KURUNGBUKA.com – Anak-anak kadang mengejutkan dengan pilihan atas tubuhnya. Konon, anak-anak suka bergerak, yang mengakibatkan mereka tidak mau diam atau tidur siang. Yang dibutuhkannya adalah bermain. Kita membayangkan bermain itu menggerakkan tubuh, yang menimbulkan senang dan seru. Gerak badan itu bisa sendirian atau bersama teman-teman.
Semangat dalam lakon hidup sehari-hari ditampilkan melalui gerakan-gerakan. Namun, anak-anak bisa dilanda malas. Ada anak yang tidak ingin melakukan banyak peristiwa. Yang diperlukan adalah diam, bermalas-malas, atau tidur. Badan memang tidak selamanya harus bergerak menimbulkan capek.
Yang terjadi pada Peter berbeda. Bocah dalam novel berjudul The Magician’s Elephant (2009) gubahan Kate DiCamilo itu muak dengan perintah lelaki tua yang mengasuhanya. Hampir setiap hari, Peter diminta latihan berbaris yang menjadi dasar tentara tangguh. Peter mula-mula melakukan secara terpaksa. Ia tidak mau jadi tentara. Artinya, latihan berbaris yang menggerakkan badan sampai lelah itu bukan keharusan.
Peter merasakan: “Peter mendesah. Hatinya terasa sangat berat sehingga ia, sebenaranya, merasa tidak ingin bergerak sama sekali.” Tubuhnya dalam perintah orang lain. Peter yang tidak sepenuhnya mampu mengendalikan tubuhnya. Ia mengerti posisinya sebagai anak yang belum dapat mengambil keputusan sendiri seperti orang dewasa.
Ia tidak pernah mau menjadi tentara. Yang masih sulit adalah “menguasai” tubuhnya sendiri. Peter menyadari dirinya masih anak, belum perlu terobsesi sebagai manusia dewasa yang “mendisiplinkan” tubuh berdasarkan kaidah-kiadah ketentaraan. Kita memahami bahwa Peter menginginkan tubuhnya tidak dalam peristiwa yang memuakkan dan sia-sia.
*) Image by Books and Collection
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<











