Tabah harus berjalan kaki cukup jauh untuk pulang ke rumah. Seperti sore itu, kali ini di tangan kanannya terjinjing sebatang bibit dalam plastik polybag ukuran sedang; teranglah lengan kanannya menjadi berkilat keringat.

Saat tiba di depan pagar rumah, Tabah lega, lelah menjadi sirna. Tertampak sedang menunggu di teras depan, anak dan istri: Abdan dan Yani. Abdan mendadak menjadi terpaku dalam duduk, tidak mau beranjak untuk berdiri menyambut kedatangan, terheran karena melihat bapak membawa sesuatu yang asing.  Dalam hitungan belasan detik, Abdan tetap saja duduk.

Tabah dibuat terlongo melihat anaknya yang membisu. Anaknya ditatap dalam-dalam. Tatapan ini membuat Abdan tertunduk kikuk walau tidak lama. Abdan lalu menengadah, gugup bertanya, “Ini pohon apa, Pak?”

“Ini belum menjadi pohon, masih bibit, bibit pohon lengkeng unggul.” Tabah menjawab disertai harapan dalam hati agar anaknya suka.

“Ini untuk siapa Pak?”

“Tentulah ini untukmu, sebagai hadiah dari bapak karena kau naik kelas ke kelas dua. Bapak tidak ingin muluk-muluk ingin agar kau selalu masuk rangking tiga besar. Bapak sadar diri dengan keadaan. Kini bapak ingin, kau mau menerima dan menyayangi bibit ini dengan senang hati. Nanti, kau juga sesekali harus ikut merawatnya bersama bapak, ya.”

Abdan malah cemberut terlihat sangat kecewa. Tanpa berkata apa-apa, lalu secara tergesa berdiri dari duduk, berlari, pergi masuk ke dalam rumah menuju kamar. Tabah kembali terlongo melihat satu-satunya buah hati meninggalkannya begitu saja. Ini mengakibatkan Yani memandang Tabah dengan tajam, protes. “Terinspirasi dari mana, kau memberi hadiah naik kelas berupa sepeda? Bukankah hadiah naik kelas yang selama ini diinginkannya adalah sepeda?”

“Hasil berpikir sendiri. Ya kan sepertinya, Abdan masih terlalu kecil untuk memiliki sepeda. Aku takut kalau nanti anak kita malah sering jatuh saat belajar bermain sepeda hingga menjadi kapok, akhirnya sepeda menjadi teronggok menganggur di sudut dapur.”   

“Abdan juga terlalu kecil untuk mengerti, untuk apa bibit lengkeng sebagai hadiah kenaikan kelasnya.”

“Tidak begitu. Malah sebaliknya, sedari dini harus dilatih mencintai pepohonan. Pepohonan kan penghasil oksigen, penjaga lingkungan.”

“Iya, itu memang benar juga. Tapi yang jelas, lihat saja kenyataannya sekarang, anak kita malah ngambek karena diberi hadiah bibit.”

Yani kemudian lekas-lekas menyusul Abdan. Di depan pintu kamar, berkali-kali mengetuk pintu. Namun, Abdan rupanya tidak juga mau membukakan pintu, di kamarnya terus menelungkup, menangis pula. Yani tidak memaksakan untuk masuk, kembali bergegas ke teras depan.

Kali ini, Tabah dan Yani dalam keadaan saling berdiri saling berdiam. Kemudian dengan pelahan, duduk berendeng seraya memandang bibit lengkeng dalam plastik polybag yang teronggok sendiri: bibit yang batangnya segar, setinggi sekitar satu meter, daun-daunnya serta ranting-rantingnya merunduk seolah-olah seperti menjadi bersedih karena barusan mendapat penolakan dari anak kecil sebagai calon tuannya.

“Sekarang, mau diapakan bibit ini?” Yani ketus bertanya.

“Maumu diapakan? Dibuang?”

Yani terbungkam.

“Tentu saja kan, untuk ditanam di halaman belakang? Aku sudah susah-susah mencari dan membelinya, bibit unggul hasil perkawinan silang. Kalau bibit ini benar-benar mendapat perlakuan baik, dua tahun sudah bisa berbuah meskipun belum banyak karena masih belajar.”

“Masa bodohlah dengan bibit lengkeng itu, paling juga daun-daunnya dimakan ulat atau dipatuk ayam tetangga. Yang aku pikirkan sekarang hanyalah sepeda. Bagaimana kalau anak kita sampai sakit karena keinginannnya tidak dipenuhi? Padahal kan sudah berminggu-minggu menginginkannya.”

***

Pada hari kedua seusai pembelian bibit, Sabtu sore Tabah ke halaman belakang, menengok bibit lengkeng yang masih dalam polybag, disimpan sementara tergeletak di ubin yang menempel ke dinding sejajar dengan pot-pot lain berisi aneka macam bunga. Tampak juga Yani, sedang menyibukkan diri membuka gawai duduk di kursi. Yani sesekali memerhatikan suaminya yang tampak membelai-belai daun lengkeng.

Tabah meminta tolong, “Bawakan aku air seember, ya.”

“Ambil saja sendiri!”

Tabah tidak menyangka, rupanya istrinya masih marah. Tabah mendiamkan saja, mengalah dengan setengah terpaksa pergi sendiri ke kamar kecil hendak membawa seember air. Langkah-langkahnya gontai.

Ketika Tabah sedang dengan pelahan dan lembut menyirami bibit lengkeng, Yani menghampiri. Suasana kembali menjadi hangat seperti dua hari yang lalu. Keduanya kembali bertengkar tentang hadiah kenaikan kelas. Yani tetap kukuh ingin membelikan sepeda untuk Abdan. “Teman-teman sebayanya sudah memiliki. Lagian, anak kita biar bisa cepat bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Pokoknya, dalam seminggu ini harus ada sepeda!”

“Sudah kukatakan berkali-kali kan, belum waktunya memiliki sepeda. Ada waktunya untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, dengan secara bertahap dari kita dulu dengan orang tuanya dan dari guru-gurunya nanti dengan berbagai tingkatan sekolah. Kan sekarang juga Abdan sedang sekolah.”

Yani tidak mau berdebat, masuk ke dalam rumah.

Cahaya matahari sore itu pun semakin redup. Senja sudah tiba. Dalam keadaan bermenung, tiba-tiba Tabah teringat teman sekolah dasarnya dulu yang bekerja di instansi pertanian bagaimana caranya agar bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik. Tabah kemudian bergegas mencangkul membuat lubang yang akan dibiarkannya menganga selama seminggu, agar udara dan cahaya matahari masuk, supaya tanahnya lebih gembur. Kemudian setelahnya, lubang akan diuruk dengan tanah bekas galian yang telah bercampur dengan pupuk kandang, yang juga akan dibiarkan seminggu.

***

Pada Minggu pagi, Abdan masih berselimut, tak mau bangun dari tempat tidur. 

Yani menjadi cemas, “Apa kan kataku? Jangan-jangan kesehatan Abdan mulai turun. Kiranya tidak ada jalan lain, selain harus dibelikan sepeda.”

“Kukira, paling juga dia kecapaian, kan kemarin pulang sore bermain kucing-kucingan dengan teman-temannya. Kalau tubuhnya agak panas, kasih saja dulu obat warung.”

Abdan yang mendengar percakapan orang tuanya di ruang tengah, bangun dari tempat tidurnya, menuju ruang tengah. “Abdan tidak sakit. Abdan tidak mau minum obat. Abdan hanya ingin dibelikan sepeda, Pak.”

Tabah tak menduga, hadiah kenaikan kelas itu masih diidamkan anaknya. Tabah berusaha tenang. “Nanti saja kalau sudah besar, bapak belikan.” Abdan menunduk, dengan lemas kembali menuju kamar.

“Prakkkk!” Tiba-tiba terdengar suara gelas pecah. Yanilah yang melemparkannya. “Habis kesabaranku melihatmu yang tetap tak mau membelikan sepeda!”

“Baiklah. Sekarang, mana uangnya untuk membeli sepeda. Kau punya? Kau kan tahu, gajiku berapa sebagai seorang outsourcing, sebagian besar gaji sudah terpakai untuk mencicil rumah ini.”

“Kalau begitu, aku akan pinjam ke ayahku. Sepeda itu akan menjadi hadiah kenaikan kelas dariku untuk Abdan.”

Yani langsung menelepon ayahnya. Beberapa saat ada percakapan. Namun, Yani kecewa karena ayahnya tidak punya uang untuk meminjamkan.

***

Berhari-hari, Yani di rumah menjadi pemarah. Pekerjaan rumah tangga dibengkalaikan. Abdan pun ada kalanya bolos sekolah.

Tabah menjadi sesekali mengeluh karena harus mengambil alih sebagian pekerjaan rumah tangga. tak berkutik dengan apa yang telah anak-istrinya lakukan sebagai protes. Tapi Tabah tetap menabahkan diri,

Meskipun begitu, Tabah bergeming tak berusaha membelikan sepeda untuk anaknya. Selama di rumah sepulang dari pekerjaan atau saat libur, lebih menyibukan diri merawat bibit lengkengnya dan bunga-bunga lain dalam pot. Tabah ada kalanya memandang lama-lama semua tanamannya. Setiap hari, dua kali disiramnya, sehingga semuanya terlihat segar.

***

Sore cerah hari itu adalah tepat dua minggu bibit lengkeng berada dalam polybag, sudah siap untuk dibenamkan ke dalam tanah. Tabah kembali menggali lubang yang seminggu lalu telah diuruknya, lalu membuka plastik polybag, menaruh bibitnya dalam lubang, lalu ditutupinya dengan tanah yang telah bercampur dengan pupuk kandang, namun tidak terlalu padat agar udara masih bisa masuk, serta leher akar ditata menjadi rata dengan tanah.

Tabah meminta agar Yani dan Abdan mengambilkan air seember. Yani bergeming. Abdan bergeming. Terpaksalah Tabah yang melakukannya sendirian. Seraya menyiram, Tabah memaksakan tersenyum, satu bibit pohon lengkeng kini telah menancap di bumi. Tabah berharap, dua tahun menjelang berbutir-butir buah matang sedang bergantung di dahan dan ranting pohon lengkengnya, tepat di hari kenaikan kelas Abdan dari kelas dua ke kelas tiga.

“Bapak memberimu hadiah naik kelas berupa bibit. Bapak harus sabar menunggunya tumbuh hingga besar sampai berbuah.”

 “Iya Pak, seperti juga Bapak dan Ibu harus sabar membesarkanku yang sekolah di sekolah inklusi.”

Bandung, September 2024

*) Image by istockphoto.com