Setiap pagi, tukang kebun tua, Hamdani, datang untuk merawat pepohonan dan semak-semak yang tersembunyi, membersihkan kolam dan saluran air. Dia tidak pernah berbicara kepada siapa pun dan melakukan pekerjaannya tanpa senyum, menggumamkan syair dan kasidah. Pada waktu zuhur, dia berwudu dan salat di dalam taman, tak lama kemudian pergi diam-diam. Para pelanggan mengatakan bahwa dia adalah wali yang punya pengetahuan rahasia tentang ilmu pengobatan dan ramuan-ramuan obat.”
(Abdulrazak Gurnah, Paradise, Hikmah, 2007)
KURUNGBUKA.com – Kita datang ke Afrika, mendatangi halaman-halam cerita yang digubah Abdulrazak Gurnah. Novel yang berjudul Paradise akhirnya sangat berkaitan dengan Nobel Sastra. Alamatnya di Afrika, yang membawa pembaca melintasi tempat-tempat yang misterius dan memiliki lakon-lakon yang jarang menjadi perhatian orang-orang di benuan-benua yang berbeda. Yang diceritakan adalah Afrika yang rumit. Di situ, manusia-manusia nasibnya bergola tanpa ketergantungan tanda baca.
Yang muncul dalam cerita tidak sekadar tokoh-tokoh utama dan besar. Pengarang berhak “menghentikan” laju imajinasi biografi yang dibentuk pembaca melalui tokoh-tokoh yang hadir tanpa menguasai cerita. Maka, yang terbaca adalah Hamdani. Penyebutannya sebagai tukang kebun. Artinya, ia memiliki ritual yang “menyatukan manusia dan alam.” Pengalaman yang melampauinya pun terselenggara saat beribadah kepada Tuhan.
Waktu yang terpilih dan “disucikan” dalam mengasihi dan menyayangi beragam tanaman: pagi. Kita membayangkan itu saat bahagia sedang disusun bersama matahari. Pagi yang bukan cuma pemilahan waktu. Pada waktu yang “mengawali”, tukang kebun menunaikan tugas yang mulia. Di tatapan mata orang lain, pekerjaan itu “rendah” atau “bawah”.
Yang dirawat Hamdani, yang tampak dan tersembunyi. Ia tidak boleh mementingkan yang tampak mata menghasilkan anggapan indah, rapi, dan bersih. Kehadirannya justru sempurna bila mampu mengetahui yang tersembunyi. Yang berjalan atau melintas tidak melihatnya tapi Hamdani menugasi diri untuk bertaut sewajarnya.
Indah tanaman mendapat peninggian derajat oleh air yang mengalir dan kolam yang pemandangan. Apa-apa yang dikerjakan tukang kebun berpatokan pemandangan. Kemampuan membersihkan dan merapikan mencipta keselarasan yang dirasakan orang lain, yang hadir sebagai penikmat. Yang bekerja yang berkeringat dan membentuk makna. Ia menginginkan pemandangan yang tanpa cela dan kotor.
Sosok yang aneh. Pilihannya berbicara bersama tanaman-tanaman, bukan sesame (manusia). Ia memiliki bahasa yang istimewa saat merawat tanaman. Bahasa yang bersifat alam. Tubuhnya tampak bekerja tapi batin memberi penguatan dan pembenaran. Bahasa itu bersumber batin. Maka, ia yang tidak tersenyum saat bekerja sebenarnya mengadakan “percakapan tersembunyi” dengan alam. Pengarang cukup menghormatinya melalui kebiasaan “menggumamkan syair dan kasidah”. Bagi yang melihat si tukang kebun, pertunjukan indah sedang tersaji agar pagi tidak lesu dan lekas basi.
Kebersamaanya dengan alam itu pekerjaan. Penambahan makna terjadi saat ia beribadah. Di taman, beribadah menjadi perwujudan kepatuhan hamba kepada Tuhan. Ia melafalkan bacaan-bacaan suci, yang mungkin terdengar oleh tanaman. Kita mengira terjadi “simfoni religius”, yang membuat pemandangan terlihat anggun.
Sosok yang bekerja dan beribadah. Ia mungkin tidak memisahkan tapi membedakan. Di taman, kehadirannya adalah kebiasaan yang tidak memerlukan perintah. Ketulusan memberi capaian-capaian yang melebihi kepantasan bekerja. Jadi, penasaran orang-orang bahwa it berpengetahuan terjadi oleh kesungguhan dalam “repetisi” yang tidak memerlukan banyak kata. Raga yang tua itu memancarkan cerita-cerita. Yang dilakukan selama bekerja dan beribadah adalah persembahan yang menjamin kemuliaan.
Akhirnya, pembaca bertemu tokoh dan taman, yang membuat perayaan imajinasi Afrika mengarah indah meski menginsafi terjadinya beragam konflik, yang membuat peradaban di Afrika terus bergolak. Afrika yang memiliki bab kecil mengenai manusia dan taman, yang mencipta jeda puitis.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<







