Darsono mendapati dirinya terbujur di antara pohon tomat. Entah apa yang telah terjadi. Darsono bangkit. Mengecek ke dalam rumah. Televisi, radio, kaset piringan, tumpukan prangko lawas, semua lengkap, tak ada yang hilang.

“Aman!”

Darsono masa bodoh dengan uangnya yang tersimpan di lemari. Jikalau pun hilang, dia masih bisa makan. Darsono keluar, mengecek kebun cabainya. Tak ada yang rusak. Hanya beberapa kayu penopang pohon cabai terlihat rapuh.

“Besok aku akan menggantinya,” ucap Darsono, matanya menyipit. Dia kembali ke rumah. Tak ada lagi yang perlu dicek. Dia menyeduh kopi untuk sandingan menonton acara bola. Tim Biru terlihat mendominasi, suatu kekecewaan bagi Darsono. Namun, Tim Ungu sangat optimis, terus bertahan.

“Ayolah,” ucap Darsono sebelum menyeruput kopinya.

Pertandingan selesai. Seri. Darsono agak lega daripada tim dukungannya kalah dengan tim lawan. Dia menyeruput kopinya hingga tetes terakhir. Lantas pergi ke kamar. Rasa kantuk sungguh sangat mustahil datang. Darsono membuka jendela kamar. Senja meremang keemasan. Cahayanya tak terlalu mencolok. Sungguh keserasian warna yang sendu.

Dari jendela terlihat betapa luasnya kebun milik Darsono. Kebun cabai, tomat, bawang, dan beberapa pohon rambutan berdiri di atas tanah kebun Darsono.

“Lelaki tua yang kesepian,” ucap Burung Gelatik di ranting pohon rambutan. “Andai aku seorang manusia, akan kutemani dia merawat kebun. Akan kunyanyikan musik terindah di setiap senja.”

“Ya, sungguh malang dia,” balas Pohon Rambutan.

“Wahai Pohon Rambutan, bukankah kau sudah lama tinggal di sini? Ke mana istrinya? Atau anaknya?” tanya Si Gelatik.

“Aku tak ingat betul, Gelatik. Dulu ketika aku belum berbuah, istrinya selalu duduk di bawah sini setiap senja. Merajut sebuah kain untuk dijual ke kota. Terkadang kugoyangkan ranting-rantingku untuk membuat sedikit semilir angin yang akan menyapu rambutnya,” ucap Pohon Rambutan sembari memvisualisasikan kalimatnya yang terakhir. “Lalu suatu hari, istrinya tidak datang ke sini. Kulihat lelaki itu menangis di balik jendela. Posisinya persis seperti sekarang.”

“Sungguh cinta selalu berakhir tragis,” timpal Si Gelatik.

“Ya, ya! Aku tak tahan menyaksikan seseorang yang begitu tulus merawat kebun ini menangis. Hingga aku pun ikut menangis, Gelatik. Sejak saat itu, lelaki itu sering pingsan di tengah kebun menjelang senja. Entah apa penyebabnya. Dan yang aneh, setelah siuman dia segera masuk ke rumah seperti orang kehilangan.”

“Kesedihan selalu banyak mengubah seorang lelaki,” ucap Gelatik.

“Ya, ya!”

Matahari kian terlipat. Darsono menutup dua bilah papan jendela. Membuka lemari—tempatnya menyimpan kertas catatan lama.  Tak ada yang mengesankan. Namun, cukup untuk membuatnya puas. Sebuah ritual menjelang malam. Bayangan istrinya tergambar jelas pada ruang imajiner. Perjanjian-perjanjian yang tercatat, membuat kristal-kristal di sepasang matanya mengalir.

Istrinya–Ajeng–adalah anak seorang pedagang buah. Dia dibesarkan di antara buah-buahan segar. Setiap sore, ibunya mengajaknya pergi ke pasar Legi untuk berjualan. Hingga pada suatu hari, dia menemukan suatu gairah baru.

Saat itu dagangan sedang sepi. Dia pergi ke tukang jahit. Tempatnya hanya beberapa meter dari lapak buahnya. Dia kenal dekat dengan tukang penjahit yang merupakan teman ibunya. Ajeng mengamati bagaimana Si Penjahit bekerja. Sebuah jarum menusuk-nusuk dengan kecepatan tinggi ke permukaan kain. Menghasilkan garis horizontal yang sedap dipandang. Suara mesin itu, seperti merayu jiwa Ajeng. Dia mulai kecanduan dengan pemandangan itu. Sulam-menyulam. Sejak saat itu Ajeng mulai belajar menjahit. Si Penjahit tak langsung membiarkan Ajeng menjahit dengan mesin.

“Kau harus belajar teknik tusuk rantai sebelum menjahit menggunakan mesin,” ucap Si Penjahit.

Ajeng menurut. Dia mulai terbiasa memegang jarum, penggaris, pensil, dan benang. Suatu gairah baru yang memayungi jiwanya. Jiwa berkesenian. Hingga usianya beranjak dewasa. Dia memutuskan untuk berkuliah dan memilih jurusan sesuai gairahnya. Dari sanalah, dia bertemu Darsono, mahasiswa pertanian yang tampaknya juga punya jiwa kesenian.

Burung Gelatik terbang ke lubang ventilasi, tepat di atas jendela kamar. Segera saja dia menyaksikan pemandangan yang memilukan. Dia telah banyak bersinggah di berbagai rumah. Pemandangannya selalu menyenangkan. Keluarga hangat, sepasang pengantin baru, ayah dan anak lelaki yang akrab. Tapi kali ini, sungguh, pemandangan yang menusuk hatinya.  

Darsono masih menangis sembari memegang secarik kertas di tangan kanannya. Catatan-catatan tentang perjanjian, impian, dan harapan tertulis di kertas itu.

“Aku tak pernah menyalahkanmu atas masalah ini, Sayang. Anak adalah sebuah takdir. Dan kebun ini, adalah anak kita. Begitu juga pohon-pohon rambutan yang kau tanam itu. Akan kurawat sampai mati. Mereka adalah anak kita,” Darsono bergumam sembari tersedu-sedu.

Gelatik tak kuasa menyaksikan pemandangan ini. Air matanya mengalir. Beberapa saat kemudian dia terbang ke ranting pohon rambutan.

Keesokan harinya datang seorang pria bertubuh gendut. Kemeja yang dikenakannya tampak kekecilan hingga putingnya terceplak. Pria itu membawa koper berisi berkas-berkas. Darsono sedang mengganti kayu penopang pohon cabai. Menyadari ada seseorang di depan pagar, dia menghentikan pekerjaannya.

“Bapak Darsono?”

“Ya, benar. Ada keperluan apa?”

“Tanah ini, tanah ini milik pemerintah.”

“Yang benar saja!” Darsono memekik tanpa pikir panjang.

Si Gendut tak menggubris perkataan Darsono. Menyodorkan berkas-berkas yang dibawanya.

“Kami punya bukti.”

“Palsu, itu pasti palsu. Orang-orang kota gemar memalsukan segala hal.”

“Kau bisa mengatakan ini palsu. Tapi lihatlah nama di ujung sini. Kau bisa memotretnya dan mengadukannya ke polisi.”

Darsono terdiam. Di ujung kertas terlihat nama bupati serta tanda tangannya. Penglihatannya tidak salah. Ada api yang berkobar di hatinya. Namun sebisa mungkin Darsono memadamkan kobaran tersebut. Bagaimana pun, yang dihadapinya adalah anjing pemerintah. Dia tak cukup pandai untuk menjinakkan anjing.

“Bersiap-siaplah, besok kami akan kembali. Mengurus administrasi. Lusa, kau harus sudah pergi.”

Si Gendut meninggalkan halaman rumah Darsono. Langkahnya gontai, sebuah mobil melahapnya ke dalam.

Gelatik menyaksikan peristiwa tersebut. Berkata pada Pohon Rambutan:

“Apakah artinya tempat ini akan digusur?”

“Ya, ya! Ada kemungkinan,” jawab Pohon Rambutan.

***

Malam seperti larutan pekat. Darsono berada di kamarnya. Duduk menangis memandangi foto istrinya. Ingatannya tentang Si Gendut tadi siang menambah tingkat kesedihannya.

Darsono tak ingin diam. Dia ingin berbuat sesuatu. Bagaimana pun, kebun ini sudah dianggap anaknya sendiri. Darsono mengasah pisaunya. Berjam-jam, berlarut-larut. Pada saat-saat itu, suatu gairah muncul. Darsono tak hanya mengasah pisaunya. Dia keluar rumah untuk mengambil garpu tanah.

“Satu-satunya cara menghadapi anjing adalah membungkam gonggongannya dan menusuk jantungnya,” gumam Darsono sembari terus melanjutkan mengasah pisau.

Pagi itu Darsono tidak keluar rumah. Setidaknya hanya untuk hari ini dia tidak menyirami kebunnya. Suara ketukan terdengar. Darsono tidak langsung membuka pintu. Hingga suara ketukan terus berketuk. Pintu dibuka. Si Gendut menyapa.

“Selamat pa….”

Sebilah pisau telah tertancap di perut Si Gendut. Darsono mencabutnya dan kembali menancapkannya ke bagian lain. Itu terjadi berulang kali. Seperti sedang menjahit dengan teknik tusuk rantai.

Terdengar pekikan dari luar pagar. Dua orang pengawal menodongkan revolver sembari berjalan mendekat. Salah satu pengawal memakai kacamata. Dia memekik.

“Jangan bergerak!”

Darsono mengangkat kedua tangannya. Pisau dibiarkan tertancap di bagian dada Si Gendut. Suasana hening. Dua  pengawal mengamati Si Gendut yang terkapar di lantai.

“Jika kau bergerak, pelatuk otomatis tertarik,” lanjut Si Kacamata.

Darsono benar-benar mematung. Sebilah pisau lain masih berada di celah celana belakangnya. Bola matanya melirik ke samping. Sebuah garpu tanah bersandar di tembok.

Si Kacamata menyuruh temannya untuk memeriksa urat nadi Si Gendut.

“Sudah tiada,” ucap Si Teman.

“Borgol si tua ini!” perintah Si Kacamata.

Ketika Si Teman mendekat untuk memborgolnya, Darsono segera meraih pisaunya dan menancapkannya ke dada Si Teman. Gerakannya secepat kilat. Darsono segera lari dengan lincah, hingga tembakan yang dimuntahkan Si Kacamata tidak kena sama sekali. Si Kacamata pergi memburunya. Darsono lari ke arah kebun.

Si Kacamata tentu sudah berpengalaman dalam hal ini. Hanya saja tadi dia tidak sempat berpikir, hingga sasarannya lolos. Tapi kali ini dia mutlak menguasai medan. Setelah yakin akan perkiraannya membidik, pelatuk ditariknya. Namun lagi-lagi sial! Seekor burung gelatik tiba-tiba melintas dan terkena peluru. Si Kacamata kembali menarik pelatuk. Kali ini sasarannya kena.

Ketika Si Kacamata menembak maling atau bandar narkoba, dia tidak akan membunuhnya, hanya ditembak kakinya agar mereka tersungkur. Namun kali ini tidak. Peluru sengaja diarahkan ke kepala.

***

Darsono tidak sempat berteriak kesakitan. Darah segar semburat dari tengkorak kepalanya yang jebol. Dia terbaring di antara pohon tomat. Di saku kemejanya, ada selembar foto. Istrinya.

“Sepertinya aku pernah melihat kejadian persis seperti ini. Aku tak ingat betul,” ucap Pohon Rambutan. Ranting-rantingnya tergoyang semilir angin. Beberapa daunnya jatuh.

Jakarta, 2024

*) Image by istockphoto.com

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya terbaik penulis di Indonesia dan membagikan berita-berita yang menarik dan seru lainnya. >>> KLIK DI SINI <<<