Inara Schäfer, tidak ada yang tidak mengenal dia dan tidak ada lelaki yang tidak menyukai dia. Jika saja aku tidak mengetahui nama belakangnya itu, tetap akan kuketahui juga kalau dia hasil kawin silang. Terpampang jelas padanya dataran wajah Jerman berpadukan lekuk tulang khas Melayu. Kecantikannya sudah bisa dikategorikan sebagai kembang bunga tersendiri. Lebih anggun dari melati, lebih harum dari cempaka, dan juga saat belum jelas aku mengenalnya, kupastikan lebih tajam dia dibanding mawar. Kau mungkin akan beranggapan kalau perempuan cantik serupa demikian akan diimbangi oleh Tuhan dengan kemampuan berpikir yang setara sumbu karet. Tidak. Kau salah. Banyak yang serupa itu memang. Tapi Inara tidaklah termasuk. Pun juga, jika memang pada dasarnya tujuan hidup adalah untuk mencari tenang, maka tidaklah sepatutnya mereka-mereka yang serupa itu kita persoalkan?

Namun. Ya. Tidak bisa juga dikatakan Inara jauh berbeda dibanding mereka. Kau tahu, seorang yang akan mengedepankan perawakannya untuk menutupi azas-azas lain. Akan disenyuminya setiap orang dan dipujinya setiap laki-laki berwajah berak, meskipun jelas, tidak ada keperluan antara satu dengan yang lain. Karena itu tidak ada niat aku mengenalnya, buang jauh harapan mendekatinya. Namun agaknya, sudah sifat alamiah kita sebagai manusia mungkin, mau bagaimanapun indahnya hari-hari, tetap kita dirundungi rasa bosan dan kemuakan. Demikian yang aku tangkap kenapa Inara menyambangiku, seorang yang tak pantas diajaknya bercengkrama, pada sudut warung kampus ini.

Bersimpuh dia duduk pada kursi di hadapanku, sama sekali tidak kuhiraukan, hingga saja hari-hari berikutnya hal yang sama terus berulang. Akan selalu dia tiba tanpa ada angin yang memberi kabar, dan balik ditanyakannya kepadaku hal-hal yang tak lah perlu diberi jawaban. Basa-basi memang telah menjadi tumor di budaya kita untuk setiap orang bisa saling silat lidah dan bermain peran. Menyangkut Inara sendiri, tidak aku ketahui umpan apa yang telah kuserakkan hingga angelfish layaknya dia bisa menempel sebegininya. Entahlah, yang jelas antara aku dan dia hanya perlu beberapa tatapan dan obrolan singkat saja untuk bisa merasa saling terikat.

“Kenapa kamu selalu sendirian?” dia menanyakan.

“Kamu menganggap saat ini aku sedang sendiri?”

“Ha-ha, tidak. Maksudku… ya, kamu selalu terlihat seperti itu. Duduk di sini-sini lagi, memesan itu-itu saja, tidak pernah ada yang menemani. Tidakkah kamu, em… merasa kesepian?”

Laptop aku pinggirkan, rona matanya kutatap diam. “Kamu kosong hari ini, Inara?” tanyaku.

“Nanti agak siang aku masih ada kelas,” jawabnya. “sehabis kelas ada janji pengambilan foto sebentar di kemahasiswaan, ya… kebutuhan iklan kata mereka. Setelah itu baru tidak ada lagi.”

“Nonton film denganku, mau?”

Dia diam, mengangguk. “Boleh.”

“Baiklah, nanti kamu aku tunggu di sini.”

“Tapi-tapi, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi?”

“Inara, dari banyak yang kamu tanyakan mungkin pertanyaan tadi yang belum bisa kuberi jawaban.”

“Ah, enggak asyik.”

“Begini, kamu benar kalau aku tidak memiliki teman. Tapi kesepian? Inara, itu hal lain lagi.”

“Tidak. Aku cuma ingin tahu saja apakah kamu juga merasakan, karena lihat, kamu selalu jauh dari kerumunan orang. Bagaimana hal itu? Maksudku, apakah juga kamu anggap keramaian-keramaian yang ada ini, tidak ada arti sama sekali?”

“Ha-ha-ha, bukannya kebalik? Bukannya aku yang seharusnya menanyakan hal semacam itu kepadamu?”

“Ah! Malesin.”

“Tidak, Inara. Aku tidak tahu.”

“Ya sudah. Aku mau masuk kelas. Kamu mau pergi dulu atau-”

“Tidak, aku hanya akan menunggu di sini.”

Dia memberi senyum.

Layar lebar yang kami lakoni petang itu tidak ada menariknya sama sekali, melainkan pada titik-titik kebosanan, atau karena karya yang ampas itu, aku bisa menyadari bahwa benar telah jatuh hati terhadap perempuan ini. Meskipun dengan itu tetap saja ada rongga, ataupun balik disapa lagi noda perasaan terdahulu. Ya, kau tahu, hari-hari di mana kau pernah salah menempatkan hati, dan tersiksa bertahun tahun karenanya.

Kami keluar dari gedung film saat langit malam mulai menggantung. Kutanyakan pada Inara apakah ia hendak langsung kuantar pulang, dia menggeleng sejadi-jadinya. Dimintanya aku mengikuti ajakannya ke salah satu tempat. Ialah sebuah bar. Entah. Mungkin hanya untuk sebatas melepas penat. Duduk di sisi Inara, berhadapan dengan dua cangkir Bulleit Bourbon, dan diiringi lantunan Never Been To Spain dari Three Dog Night, tidaklah lagi ada kesenangan lain di dunia ini yang kuinginkan. Mungkin, ditambah satu saja. Setelah ini, jika bisa.

“Bagaimana menurutmu film tadi?” tanyaku.

“Kamu sendiri bagaimana?” Inara menanya balik.

“Sampah. Aku tidak suka.”

“Ha-hah, bukannya kamu sendiri yang milih? Kamu suka horor?”

“Tidak. Bahkan tidak percaya setan.”

“Lah terus? Kenapa?”

“Ya, begitu … mau apa lagi, iya? Isi sinema kita hanya itu-itu saja. Adapun yang lain, hanya sebatas karya-karya titipan yang dibuat bukan untuk dinikmati. Kamu, menyukainya?”

“Tidak, aku tidak tahu di bagian mana aku tertidur.”

Kuraba tak jauh di belakang kami ialah kumpulan anak sekolahan tengah digandrungi oleh kumpulan bapak-bapak. Kuketahui itu karena setibanya di sini tadi perempuan-perempuan itu tidaklah dibolehkan masuk oleh penjaga, hingga salah seorang tua-bangka-buruk-rupa itu datang  dan bermain tangan untuk menjemput mereka.

“Apa yang kamu lihat?” sahut Inara.

“Oh, tidak.”

“Miris ya?”

“Apanya?” tanyaku.

“Tidak, tidak ada.”

“Bagaimana tadi sesi fotomu?”

“Seperti biasa, aku hanya perlu mengikuti kata mereka. Tapi tahukah kamu, kenapa itu mesti aku?”

“Ah, Inara. Siapa orang yang tidak tertarik melihat wajahmu terpampang besar pada baliho di pinggiran-pinggiran jalan itu? Bahkan macetnya jalanan kota ini kadang kuanggap itu salahmu juga. Siapa yang tidak  hilang fokusnya saat melihat eloknya kamu.”

“Tidak, Saka. Aku serius. Apakah memang hanya karena wajahku saja? Tidak, kamu memang tidak menyebutkannya, tapi aku paham. Ini hanya karena darah bapakku saja, bukan? Jika pribumi tulen aku seperti kebanyakan orang, apakah tetap akan serupa ini aku diperlakukan?”

Mulutku bergetar tidak dapat memberi jawab.

“Ya, memang begitulah.” sambungnya. “Saka, kamu sendiri, kalau seperti itu, apakah kamu tetap akan sama melihatku?” Inara mendekatkan wajahnya ke hadapanku, nampak matanya berpijar lelah. Pada dekat tatapan itu, perlahan kusambar lembut garis-garis bibirnya dengan mulutku, dia tidak menarik diri, dan sekian detik dunia jadi milik kami.

Inara ceritakan kepadaku, ada hari di mana ibunya berliputan darah dan meraung-raung minta pertolongan, namun tak ada seorang yang mendengar, sedangkan dia belum lagi besar otak di kepalanya untuk paham itu semua. Ialah tak lain karena bapaknya, tidak bisa Inara ceritakan secara rinci kepadaku kenapa bisa terjadi hal demikian, namun hal yang pasti, itu adalah hari terakhir ia melihat bapaknya. Dan ibunya sendiri semenjak itu sudah tidak sama lagi melihat dan menyikapi dia.

Benar aku bersimpati terhadap wanita yang nyatanya malang ini. Setidaknya memang bisa aku paham menyangkut hal yang demikian. Bapaknya yang menghilang: lari. Ibunya yang berubah sikap: benci. Tidak lain setelah diam panjang menyimak cerita-cerita Inara, kuajak dia untuk pulang ke indekosku. Terkuntum kami menutup malam bertelanjang badan bersama, hinggalah pagi menampakkan muka.

“Bangun? Ngampus kamu hari ini?” bisikku di telinganya.

“Tidak, hari ini tidak dulu.” jawabnya menggesekkan pangkal tangan ke pelipis mata.

“Kapan kamu mau pulang?”

“Nanti saja.”

“Baiklah, aku harus pergi, ada jadwal pagi ini.”

Dia mengangguk dengan mata anggunnya setengah tertutup. “Eh tapi, apakah tak apa, ini-”

“Oh, tidak-tidak, tak apa. Di sini bebas, jangan  khawatir.” kuratapi manis wajahnya yang sedang dipantulkan kemuning pagi. “Baiklah, aku bersiap dulu.”

Ia mengangguk.

Berlangsung sudah tiga hari Inara mengendap di indekosku. Menjadikan malam-malamku lebih berarti tentu saja, namun rasanya memang ada yang mengganjal. Selalu kutanyakan padanya kapan ia mau pulang, dan apakah tidak ia mengikuti kelas, baik satu dari dua pertanyaan itu tidak ada yang mendapat jawab. Hanya sering termenung dia di sisiku, dan nampak lesu wajahnya saat aku pergi meninggalkan. Tidak. Tidak karena dia sedang sakit, aku tahu betul. Hingga dua hari berselang lagi dan semuanya masih berlangsung sama. Harus dia aku bujuk. Terlepas mau atau tidak. Ditambah sinis pandang orang-orang di warung itu beberapa hari ini menghujamku.

“Inara, kenapa kamu tak mau pulang?”

“Tidak ada, Sayang. Aku di sini saja, kenapa memangnya? Kamu tidak suka aku tinggal denganmu di sini?”

“Tidak, bukannya begitu, Sayang. Paling tidak kamu pulanglah dulu, beri saja kabar pada ibumu.”

“Menurutmu dia akan sepeduli itu?”

“Sayang, aku tidak tahu. Tapi bukankah ada baiknya begitu? Dan perkuliahanmu, kapan kamu mau masuk?”

Inara membuang muka tak menjawab. Entahlah, bagaimana bisa aku menggerakkan tubuh perempuan ini.

Keesokan petangnya saat aku baru pulang, tidak kutemukan Inara di kamar indekos. Saat hendak badan kubersihkan terdapat gelinang merah di sudut-sudut kamar mandi. Kusiram-siram dan tak salah lagi itu adalah tetes darah yang agaknya mulai membeku. Seseorang datang masuk di pintu. Kulihati dia putih pucat.

“Kamu dari mana? Habis ngapain?”

“Tidak, tidak ada, aku dari warung depan beli makan,” jawabnya menunduk.

“Ya? Betulkah?” dia kudekati, tangannya kujangkau. Plester luka sudah bersilang di pergelangan tangan itu. “Apa ini, Sayang?” dia tak menjawab dan hanya menunduk. “Apa yang kamu lakukan?” kucoba pegang dagunya, dia menghentak, pintu kututup. “Hust-hust, diam-diam, nanti didengar orang apa kata mereka.” kupeluk dia. “Jelaskan ada apa?” kuraba raba pada lehernya juga tertempel plester luka. “Ya Tuhan, kamu sudah  gila?” dapat kurasa badannya begitu gemetar, kupeluk lebih erat. “Jangan, Sayang, jangan lagi lakukan hal-hal semacam itu, tolong aku sangat menyukaimu. Tenang, kamu tenang. Tunggu sebentar, ya, aku mandi dulu, kamu pakai jaketku itu menutup, kita akan jalan ke luar.”

Warna langit telah kuning kemerahan setibanya aku dan Inara di pesisir pantai. Kami bersimpuh duduk di tepian setapak menatap samudra lepas, ditemani sebotol bir dan dua bonggol jagung bakar. Inara sandarkan keningnya di bahuku. Apakah memang sebegini indah hidup jika berpasangan? Entah, belum lagi bisa kupastikan. Tapi ada satu hal yang kini benar dapat kupahami, ialah menikmati habisnya hari dengan saling diam duduk berdua semacam ini, lebih meneduhkan batin dibanding ketika saling bertelanjang badan. Dan nyatanya Inara telah kembali memberiku perasaan itu, perasaan terikat kepada yang lain.

Malam mulai membumbung, kami melangsungkan pulang, dan berhenti sejenak di gerobak makan tepian jalan. Terlepas dari apa yang menimpa Inara siang ini, yang kurasa kini hanyalah keteduhan. Apakah ia juga merasakan yang sama? Aku harap saja. “Sayang, maafkan aku, ya. Aku hanya peduli padamu, hanyalah itu, tak ada maksud lain. Jika kamu inggin tinggal denganku lebih lama tidaklah mengapa. Mungkin jika iya, kamu bisa kuantar pulang untuk mengambil pakaian dan yang lain. Bagaimana?” tanyaku. Inara tak memberi jawab, kosong matanya memandangiku.

“Tidak, Saka.” sahutnya lemah tiba-tiba. “Setelah ini tolong antarkan aku pulang saja.”

“Kamu … yang benar?”

“Iya, benar.”

Jujur tidak bisa aku pahami apa yang sedang ada di pikirannya. Semakin khusyuk kupandangi wajahnya, semakin aku tidak percaya betapa beruntungnya hidupku ini.  “Baiklah kalau kamu mau pulang. Kamu akan balik mengikuti kelas lagi? Temui aku di tempat biasa, iya?” tegasku.

Inara menarik senyum.

Keesokannya kutunggu-tunggu di sudut warung tak ada dia menghampiri. Mungkin saja memang hari ini dia tidak datang ke kampus sama sekali karena badannya masih letih. Sampai pada hari esoknya lagi, aku juga hanya balik mengatung di kursi yang sama, menunggu kedatangan Inara, dari selang menit berganti jam, tetap saja tak kudapati angin-angin tubuhnya. Hingga seorang dari warung sebelah menyahutiku.

“Mas, mohon maaf, saya hanya mau tanya saja, jam berapa hari ini pemakamannya?”

“Pemakaman apa?”

“Maaf, Mas tidak tahu?”

“Tidak.”

“Mas bukannya pacar Mbak Inara?”

“Ehm. T-tidak.”

“Oh, rupanya. Itu Mas, Mbak Inara bunuh diri.”

“Bunuh diri?” ah yang benar saja, masih bisa kurasakan Inara akan segera datang ke warung ini menghampiriku.

“Ya, Mas. kemarin sore di kamarnya. Dia ditemukan gantung diri, tubuhnya berlumur darah, penuh bekas sayatan pisau.”

“Berlumur darah dan bekas sayat? Oh. Ya… ya…” keringat dinginku serasa ingin tumpah. “Ya. Bangsat!”

Segera badan kucampakkan dari warung itu. Menuju ke parkiran. Melewati mading di samping gedung fakultas, sedang bersusun-susun orang-orang di sana mengambil foto. Kudekati kerumunannya. Poster belasungkawa terpampang sekian besarnya di tengah papan. Entahlah, ke mana bisa amarah ini kulepaskan. Benar. Andai saja tidak kuturuti kehendaknya, mengantarnya pulang di malam itu. Andai saja aku bisa lebih peduli, bisa lebih coba mengerti, dan tidak goblok memikirkan kenyamanan sendiri. Ah. Entah!

Tengok orang-orang itu. Sungguh malang dirimu, Sayang. Keramaian yang kamu benci, keramaian yang kamu anggap tak berarti, hingga akhir hayat masih juga kamu dijual-beli. Bajingan! Mau sampai kapan baliho-baliho laknat itu tidak mereka copot? Sebegitu berkembangnya peradaban kita sekarang? Semua empati telah ketus dan yang terasing sudah bukan menyangkut bentuk dan rupa lagi.

Batam, Desember 2025

*) Image by istockphoto.com