Biografi Sebuah Tanda Tangan

aku dilahirkan di atas kertas
dengan darah biru birokrasi,
mengunyah sumpah jabatan
sambil meneteskan tinta hitam
yang mengabarkan pemakzulan sawah.

aku bukan garis—
aku kawat berduri yang dipoles legalitas,
menyisir peta dengan kuku tajam
membagi-bagi tanah seperti warisan
padahal tuannya masih hidup.

aku diarak dalam rapat
seperti jimat menolak bencana,
dipuji sebagai tanda beradab
meski menetaskan izin
untuk membangun di atas nyawa.

aku dicetak dalam ratusan salinan
yang mengalir ke laci-laci negara,
beranak-pinak menjadi syarat
untuk menambang hujan,
menyegel sungai,
menjual langkah kaki.

aku tak berbicara pada mulut-mulut kering
yang menunggu musim,
tak mendengar batuk para buruh
di punggung bangunan mewah,
aku hanya memeluk stempel panas
dan tersenyum di pigura.

jika suatu hari kau cabik aku
dan tanyakan siapa pelakunya—
aku akan berdesis:
aku tak pernah bertuan
kecuali pada tangan yang menuliskanku.

Garut, 2025

***

Manual Membongkar Negara

halaman pertama: cara melepas lambang burung di dada,
lepaskan satu per satu bulu keangkuhan
yang menutupi luka di punggung rakyat,
cuci darah yang lama mengering di ruang rapat
dan biarkan suaranya melolong dari kolong kursi sidang.

halaman kedua: bongkar peta tanpa kompas,
lihat jalan tol yang menenggelamkan sawah,
jalan tikus yang mengantarkan kontrak gelap
dan catatan utang yang disulam jadi prasasti.
jangan lupakan arah angin yang dijual di lobi hotel.

halaman ketiga: copot semua slogan di tembok kota,
keruk janji-janji seperti kerak wajan gosong,
temukan doa yang dipakai menyumpal mulut
agar protes tak sempat lahir,
bacalah mantra pembangunan yang tak kenal petani.

halaman keempat: bersihkan kaca di gedung tinggi
sampai terpantul bayangan yang lapar
memanggul karung harapan berlubang,
lihat bagaimana tawa pemangku kebijakan
terdengar renyah di atas nasi aking.

penutup: simpan semua alat bongkar
di bawah bantal sejarah,
karena negeri ini pandai membangun kembali
panggung yang sama,
dengan naskah yang terus dihapus
dan disalin ulang,
tanpa pernah menulis nama penontonnya.

Garut, 2025

*) Image by istockphoto.com