“Musim dingin tiba, berbarengan malam panjang dan hawa yang menggigil. Aku masih ingat, para pemuda biasanya bertemu di sini selama musim dingin – bagian dari tahun akademisnya – meki hanya untuk sesaat. Tanpa mereka semua, aku rasa, kafe ini tidak bisa bertahan. Orang-orang yang tersisa sekarang hanyalah para orang tua yang semuanya benar-benar telah melupakan pelanggan lain yang berada di penjara. Itulah mereka, ingin mengabaikan teror dan politik dengan mengubur diri ke dalam ketakutan mereka sendiri. Bagi mereka, tampaknya, pekerjaan yang tersisa hanyalah duduk melingkar sembari menunggu datangnya ajal, menyesali berlalunya saat-saat kejayaan di masa lalu, sekaligus bertukar resep guna menunda kematian.”

(Najib Mahfudz, Karnak Kafe, Alvabet, 2008)

Di biografi para tokoh (filosof, pengarang, atau pelukis), kafe-kafe di pelbagai kota (Eropa) turut menentukan gairah dalam seni dan pengetahuan. Di situ, mereka berkumpul untuk mengumbar omongan, yang biasanya diselingi makian dan tertawa. Pemandangan yang lumrah adalah merokok. Kita mengimajinasikan manusia-manusia dalam kafe sedang mencipta dunia berulang-ulang.

Di pelbagai negara, kafe atau kedai pun menjadi bab bagi pembentukan biografi dan penyusunan sejarah. Najib Mahfudz biasa berkunjung ke kafe. Duduk dalam waktu lama. Konon, peristiwa itu bagian dari caranya bersastra sekaligus mengetahui gejolak-gejolak kehidupan di Mesir. Di kafe, ia menyadari terjadi beragam pembicaraan: serius dan remeh. Politik adalah tema yang sangat sulit diabsenkan.

Jadi, hadir di kafe sebenarnya bersedia dalam bisikan dan ocehan mengenai politik. Pilihan tempat duduk dan posisi telinga kadang mengurangi dan menghindarkan dampak omongan politik.

Di novel yang berjudul Karnak Kafe, pengarang menetapkan bahwa kafe menjadi ruang (omongan) politik. Kita kadang menyebutnya ruang berpolitik. Di kafe-kafe, kaum muda (mahasiswa) atau orang-orang yang melek politik lumrah mengadakan diskusi sengit. Di situ, mereka mampu merancang revolusi. Kafe dalam arus politik menimbulkan akibat-akibat.

Kafe mungkin diusahakan menjadi ruang yang melawan ruang-ruang kekuasaan. Artinya, yang berada dan terlibat omongan politik di kafe menyatakan sikapnya atas kekuasaan yang dihasilkan dari ruang-ruang dihuni kaum elite dan ruang-ruang publik yang dicaplok demi ketertiban. Kafe masih memiliki kelonggaran bagi yang serius dalam menyikapi politik. Maka, kafe-kafe mendapatkan pengawasan, yang mengartikan perwujudan control dan tertib. Di kafe-kafe yang “istimewa”, politik masih bisa diperkarakan sambil bergurau dan meratapi penderitaan.

Perbedaan ditulis oleh pengarang. Yang datang ke kafe adalah kaum muda dan kaum tua. Situasi negara yang bergolak memicu kaum muda mengunjungi kafe dengan misi penentuan sikap. Mereka memang memesan minum dan menikmatinya tapi pamrih bertemu dan berkumpul di kafe adalah agenda menanggapi politik. Yang tampak adalah kaum muda yang dibayang-bayangi revolusi dan mahir bicara meski menyadari dampak-dampak yang terburuk.

Gairah perlawanan mereka berbeda dengan kaum tua. Yang rutin hadir di kafe sekadar ingin sedikit mencecap bahagia ketimbang murung dan sepi. Kaum tua itu bertemu seperti pemenuhan janji sebelum segalanya selesai. Bersama menciptakan sejenis “mufakat” bahwa sisa-sisa hari jangan yang terburuk seperti ulah kaum berpolitik atau melawan kekuasaan. Mereka mengetahui capaian dan penderitaan kaum muda akibat politik. Kafe menjadi ruang kesaksian.

Kafe menjadi bagian dari risiko menyikapi politik. Yang biasanya datang dan mengobrol kadang absen gara-gara bersembunyi atau masuk penjara. Kaum muda yang menghubungkan dirinya dengan kafe dapat terputus gara-gara gejolak politik. Bagi kaum tua, yang masih rajin ke kafe menyadari detik-detik menunggu kematian. Di kafe, mereka sedang menginsafi waktu dalam percakapan dan tatapan bersifat epilog.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<