KURUNGBUKA.com – Saya pertama kali mengenal tulisan Yunis Kartika melalui Sepatualang: Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang. Buku itu memperlihatkan Yunis sebagai penulis perjalanan yang luwes, ringan, dan komunikatif. Bahasanya mengalir, mudah dipahami siapa saja, seolah mengajak pembaca ikut berjalan menyusuri sudut-sudut Bukittinggi dan Padang. Pengalaman membaca buku keduanya, Kisah Ayah: Jejak Seorang Perintis dalam Sunyi, terasa sangat berbeda.

Di sini saya melihat Yunis meninggalkan gaya bertutur yang sederhana menuju bentuk penulisan yang jauh lebih reflektif dan sastrawi. Halaman demi halaman dipenuhi narasi yang hidup, deskripsi yang tenang, dan renungan yang terasa seperti membaca prosa panjang atau bahkan sebuah novel. Padahal buku ini adalah memoar. Perubahan itu menunjukkan keberanian seorang penulis untuk tidak terjebak pada satu gaya.

Bukan Biografi, Melainkan Jejak Ingatan
Sejak awal Yunis sudah memberi penanda mengenai posisi bukunya. Dalam sinopsis belakang ia menegaskan bahwa buku ini bukanlah biografi lengkap, namun upaya merawat jejak seorang ayah. Hal itu kemudian dipertegas lagi dalam kata pengantar. “Perlu saya sampaikan bahwa buku ini bukanlah sebuah biografi lengkap, melainkan sebuah memoar tematik.” (hlm. xi)

Pilihan itu membuat buku ini terasa lebih intim. Alih-alih menyusun kehidupan ayahnya secara kronologis sejak lahir hingga usia 75 tahun, Yunis memilih menghadirkan fragmen-fragmen yang saling berkaitan. Bahkan daftar isinya sudah memberi isyarat bahwa pembaca tidak sedang diajak mengikuti garis waktu, namun memasuki ruang-ruang ingatan melalui judul-judul seperti Mang Aan, Bapak Kucing, Rumah Toko yang Ambruk, Agenda Hitam, Talang Jawa Kanan, hingga Lubuklinggau Itu Kotaku yang ia bagi ke dalam tiga babak.

Struktur seperti ini membuat pembaca tidak sedang membaca sejarah hidup seseorang, akan tetapi seperti sedang menelusuri serpihan memori yang perlahan menyusun sosok ayah secara utuh.

Seorang Ayah yang Terasa Menjadi Dekat
Yang paling menarik dari buku ini adalah cara Yunis membangun tokoh ayahnya. Kemasyhuran bukan modal utama buku ini. Ayahnya bukan pejabat, bukan tokoh nasional, bahkan Yunis sendiri mengakui hal itu. “Ayah saya bukan pejabat, bukan pula sosok yang dikenal banyak orang.” (hlm. ix)

Namun justru karena itulah buku ini bekerja. Yunis berhasil menjadikan sosok ayahnya terasa penting bagi pembaca. Semakin personal ia bercerita, semakin dekat pula pembaca merasa mengenalnya. Saya beberapa kali teringat kepada bapak saya sendiri. Sosok laki-laki yang tidak banyak bicara, tenang menghadapi persoalan hidup, menjaga wibawa keluarga tanpa perlu meninggikan suara. Usia mereka pun tidak terpaut jauh. Barangkali di situlah kekuatan buku ini bekerja, bahwa pengalaman yang sangat personal justru berubah menjadi pengalaman yang universal.

Buku ini akhirnya tidak lagi menjadi kisah tentang ayah Yunis semata, tetapi juga menjadi ruang bagi pembaca untuk mengingat ayahnya sendiri. Bahkan setelah selesai membaca beberapa bagian, saya terdorong untuk menuliskan kisah hidup bapak saya—sesuatu yang memang sesekali pernah saya tulis di media sosial, tetapi belum pernah saya rangkai menjadi sebuah memoar.

Nama yang Menyimpan Cerita
Ada bagian yang sederhana, tetapi justru sangat memancing rasa ingin tahu saya. Kemasyhuran tokoh ini dimulai hanya dari satu informasi: Ayahnya bernama lengkap Kemas Muhammad Isa Ansori lahir pada 25 Desember 1950 di sebuah klinik di Palembang yang letaknya berdekatan dengan gereja. Satu kalimat itu saja sudah melahirkan banyak pertanyaan. Jarang kita menemukan nama “Muhammad” disandingkan dengan “Isa”. Nama itu sendiri telah menyimpan cerita.

Sebagai anak sekaligus penulis, Yunis cukup jeli menangkap hal-hal kecil seperti ini. Ia tidak sekadar mencatat fakta, melainkan melihat bahwa nama seseorang juga merupakan bagian dari narasi hidupnya. Begitu pula ketika ayahnya kemudian dikenal dengan panggilan Mang Aan saat tinggal di Bandung. Sapaan itu akhirnya bukan sekadar julukan, tetapi identitas sosial yang begitu melekat hingga dijadikan nama usaha keluarga: Toko Obras Aan. Perjalanan sebuah nama menjadi identitas seperti ini menyimpan nilai budaya yang menarik. Julukan tidak lahir begitu saja, namun melalui proses penolakan hingga diterima, dipakai, dan akhirnya menjadi bagian dari sejarah seseorang.

“Agenda Hitam”: Ketika Buku Catatan Menjadi Jendela Jiwa
Bagi saya, salah satu bab terbaik dalam buku ini adalah Agenda Hitam. Yunis tidak sedang menceritakan sebuah benda. Ia sedang membuka pintu menuju dunia batin ayahnya. Bab ini dibuka dengan deskripsi yang sangat kuat. “Agenda itu tidak disimpan di tempat istimewa.” (hlm. 54)

Kalimat sederhana tersebut langsung membangun rasa penasaran. Benda yang tampak biasa itu ternyata menyimpan lapisan-lapisan kehidupan seseorang. Yunis kemudian menulis: “Tidak ada nama di sampul depan. Tidak ada tahun. Tidak ada penanda bahwa agenda itu pernah menjadi bagian penting dari hidup seseorang.” (hlm. 54)

Agenda itu bukan artefak berharga, tetapi justru karena kesederhanaannya ia terasa sangat manusiawi. Yang paling saya sukai adalah ketika Yunis mencoba membaca tulisan-tulisan ayahnya. “Agenda itu tidak diisi setiap hari. Banyak halaman kosong…. Yang ada hanya potongan-potongan pikiran.” (hlm. 55)

Di titik ini saya merasa Yunis sedang membaca seseorang, bukan sekadar membaca tulisan. Ia tidak berusaha menjelaskan semuanya. Ia membiarkan ruang kosong tetap menjadi ruang kosong. Refleksi paling menarik hadir ketika ia menulis: “Aku membaca agenda itu dengan hati-hati. Tidak semua halaman kubaca sekaligus.” (hlm. 58)

Kalimat tersebut memperlihatkan penghormatan seorang anak kepada ruang privat ayahnya. Ia sadar bahwa tidak semua luka perlu dibuka seluruhnya. Bagian yang menurut saya paling kuat adalah ketika Yunis menulis: “Agenda itu bukan buku harian. Ia tidak mencatat apa yang terjadi hari ini atau kemarin. Ia mencatat apa yang tinggal. Apa yang menetap.” (hlm. 58)

Kalimat ini sebenarnya juga dapat dibaca sebagai definisi keseluruhan buku. Kisah Ayah bukan buku tentang apa yang terjadi dalam kehidupan ayahnya, namun tentang apa yang menetap di dalam ingatan seorang anak. Di penghujung bab, Yunis menutup dengan kalimat yang sangat tenang. Tidak ada dramatisasi dan penghakiman, hanya ada usaha memahami. “Ia mungkin tidak pandai melupakan. Namun, ia juga tidak pandai membenci. Agenda hitam itu menjadi saksi dari paradoks itu.” (hlm. 59)

Berani Menunjukkan Sisi Manusia
Yang saya apresiasi dari Yunis adalah keberaniannya untuk tidak menempatkan ayahnya sebagai sosok tanpa cela. Ada bagian ketika ia menceritakan ayahnya pernah dipenjara bukan karena kesalahan yang ia lakukan. Ada pula kisah mengenai pergulatan batin, kesedihan, hingga kecenderungan ayahnya menulis catatan-catatan pribadi yang kemudian banyak disobek dan dibuang.

Sebaliknya, Yunis juga memperlihatkan sisi lembut ayahnya—bagaimana ia menyayangi kucing-kucing yang datang ke toko, memberi makan mereka, bahkan menemukan ruang sunyi bersama hewan-hewan itu. Di tangan penulis lain, kisah seperti ini mungkin mudah berubah menjadi glorifikasi. Namun Yunis memilih jalan yang lebih sulit: memahami. Ayahnya tetap tampil sebagai manusia biasa, lengkap dengan luka, ketakutan, kesalahan, dan kasih sayangnya. Itulah yang membuat buku ini terasa jujur.

Catatan Kecil
Sebagai pembaca, saya hanya memiliki satu catatan yang cukup mengganggu selama membaca. Karena menggunakan struktur fragmen, perpindahan waktu kadang terasa meloncat-loncat. Memang pilihan ini sesuai dengan konsep memoar tematik yang diambil Yunis, tetapi kehadiran sebuah timeline sederhana di bagian awal atau akhir buku akan sangat membantu pembaca menghubungkan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan ayahnya.

Selain itu, menurut saya, foto ayah Yunis yang diletakkan pada bagian akhir justru memiliki daya emosional yang jauh lebih kuat. Sebagai pembaca yang sangat visual, saya langsung merasakan kedalaman karakter hanya dari pengambilan gambar punggung ayahnya yang sedang duduk di belakang etalase toko.

Seandainya foto tersebut dijadikan sampul utama—tentu dengan pengolahan desain yang tepat—pesan buku ini mungkin akan lebih langsung sampai kepada calon pembaca. Sampul yang sekarang memang merepresentasikan profesi ayah sebagai perintis usaha jahit, tetapi belum sepenuhnya mewakili kedalaman emosional isi buku.

Secara keseluruhan, Kisah Ayah: Jejak Seorang Perintis dalam Sunyi bukan memoar tentang seorang tokoh besar. Buku ini adalah upaya seorang anak merawat jejak ayahnya agar tidak hilang bersama waktu. Yang membuatnya menarik bukan karena kehidupan ayah Yunis luar biasa, tetpi karena Yunis tahu bagaimana mengubah pengalaman yang sangat pribadi menjadi pengalaman yang dapat dimiliki siapa saja.

Pada akhirnya, saya menutup buku ini dengan satu perasaan yang mungkin juga diharapkan penulis: keinginan untuk pulang, duduk lebih lama bersama ayah, dan mulai mencatat kisah-kisah yang selama ini hanya lewat begitu saja. Sebab, seperti yang ditulis Yunis dalam pengantarnya, “beberapa kisah tidak perlu ditinggalkan dengan keengganan, cukup dituliskan dengan cinta dan kesetiaan.” (hlm. xi)

Judul: Kisah Ayah: Jejak Seorang Perintis dalam Sunyi
Penulis: Yunis Kartika
Penerbit: Stiletto Book
Genre: Nonfiksi – Memoar
Tebal: 156 halaman