: Bulan Sabit dan Rosario karya Qizink La Aziva. Acara yang berlangsung di halaman Rumah Dunia ini dihadiri peserta kelas menulis, mahasiswa, siswa SMA dari berbagai daerah, penulis, relawan, serta wartawan. Hujan yang turun sepanjang acara justru menambah suasana syahdu dalam diskusi yang mengalir hangat.

Novel Andra terbit melalui jalur mandiri. Qizink menanggung seluruh biaya cetak, editing, hingga distribusi. Ia menegaskan bahwa kesamaan judul novelnya dengan nama Gubernur Banten saat ini hanyalah kebetulan belaka.

“Judul ini murni pilihan cerita, bukan karena ingin menyinggung siapa pun. Kebetulan saja mirip. Saya menerbitkan dan membiayai semuanya sendiri,” ujar Qizink menjawab rasa penasaran para peserta.

Qizink menjelaskan bahwa benih cerita Andra berasal dari keresahannya melihat kondisi sosial Banten yang masih bergulat dengan budaya korupsi, diskriminasi terhadap minoritas, serta pengalaman pribadinya saat kuliah.

“Di beberapa daerah di Banten masih belum ada gereja atau rumah ibadah minoritas. Itu fakta sosial yang saya lihat sendiri,” katanya.

“Sebagian cerita juga terinspirasi dari pengalaman saya yang pernah dekat dengan seseorang yang berbeda agama. Ada luka, ada pergulatan, dan saya memasukkannya sebagai energi kreativitas,” tambahnya.

Penulis dan akademisi, Firman Venayaksa, yang turut hadir memberikan perspektif menarik terkait kemiripan nama tokoh dalam novel dengan pejabat yang tengah menjabat.

“Dalam perspektif sosiologi sastra, pembaca akan selalu menautkan teks pada konteks sosialnya. Meski isi cerita berbeda, kesamaan nama tetap menghadirkan tafsir tersendiri di masyarakat. Dan sebagai jurnalis, Qizink menuliskan realitas sosial ke dalam bentuk karya fiksi adalah cara sederhana untuk memberi tahu kondisi sosial kepada masyarakat awam. Saya turut mengapresiasi karya terbarunya ini, selamat!” ucap Firman.

Ia menilai kondisi itu justru membuka ruang interpretasi luas dan memperkaya dinamika penerimaan karya di tengah publik.

Sebagai pembedah, Nita Andriani dari Gusdurian Banten menyoroti tema toleransi yang kuat dalam novel Andra. Ia merasa karakter-karakter dalam novel merefleksikan pengalaman nyata di lingkungan sosialnya.

“Saya diminta Mang Qizink untuk bicara soal toleransi karena saya mengalaminya langsung. Di banyak tempat, orang yang berbeda agama masih dibully dan dijauhi. Di Gusdurian saya belajar memanusiakan manusia, bukan melihat agamanya apa,” kata Nita.

Menurutnya, novel Andra menghadirkan gambaran jujur tentang relasi antaragama, prasangka, serta bagaimana masyarakat memandang perbedaan.

Acara juga menghadirkan Encep Abdullah, penerbit dan pendamping proses kreatif Qizink. Ia berbagi kisah bagaimana naskah Andra awalnya hanya ingin dicetak 50 eksemplar untuk hadiah acara, sebelum kemudian menarik perhatian luas.

Encep menyampaikan bahwa Qizink adalah sosok penulis yang tekun, penuh deskripsi, dan kaya imajinasi.

“Saya sempat membaca ulang naskah ini, dan saya geleng-geleng melihat kemampuan Mang Qizink bernapas panjang saat mendeskripsikan adegan. Detailnya hidup sekali,” ungkapnya.

Diskusi berlangsung akrab, diselingi tawa dan obrolan reflektif tentang proses kreatif, situasi sosial Banten, hingga tantangan menulis isu sensitif secara sastrawi.

Meski hujan turun sepanjang acara, para peserta tetap bertahan hingga selesai. Suasana teduh dan basah justru membuat forum terasa intim, menghangatkan percakapan tentang keberanian bersuara melalui karya sekaligus memotivasi para hadirin untuk menuliskan keresahannya.

Acara ditutup dengan foto bersama, penyerahan buku kepada peserta, serta harapan agar literasi Banten terus tumbuh melalui karya-karya kritis dan humanis seperti Andra. (rls/dhe)