Supriadi menatap ke arah laut dengan penuh kekosongan. Di atas geladak, tangannya memegang railing dan tubuhnya berdiri mematung. Di bawah semburat lembayung senja, hanya desir angin berembus dan suara hempasan ombak yang menemaninya. Di genggaman tangan kanannya ada telepon genggam yang masih menyala. Layarnya menampilkan teks: “Tidak usah kembali, tidak ada yang akan menjemputmu.”
Ia tidak menyangka, pesan itu yang diterimanya. Tatapan penuh kekosongan itu membuatnya tenggelam dalam melankolia. Ingatan masa lalunya bersahut-sahutan hadir. Dia ingat ketika istrinya sudah delapan bulan masa hamilnya, Supriadi bekerja lebih giat. Sebagai buruh kasar lulusan SD di kampung, dia tidak punya cukup kemampuan selain kemampuan fisik. Mula-mula dia bekerja sebagai petugas kebersihan di pagi hari, setelah itu menjadi kurir di siang hari, dan saat malam hari ia menjadi juru parkir di sebuah kafe. Dari pekerjaan itu, dia berhasil mengumpulkan uang untuk membiayai kehidupannya dan sudah punya uang tambahan untuk biaya persalinan.
Selang dua tahun setelah anak pertamanya lahir, istrinya kembali mengandung lima bulan. Kurang lebih empat bulan lagi, jika tidak ada aral, anak keduanya akan lahir. Dia memutar otak, bagaimana caranya mempersiapkan biaya persalinan sementara kehidupannya saja saat ini jauh dari kata cukup. Karena keterbatasan pengetahuan, otaknya hanya berputar dan tidak menemukan solusi, hingga suatu malam, kawannya—seorang langganan di kafe—memberi masukan ketika Supriadi termenung terus menerus di area parkir saban malam. Perkawanan mereka ditandai dengan rutinitas di mana kawannya itu selalu berbagi rokok saat ia jenuh duduk terlalu lama di kafe yang tidak menyediakan smoking area.
“Coba pergi ke Kalimantan. Cukup jadi buruh di perkebunan sawit selama tiga bulan, kau sudah bisa pulang dan punya tabungan untuk biaya persalinan istrimu.”
Perkataan kawannya itu terngiang-ngiang dalam benaknya. Supriadi sumringah membayangkan dia tidak perlu bekerja di tiga tempat lagi. Tanpa berlama-lama, sesuai dengan petunjuk kawannya yang punya kenalan di perusahaan sawit, yang dapat langsung meloloskannya bekerja tanpa perlu sibuk mempersiapkan lamaran, Supriadi bergegas dan siap berangkat ke Kalimantan hari itu juga. Di rumah, ia menjelaskan kepada istrinya, kalau tidak ada lagi pilihan. Dia harus pergi ke Kalimantan untuk mencari uang.
“Saya ini sedang hamil, bagaimana bisa kamu tinggal dalam kondisi begini?” keluh istrinya.
“Tapi lebih baik kamu saya tinggal daripada saya di sini dan tidak bisa memberimu uang,” ucap Supriadi.
“Tapi… Tapi, siapa yang mengurusi saya?” istrinya menimpali.
“Kamu harus mengurus dirimu sendiri. Tetapi jangan khawatir. Saya sudah menitip pesan kepada kawanku untuk sesekali datang menengokmu. Saya hanya pergi selama tiga bulan dan setelah itu saya akan pulang.”
Istrinya pasrah. Ini karena pilihan yang diambil suaminya untuk dirinya sendiri. Istrinya sejak awal tidak punya cukup keterampilan mencari uang karena baru kelas enam sekolah dasar umurnya, Supriadi sudah lebih dulu meminangnya.
Setibanya di pelabuhan Kalimantan, seseorang telah menunggunya di atas perahu. Cara untuk sampai ke sana harus dengan menyusuri sungai. Belum ada akses darat dari pelabuhan ke perkebunan itu. Ia menyusuri sungai besar selama dua jam hingga tiba di perkebunan. Supriadi langsung diantarkan ke rumah kayu yang sudah diberi angka di dindingnya. Sepanjang mata memandang hanya ada pohon sawit berjejer seperti sedang baris-berbaris, hijau, tetapi kering dan penuh debu.
Sejak Supriadi tiba, dia tidak bisa menghubungi istrinya. Tidak ada jaringan telepon seluler. Mulanya dia tidak khawatir, “toh ini juga hanya sebentar. Hanya tiga bulan saja,” gumamnya dalam hati, tapi ini permulaan dari petaka yang tidak dia duga.
Kepala perkebunan ternyata orang asing dan dia tidak paham berbahasa Indonesia. Ketika Supriadi meminta gajinya saat satu bulan ia bekerja. Bosnya bilang, “No money! No Money! Your salary just food!” Bosnya memalingkan wajah dan mengayung-ayungkan telunjuknya sebagai isyarat untuk menyuruh Supriadi pergi. Supriadi hanya mengangguk-angukkan kepala. Dia tidak memahami apa yang disampaikan bosnya itu.
“Mungkin gaji di sini dibayarkan pertiga bulan,” pikirnya sebagaimana gajinya dulu sebagai petugas kebersihan.
Di minggu ketiga bulan kedua, Supriadi mengalami kecelakaan kerja. Karena kecerobohan rekannya yang tidak cermat memasang engsel tailgate pada truk yang dikendarainya sehingga saat Supriadi mengayungkan egrek saat memanen sawit dan memindahkannya ke dalam truk yang sudah penuh itu, tiba-tiba tailgetnya terbuka dan tandan sawit terhambur keluar dan menimpanya yang berada tepat di belakang truk. Untungnya, Supriadi dikarunai kekuatan fisik. Orang biasa sudah pasti mati dengan kecelakaan seperti itu. Tak ada tenaga medis di perkebunan. Hanya ada sekotak P3K. Luka-luka goresan di sekujur tubuhnya hanya diberikan betadin oleh beberapa pekerja yang mengerubunginya.
Hari pertama saat insiden itu Supriadi demam tinggi. Panas badanya menyentuh angka 41 derajat. Bola matanya sudah hilang separuhnya. Tak ada yang bisa dilakukannya kecuali kekuatan besar dalam dirinya yang datang karena tekadnya ingin pulang. Dalam gigil tubuhnya yang tak terperikan dia membayangkan buaian istrinya dan tawa anaknya. Bayangan istri dan anaknya seolah datang untuk mendekapnya. Dekapan yang memberi kekuatan untuk bertahan. Pada hari keempat pasca sakitnya, Supriadi sudah tidak tenang. Dia sudah memikirkan bagaimana caranya untuk pulang sehingga selepas dia sembuh di hari ketiga, dia langsung menghadap ke bosnya untuk meminta gaji dan berencana langsung berhenti untuk bekerja. Namun yang diperolehnya, dua orang penjaga mengeroyoknya hingga nyaris pingsan.
“Go fucking yourself!” kata bosnya, pergi meninggalkan Supriadi yang tergeletak tak berdaya dengan napas tersengal menahan sakit di sekujur tubuh.
Baru juga baikan, Supriadi harus kembali merasakan sakit. Supriadi kembali bekerja sebagaimana sebelumnya tanpa ada gaji. Hanya ada makanan yang diberikan setiap dua kali sehari. Supriadi sadar, dia terjebak di sini sebagai pekerja paksa. Maka dari itu yang dilakukannya setiap malam saat semua orang sudah terlelap adalah menyusun rencana pelarian.
Mula-mula yang dilakukannya adalah mengamati pola pergerakan para penjaga dan mencatat waktu pergantian sif mereka. Selanjutnya, Supriadi sekali sehari ke kios perusahaan untuk meminta jatah roti dan air. Selain makan siang dan malam, perusahan menjatah roti dan air sebagai makanan tambahan. Perusahaan sadar jika hanya makanan dua kali sehari tidak cukup memberikan energi ke para pekerjanya. Diam-diam dia juga mengumpulkan potongan besi yang bisa diukir untuk menjadi kunci buatan. Lalu setiap malam dia pergi ke sungai dan membuat rakit. Supriadi menghabiskan empat jam setiap malam untuk membuat rakit. Meskipun ada dua perahu yang selalu bertambat di dermaga sungai, tapi Supriadi sudah menyiapkan rakit sebagai jalan alternatif jika perahu yang diharapkan nanti tidak ada.
Rencana yang dipersiapkan Supriadi membutuhkan waktu tujuh hari. Di hari ke delapan dia akan mengeksekusi rencananya. Hari keenam bekalnya sudah cukup dan rakitnya sudah jadi. Tiga buah kunci buatan juga sudah dia ukir. Kunci yang dua hari sebelumnya sudah dicoba di rumahnya dengan mencoba tiga jenis gembok yang berbeda dan kuncinya berhasil. Pengamatan yang lama ini untuk membuat kalkulasi rencananya matang karena jika tidak sesuai rencana nyawanya taruhannya. Dia tahu kalau gagal, para penjaga bos akan menggebukinya hingga mati.
Tibalah waktu pelarian. Rencana yang disusun dengan cermat itu sebenarnya hanya untuk melarikan diri dari perkebunan. Namun saat dia mengendap-ngendap dan melewati belakang rumah bosnya, dia terdiam dan berhenti sejenak. Dia sudah meninggalkan istrinya hampir tiga bulan, sudah pernah dihajar hingga babak belur, dan sudah pula hampir mati tertimpa sawit. Bagaimana mungkin dia pulang tidak membawa apa-apa? Dia mengubah rencana awalnya, meskipun sangat berisiko, tetapi baginya kini lebih baik dia tidak pernah pulang jika hanya membawa dirinya sendiri. Dia pun ingat tujuan awalnya kenapa dia berada di tempat ini: Uang.
Supriadi mengubah arah langkahnya menuju ke rumah bosnya. Dia sudah berada di depan pintu belakang rumah. Tangannya bergetar saat menggunakan kunci buatannya untuk membuka pintu. Satu kuncinya gagal. Kunci kedua terjatuh karena getaran tanganya menguat. Butir-butir keringat memenuhi keningnya. Daun telinganya menangkap suara dari kejauhan, ada bunyi menapak yang semakin membesar menuju ke arahnya. Pada saat sorotan lampu tertuju ke arahnya, tiba-tiba saja kunci ketiganya berhasil membuka pintu.
Di dalam, dia bergerak cepat. Dia menyalakan korek. Dengan cahaya terbatas, matanya menyapu ruangan, mencari di mana uang bos berada. Napasnya semakin tidak beraturan. Keringatnya bertambah karena dia mendengar riuh suara di luar mendekatinya. Ternyata nyala koreknya menarik perhatian penjaga dari luar karena cahaya itu terlihat dari luar melalui jendela. Karena pikirannya sudah tidak karuan, dia membanting lemari di hadapannya dengan keras. Uang pun berhamburan di lantai. Dengan sigap Supriadi meraup uang itu sebanyak mungkin dan memasukkannya ke dalam karung goni yang sudah disiapkan. Supriadi pun melempar koreknya ke arah gorden dan berlari sekencang mungkin.
Tanpa menoleh lagi, dia berlari menyusuri gelap. Suara api yang melahap rumah bosnya itu menjadi latar langkahnya yang semakin cepat menjauh. Setelah semalamam berlari menuju arah utara, dia akhirnya tiba di bibir sungai. Dia mengambil perahu yang bertambat di sana dan menghilang.
Perahu bertambat di pelabuhan. Benar tidak ada yang datang menjemput. Supriadi mengambil karung goninya dan turun secara perlahan. Dia menyewa ojek untuk membawanya pulang. Setelah lelah berkepanjangan, Supriadi pun tiba di rumahnya. Namun, dia disambut dengan pemandangan yang mengoyak hatinya. Di hadapannya, kawannya sedang menyesap dengan hikmat sebatang rokok sambil menggendong anak kecil dan seorang anak lain sedang bermain sendiri di sekitarnya. Di tangan yang sama, dia menghimpitkan rokok di ruas jarinya, juga menggenggam telepon istrinya.
Saat sang istri tiba di rumah, dia melihat seorang pria dengan rambut sebahu berjalan meninggalkan rumahnya.
“Siapa tadi yang datang?” tanya sang istri.
“Tak tahu, barangkali orang salah alamat,” dengan mata yang berkaca-kaca kawannya melanjutkan, “seseorang dari Kalimantan tadi menelepon, Supriadi mengalami kecelakaan kerja. Dia meninggal tertindih tandan sawit,” ucap kawannya itu sembari menyerahkan telepon ke istri Supriadi.
*) Image by istockphoto.com







