“Siang itu, sebelum sore tiba, Siddhartha sampai ke sebuah kota besar, merasa bahagia karena rindu akan persahabatan manusia. Dia sudah lama tinggal di hutan dan gubuk si juru sampan, tempatnya menghabiskan malam sebelumnya, merupakan atap pertama yang menaunginya setelah sekian lama.”

(Herman Hesse, Siddhartha, 2007, Jejak)

KURUNGBUKA.com – Tokoh yang sadar kondisi batin dan tempat-tempat. Ia mengalami pergolakan yang hebat, belum gampang dibahasakan dan dimengerti secara wajar. Maka, ia membuat keputusan-keputusan yang kadang mengejutkan. Perjalanan atau pengembaraan akhirnya dipilih untuk “mengetahui” atau bertahan dalam ketidaktahuan. Yang dicari dan ditemui tidak semuanya ditentukan sejak awal. Rencana memang tersedia tapi segala perubahan akan terjadi selama perjalanan.

Pada saat menilik diri dan semesta, bahasa yang digunakan menampung makna-makna yang dapat terpahami bersama. Namun, ia mulai kesulitan dalam menghubungkan bahasa, pengetahuan, dan pengalaman. Penyebabnya adalah hakikat kebenaran, kebaikan, keadilan, keindahan, dan lain-lain. Kita sedang mengikuti tokoh yang dijadikan referensi bagi para pembaca di Eropa. Tokoh dalam novel yang sebenarnya menguak dunia Timur dan perayaan spiritual, yang suatu masa memikat Barat.

Kita menemukan tokoh dalam novel gubahan Herman Hesse di latar yang membedakan atau mempertentangkan. Artinya, tokoh yang mengerti hutan, desa, kota, pasar, istana, dan lain-lain. Kehadirannya yang sekadar melintas, singgah, atau menetap menimbulkan akibat-akibat yang melampaui keragaan. Jadi, tokoh yang mengembara itu menempuhi jalan yang tampak dan terbayangkan. Ia pun menyadari tempat-tempat yang menerima dan menolak berdasarkan seruan atau bisikan batin. Padahal, tokoh berhak tidak selalu “percaya” yang tersampaikan dalam batin. Mata mengetahui yang tampak dan duniawi, yang sering tidak selaras dengan jagat batinnya.

Pembaca yang biasa menikmati bacaan-bacaan Timur tidak perlu kaget saat membaca novel berjudul Siddhartha. Di situ, ada sejenis “tiruan” atau “pengulangan” dari pengisahan tokoh yang mengakar dan beredar di Timur. Pengarang melakukan sekian perubahan atau penggantian yang tetap saja mengingatkan “alur” yang terpegang di Timur. Yang pantas dimenerti, Herman Hesse mula-mula mempersembahkan ceritanya kepada para pembaca di Barat.

Maka, adegan Siddhartha memasuki dan mau berada di kota besar wajar bila “dipertentangkan” dengan tempat-tempat sebelumnya. Di hutan, ia bersamadi, yang memunculkan sebutan petapa. Hidupnya dalam olah batin, berlatar ketenangan dan pemandangan (alam). Ia dalam pernyataan dan pembuktian yang berterima dengan pengalaman. Waktu-waktu berlalu selama di hutan lekas mendapat “tandingan” di kota.

Yang dilihat adalah keramaian. Namun, tokoh itu membahasakan bahwa kota itu tempat terjadinya “persahabatan manusia”. Pembaca dapat mengartikan pergaulan dan kehadiran masyarakat, yang berbeda dari pengalaman tokoh yang semula terbiasa dengan ketenangan sekaligus jarang dalam pergaulan beragam manusia. Melihat kita, melihat manusia-manusia yang saling berkait kepentingan dan rawan konflik akibat perbedaan. Tokoh yang kita ikuti sedang melihat kota, yang menguak rindu.

Pembaca diajak membandingkan tempat-tempat, yang membuat tokoh itu menetapkan pengalaman-pengalaman yang berbeda. Maksudnya, pengalaman yang berpijak batin dan kesadarannya tentang dunia yang dimiliki banyak orang. Pada akhirnya, kita diminta menebak segala gejolak yang ditanggungkan tokoh yang makin membuat “pertentangan-pertentangan”. Ia masih menyadari sebagai petapa tapi mengerti berada dalam kota, yang sangat berbeda dengan “asuhan” selama di hutan.

Yang terjadi adalah kejutan-kejutan yang tidak semuanya bisa selaras. Konflik dan “melawan” makna-makna yang terperoleh terjadi secara sengit dan membimbangkan. Pada akhirnya, kita bersama tokoh yang sebenarnya “menjerat” dalam penerimaan dan mengikuti kehendak-kehendak.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<