“Ketika melihat seseorang, aku akan segera berlari menjauh atau berjalan selangkah mendahuluinya. Aku tidak melakukannya secara sadar atau karena ingin melanggar batas belaka, melainkan karena gegabah. Setiap kali melanggar batas, aku terjatuh ke lubang kecemasan. Aku tahu, aku selalu gagal bergerak sesuai batasan sehingga sebisa mungkin mendekam di rumah saja.”

(Adania Shibli, Detail Kecil, Bentang, 2024)

KURUNGBUKA.com – Tokoh yang memikirkan dirinya dalam kepatutan dan pelanggaran. Ia berusaha mengetahui batas-batas yang dibuat orang dalam lakon hidup bersama. Batas-batas itu kadang dinamakan kesopanan tapi tanpa keterangan yang memadai. Ia hanya mengerti sedikit saat menempatkan dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Yang terjadi, ia jarang berpatokan batas-batas yang dimiliki banyak orang.

Apakah yang diperlukan adalah kepatuhan? Orang-orang yang mengakui batas dan bertenggangrasa mungkin sedikit memberi “pengampunan” ketimbang terjadinya kesalahan-kesalahan yang dicucul kecaman atau mempermalukan.

Di novel berjudul Detail Kecil, tokoh itu memilih duduk di dekat jendela. Matanya bisa melihat siapa saja dan apa saja. Ia yang duduk tapi merasa “menggerakkan” pikiran dan perasaan ke pelbagai arah. Maka, yang dilihatnya tetap bisa dimengerti tanpa ia berdekatan orang dan benda. Keberadaannya di dalam rumah membuatnya tenteram. Ia masih memiliki dunia. Dirinya terhubung dengan yang lewat dan yang terlihat melalui jendela.

Yang menyulitkan dalam hidup memang membuat keselarasan batas-batas yang dimiliki saat hadir bersama. Sekian orang menentukan sikap dan menuatkan dirinya tapi rikuh bila gagal menyesuaikan batas-batas. Yang menyadarinya akan lekas melakukan ralat-ralat. Namun, yang terbiasa atau telanjur “melanggar” mendapatkan hukuman-hukuman.

Pembaca membayangkan sosok bereda di dekat jendela. Ia memiliki batas dengan dunia yang sedang dilihat atau “dikuasainya”. Ia memiliki otoritas, yang menjadikan cara dan pamrih melihatnya memungkinkan “kepuasan”, selain sungkan dan bingung. Jendela yang menghubungkan “dalam” dan “luar”. Apakah jendela memastikannya masih memiliki kehidupan bersama yang lain?

Pada saat ia meninggalkan rumah, perselisihan nilai terjadi dalam adegan-adegan yang sederhana atau penting. Akhirnya, ia bersama orang lain, yang dikenali atau asing. Adegan berjalan saja menimbulkan pilihan bersikap yang jarang elegan. Ia tidak terlindungi lagi saat berada dalam rumah. Sosok yang berjalan tanpa jendela. Yang ada adalah tubuhnya. Adegan sekian detik dan menit memaksanya mengambil keputusan yang cepat.

Yang diakuinya adalah gegabah. Akibatnya, ia melanggar batas-batas. Kita yang berusaha mengikuti geraknya ikut merasakan keanehan. Bertemunya orang-orang tanpa sengaja menimbulkan gejolak yang tidak mudah diredam. Artinya, tokoh itu malah merasakan yang bermasalah bila dirinya bersama yang lain. Padahal, peristiwanya adalah orang-orang yang berjalan. Ia sulit menjadi “bagian” atau “bertaut” dengan ketetapan kesopanan dan kepantasan. Yang terjadi, ia gegabah dan merasa salah.

Jalan itu tempat pertunjukkan diri, yang membebaskan sekaligus menekan. Bagi yang tenang dan menganggapnya biasa, berjalan bersama orang lain bukan kesulitan. Rasa menghormati mewujudkan pemenuhan hak orang lain ketimbang menimbulkan gangguan-gangguan mencurigakan. Yang muncul bisa kesalahan, yang buruk lagi adalah kejahatan. Namun, kita semestinya berpikir bahwa tokoh itu berjalan di tempat yang dibentuk oleh konflik-konflik. Kita mengikuti cerita berkaitan konflik Israel-Palestina. Jadi, jalan yang terimajinasi berbeda dari jalan-jalan di pelbagai kota yang tanpa perang dan sengketa.

Pilihan yang menenteramkan adalah berada dalam rumah. Apakah selalu berada di rumah membuatnya tetap terhubung dunia? Ia bukan penakut tapi menginginkan cara-cara “berbeda” yang membuatnya mampu menguak manusi dan dunia tanpa pembakuan batas-batas yang sering menimbulkan cemas. Ia tidak pantang dunia. Ia menginginkan mengetahui nasib seorang manusia setelah dirinya sanggup mengartikan jendela dan rumah tanpa tambahan salah-salah, setiap hari.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<