KURUNGBUKA.com – Yang teringat jika membahas TIM: Ali Sadikin. Sosok yang pernah berkuasa di Jakarta dengan pelbagai gebrakan. Ia memuliakan seni atau kebudayaan. Maka, berdirilah Taman Ismail Marzuki, yang orang biasa menyebut TIM. Pada masa yang berbeda, orang-orang berlagak bingung dan menggugat: “Mengapa penamaannya Ismail Marzuki? “Di Indonesia, Ismail Marzuki menggubah banyak lagu yang mengisahkan Indonesia, tidak lupa asmara.

Yang mengikuti sejarah dan perkembangan TIM berarti mengetahui DKJ. Singkatan yang mudah dimengerti kalangan seniman, budayawan, dan intelektual. Bagi masyarakat yang jauh dari Jakarta, singkatan itu aneh. Kita memang terbiasa tidak mengucap lengkap. DKJ itu Dewan Kesenian Jakarta. Mengapa pendirian dewan itu berlanjut ke pelbagai kota dengan adanya dewan-dewan, yang bukan memgurusi politik tapi seni dan kebudayaan?

Kita mengenal nama penting dalam sejarah DKJ: Trisno Sumardjo. Di babak awal DKJ, ia menjadi tokoh yang tangguh dan menentukan arah. Pada saat masih muda, ia bertaruh dalam seni di Solo. Tokoh yang berjejak di Solo tapi moncer dan berpengaruh di Jakarta. Kita mulai percaya dan membenarkan bahwa bila ingin besar beradalah di Jakarta. Gagasan itulah yang menimbulkan pengertian: Jakarta adalah pusat segalanya.

Para peminat sastra terjemahan kemungkinan mengenal Trisno Sumardjo. Siapa pernah membaca novel gubahan Boris Pasternak edisi terjemahan bahasa Indonesia? Yang menerjemahkan adalah Trisno Sumardjo. Novel mentereng itu diterbitkan Djambatan. Siapa membaca Hamlet diterbitkan Pustaka Jaya? Trisno Sumardjo yang membuatnya enak terbaca untuk orang-orang berbahasa Indonesia.

Ia memang penting dalam penerjemahan sastra di Indonesia. Padahal, ia pun menulis cerita-cerita. Yang tidak ketinggalan, Trisno Sumardjo rajin menulis puisi. Artinya, sosok yang bisa menghasilkan beragam tulisan. Trisno Sumardjo juga terbukti sakti dalam pengelolaan terbitan dan lembaga.

Kita mengingatnya melalui puisi. Di majalah Zenith edisi September 1952, ia menggubah Sjair-Sjair Ketjil Tentang Hidup. Judul yang sangat jelek. Ia masih melanggengkan”sjair”, belum sombong mencantumkan “puisi” atau “sajak”. Yang mengetahui “sjair” mungkin ingin meledeknya. Pada masa 1950-an, mengapa masih “sjair”, bukan memilih di titian puisi modern, yang banyak terpengaruh Barat?

Trisno Sumardjo menulis: Kerdja sehabis tenaga dan sisanja untuk tjinta/ Anak terlahir antara letih dan tak sengadja/ Diapun tumbuh, mengulang riwajat ibu dan bapa/ Diapun hidup dan tak tahu hidup jang sebenarnja. Ia menulisnya di Jakarta. Kita berimajinasi kota yang tidak mudah ditaklukkan oleh orang miskin. Maka, yang ditulis adalah penciptaan keluarga yang belum beruntung di kota besar. Keluarga yang mungkin hanya tragedi.

Yang ditulis Trisno Sumardjo adalah renungan yang sepele dan berulang berlatar kota-kota di Indonesia. Pada masa 1950-an, ia berada di Jakarta, paham dengan apes dan petaka hidup. Maka, kita melanjutkan membaca getir: Orang tua berkata: “Djadilah bidjaksana/ Hindari kedjahatan, tjarilah keselamatan/ Si anak berpikir: “Dia melarat bikin aku tjelaka!”/ Maka larilah ia mengedjar kekajaan. Di Jakarta, orang atau keluarga wajib bertahan hidup. Yang tidak betah miskin bisa mencapai impian agar terhindar dari sekarat dan terhina sepanjang masa. Kaya itu impian muluk, boleh saja absolut.

Apakah ia cuma mengisahkan yang terjadi di Jakarta? Manusia di kota bisa payah dan kalah. Trisno Sumardjo menulis “sjair” di Jakarta, 23 Desember 1951. Kota Jakarta yang sudah ramai tapi tidak sesumpek seperti sekarang. Jakarta yang biasa diimpikan dan dikutuk. Kota untuk pembentukan dan kehancuran keluarga, dari masa ke masa.

Trisno Sumardjo melanjutkan: Baji lahir menangis, anak dara meratapkan asmara/ Istri dimadu tak terbudjuk air matanja/ Djanda tua meringkuk tak berdaja, tak berharga/ Baru dimakamlah djenazah tertawa. Kita yang membaca tidak ingin tertawa tapi berduka. Di Jakarta, hidup itu sangat berat. Hidup yang sewajarnya mustahil terwujud. Hidup yang amburadul mudah terjadi dengan segala sebab dan kondisi.

Kita yang membaca Sjair-Sjair Ketjil Tentang Hidup merasa mendapat kabar buruk dari Jakarta. Bayangkan bila tulisan itu berwujud berita atau artikel saja, kita akan membacanya tanpa terjebak sedih. Trisno Sumardjo seperti belum mahir berpuisi tapi tergoada memberi kepada pembaca mengenai hal-hal besar. Maka, di sejarah dan perkembangan sastra Indonesia, Trisno Sumardjo adalah nama yang harus dicantumkan di kolom puisi. Ia telah membuktikannya meski jarang mendapat perhatian dan pujian.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<