Seorang lelaki berambut perak sebahu menghadap belasan peserta kelas dan memerintahkan tugas pertama buat mereka. Ini pertemuan ketiga dari kelas menggambar sketsa di sebuah taman kota yang lenggang. Peserta yang mengikuti kelas ini berasal dari berbagai latar. Ada Beni sang aktivis, Asti siswa yang suka menggambar di sekolahnya, Ibud si pekerja paruh waktu, Nunu si pengangguran, dan masih beberapa lagi peserta pasif dalam kelas itu hanya mengerjakan apa yang lelaki itu perintahkan.
Usai lelaki itu mengatakan peraturan yang dia buat, para peserta saling beradu tatap. Lelaki itu sangat sadar jika ini jauh dari apa yang mereka inginkan ketika mengikuti kelas. Nyaris semua peserta kelas ingin bisa terampil menggambar wajah manusia sesuai dengan wujud aslinya. Akan tetapi, peraturan tetaplah peraturan. Lelaki itu bilang tidak boleh ada yang menggambar yang hidup. Lebih-lebih persis seperti aslinya.
“Kami tahu menggambar manusia itu rumit untuk pemula seperti kami, tapi apa salahnya sehingga kami tidak diperkenankan mencoba, Bang?”
Asti menyikut Beni agar baiknya tak usah banyak bertanya. Beni pun segera menggoreskan pensil pada kertas A3 seperti yang lainnya. Angin bersorak. Rambut Asti melambai-lambai. Pula, rambut perak sebahu lelaki itu.
Beni
Dua minggu lalu aku memutuskan bergabung kelas menggambar sketsa Bang Muk. Pertama kali aku menginjak lantai rumahnya yang serupa pendapa itu, kuakui rumah Bang Muk sangat luas dan nyaris tak ada debu yang menyentuh lantainya. Mataku memindai segala yang tertempel di dinding-dinding dan tiang-tiang. Lukisan cepot dalam bingkai tanpa kaca tampak terarsir oleh butir-butir debu. Aku tersenyum. Muskil debu tak menyentuhnya. Istri Bang Muk tentu tidak akan menyemprotkan larutan pembersih lantai pada bingkai lukisan, bukan? Paling-paling hanya sapuan bulu kemoceng yang terkadang malah meratakan persebarannya.
Pada tiang sebelah lukisan cepot tertempel, aku mulai berpikir tegas pada sebuah bingkai yang tertempel di sana. Gambaran gunung lancip beserta matahari selingkar tiga puluh derajat busur dengan garis lurus pendek sejumlah tiga di atas lingkarnya. Tiruan pancar cahaya matahari.
“Lihatlah mangga jatuh itu, amatilah lubangnya, pindahkan mangga itu ke kertas gambar kalian.” Intruksi dari Bang Muk kepada kami.
Asti
Aku lekas mengamati mangga yang dimaksud Bang Muk. Bersama Mas Beni aku masuk kelas menggambar ini, dua minggu lalu. Mas Beni mengajakku agar waktuku habis oleh kegiatan di luar rumah. Aku suka menggambar. Guru seni budaya selalu memuji gambarku. Aku terampil menggambar benda-benda. Seperti vas, guci, sepeda onthel kuno, dan benda-benda antik yang kutiru dari internet. Pada saat Mas Beni mengajakku masuk kelas sketsa, aku berharap aku bisa menggambar rupa sempurna. Manusia, hewan, atau dewa-dewa. Namun, untuk pelajaran pertama menggambar ini, Bang Muk justru meminta kami menggambar mangga busuk.
“Lihatlah kabel-kabel di atas kalian. Saling bertumpang. Bisa kalian tarik kabel itu ke kertas gambar kalian.”
Aku memerhatikan Bang Muk. Kutengok samping dan belakang, mata para peserta menengadah. Menyipit menghindari pias matahari jam sembilan pagi. Kertas gambar mereka masih tampak bersih. Sebagian sudah ada bekas goresan pensil, yang mencoba dihapus bersih. Bang Muk membuka kacamatanya. Mata kami bertemu.
“Jangan ada yang menghapus apa yang sudah pensil itu gores pada kertas kalian,” tegur Bang Muk. Nampaknya dia melihat juga muka kertas A3 milik seorang peserta sebelah kiri Bang Muk yang penuh bolot karet penghapus.
“Mengapa? Tidak bisa?” tanya Bang Muk kepada kami, meski matanya itu tepat menyorotiku.
Ibud
Pekerjaanku sebagai barista membawaku berada di sini. Di kelas menggambar sketsa. Tujuanku tentu saja agar gambarku tidak sebatas lambang hati dan dua angsa bercinta di permukaan buih kopi. Ini pertemuan ketiga yang membuatku menyesal telah memilih kelas ini. Pertemuan pertama, aku dan mereka semua dijamu di rumah Bang Muk yang kami sepakat menyerupakannya dengan pendapa. Di tembok dan tiangnya yang besar dan kokoh itu tampak seperti rumah seniman pada umumnya, ada banyak lukisan.
Lukisan wajah cepot yang saat itu menjadi perhatian mereka tidak menjadi perhatianku. Aku menjumpai lukisan cepot di rumah nenekku, bersanding dengan lukisan wayang lainnya, jadi aku merasa kagum. Di sampingnya, oh sungguh tak kusangka, ada gambaran anak taman kanak-kanak yang belum diwarnai tertempel di tiang pendapa. Namun, aku maklum, mungkin itu gambar anak Bang Muk yang diapresiasinya. Tidak buruk.
Aku berjalan lagi, mataku menaksir lukisan karung beras beserta kutu-kutu yang merayap, banyak sekali karungnya hingga ukuran bingkai itu penuh. Di bawahnya tertulis bilangan enam dan nol. Boleh jadi itu era? Mungkin Bang Muk segelintir orang yang suka menandai sesuatu dengan lambang bilangan.
Pertemuan kedua, Bang Muk menjelaskan teori layaknya guru seni rupa. Bedanya, Bang Muk lebih pandai jika disamakan dengan guru seni rupa umumnya. Pada pertemuan kedua, aku sudah yakin Bang Muk orang yang tepat mengajari kami menggambar rupa yang sempurna. Seperti tokoh biasa, tokoh pewayangan, tokoh yang agung kastanya. Namun, di pertemuan ketiga ini mengapa malah dia menyuruh kami menggambar mangga busuk dan kabel kusut? Mungkin ini pelajaran bagi pemula?
Bang Muk menepuk-nepuk pahanya lamban berirama. Di atas kursi panjang taman yang dia duduki, dia mengamati semut yang merubung bekas permen karet stroberi. Barangkali baru saja dilepeh dari mulut bocah pagi tadi hingga manisnya bisa semut-semut itu nikmati bersama-sama kawannya. Para peserta mengikuti pandangan lelaki itu tak terkecuali aku. Salah seorang menyeletuk sangat lirih, tetapi masih bisa kudengar. “Mungkin kita juga akan ditawarkan untuk menggambar permen karet yang dikerubung semut-semut itu,” katanya.
“Saya hanya ingin kalian menjadi seniman yang bahagia kelak.” Bang Muk membuka suara.
“Seniman yang bahagia itu bagaimana, Bang?” tanya peserta paling belakang.
“Bukannya seniman yang bahagia adalah seniman yang mampu menciptakan karya seni yang bagus? yang menakjubkan menyerupai aslinya?” sahut lainnya.
Bang Muk mendengus. Tubuhnya sejajar dengan arah pandang para peserta. Hanya saja, ketika kuikuti ke mana tatapannya, tatapan itu jauh sekali ke depan melebihi jarak duduknya dengan duduk peserta paling belakang.
Bang Muk bercerita. Pada pembukaan ceritanya, para peserta tercengang. Bang Muk bilang, dia bukan seorang pelukis terkenal, tidak akan pernah mendapat penghargaan, dan tidak akan dikenal kurator ternama. Bang Muk juga bilang dia menggambar hanya untuk mengeluarkan imajinasinya tentang sebuah keadaan yang dia alami di kesehariannya. Keadaan yang membuat suara jiwanya tak terima.
“Lalu mengapa membuka kelas?”
“Nyari uang segitunya.”
“Kita harus apa?”
“Tidak usah kembali setelah ini.”
“Vi-ral-kan!”
Suara-suara itu nampaknya sampai pada telinga Bang Muk. Dia menyahut kasak-kusuk peserta di belakangku ini.
“Saya tak pernah menarik Anda sekalian agar masuk kelas saya. Saya hanya menyebar brosur untuk kelas menggambar dan menjadi seniman yang bahagia lalu kalian semua mendaftar. Ya beginilah kelas menggambar dan menjadi seniman bahagia saya ajarkan.”
Nunu
Aku sudah membuka aplikasi kamera di ponsel. Segala ucap yang keluar dari mulut lelaki ini akan kurekam dan nanti akan kusebarkan di media sosial. Habis siapa yang tidak tertipu dengan kelas semacam ini? Kami sudah membayar sejumlah uang pendaftaran yang kira-kira bisa untuk hidup seminggu di kota, dan si tua ini hanya mengoceh tidak penting? Akan kutunggu dia berkata panjang lebar.
Aku merasa sudah sangat tertipu. Aku membobol celenganku untuk ikut kelas ini agar aku bisa menggambar orang-orang yang tidak kusukai dengan modifikasi di wajahnya, misal kuda berkepala monyet, buaya hydrosyphalus, tikus pakai peci, sementara si tua ini malah melarang kami menggambar rupa. Kami disuruh menggambar mangga busuk dan kabel kisut. Apa guna?
Dia beranjak dari bangku panjang itu. Tangannya dikebelakangkan. Kameraku terus mengiringinya.
“Kemampuan saya tidak begitu saja saya dapatkan. Kemampuan menggambar ini diwariskan. Dari mendiang bapak sayalah saya diajarkan untuk memaklumi setiap gambar tidak sempurna untuk menjadikannya gambar sempurna.”
“Bapak saya bilang, semua akan dimintai keterangan panjang-lebar. Jika kita menggambar manusia misalnya, dan tidak sempurna, kita mesti menjelaskan secara rinci. Untuk itu, agar menjadi seniman yang berbahagia marilah kita berdamai dengan ketidaksempurnaan goresan pensil kita. Hindari membuat gambaran yang persis aslinya, lebih-lebih manusia.”
Aku tersungut. Bagaimana katanya tadi, bapaknya bilang? Jadi dia nurut bapaknya? Apa maksudnya seperti itu. Kalau tidak bisa berpendirian minimal jangan punya murid. Aku menahan geram ini sekeras-kerasnya. Kameraku terus menyorotnya.
“Jadi, mari apabila pensil telah menyentuh kertas, jangan diangkat. Ketika pensil telah menjelajah permukaannya, jangan berhenti. Biarlah pensil melahirkan wujud sesempurna baginya, meski bukan kesempurnaan yang kita mau.”
Si tua duduk lagi. Sialnya, dia tak memberi kejelasan akan ucapannya. Maksudku dia tidak mengatakan langkah-langkah menggambar dengan gamblang. Rugi sungguh aku bayar. Sebuah notifikasi muncul di layar ponselku. Ruang penyimpanan hampir habis. Ah, begundal tengik!
Bang Muk
Aku mengamati satu per satu peserta kelas. Tampak sekali di wajah mereka, rasa ingin menggugatku. Aku mewajarkannya, persis seperti mendiang bapak mewajarkanku ketika menggugatnya perihal gambaran. Waktu itu aku memintanya menggambar presiden. Namun, bapak tidak pernah mau menggambar presiden yang kuminta. Aku selalu diminta menggambar objek lain.
“Kita menggambar kapuk beterbangan dari dalam sarung bantal saja ya, Le.”
Aku sangat ingat betapa bapak bersikeras tidak mau menggambar wajah presiden ketika aku menangis kencang untuk memintanya. Seingatku kala itu usiaku masih tujuh tahun dan baru mengenal siapa yang orang-orang sebut sebagai presiden.
Aku merengek-rengek, tetapi bapak tidak juga luluh. Kecewa sudah pasti, apalagi aku tahu bapak selalu menggambar bunga matahari yang sangat sempurna, mirip aslinya. Begitu pula menggambar perahu kertas yang mengapung di genangan air hujan, semua yang bapak gambar selalu bagus. Hanya saja yang kuheran bapak tidak pernah mau menggambar presiden.
Mau bagaimanapun, aku memaafkan bapak. Aku tidak lagi meminta bapak menggambar apa yang tidak ingin dia gambar. Namun, aku bukan bapak yang sentimen terhadap makhluk-makhluk bernapas. Begitu umurku dua belas tahun, aku mencoba menggambar hewan yang kukira sangat sangar; banteng. Pertama kali aku tahu hewan bernama banteng itu dari perut burung garuda di pigura atas papan tulis sekolah.
Aku berhasil menggambar sayap garuda (tidak dengan kepalanya), aku berhasil membuat rantai, kapas dan padi, juga bintang dan pohon beringin, tetapi aku kesusahan menggambar banteng. Aku mengadu pada bapak. Kata bapak, gambarlah sesuatu dengan tidak sempurna, maka jangan menggambar sesuatu yang sempurna.
Bapak bercerita kepadaku tentang kakek dan kawan kakek yang gambarannya sangat sempurna tapi dia harus berurusan dengan moncong senapan. Entah bapak hanya membual atau sungguhan, tapi bagiku saat itu cerita bapak tidak seperti asal-asalan. Kawan kakek sempat ditawan oleh orang-orang berpanggul senjata karena menggambar manusia-manusia persis seperti aslinya. Tidak hanya rupa orang-orang yang digambarnya, tapi detail peristiwa-peristiwa juga digambarnya persis.
Kawan kakek berhasil lari dan tidak lagi menggambar sempurna setelah itu. Kawan kakek bilang pada kakek dan bapak agar jangan menggambar sesuatu yang sempurna, tapi buatlah sesuatu yang tidak sempurna dengan sempurna. Pesan kawan kakek bagai mitologi di keluarga kami. Diimani dan dilakoni. Buktinya, bapak tak mengeluhkan apa-apa semasa hidupnya. Bukankah berarti bapak telah menjadi seniman yang bahagia?
Saat ini aku hanya menjalankan sebagaimana mitologi itu untuk mencetak pelukis-pelukis yang bahagia, meski aku sendiri belum pernah merasakan bahagia dari ragam penghargaan selayaknya seniman pada umumnya. Tapi aku percaya, beginilah rasa bahagia itu. Tidak bagaimana-bagaimana.
Langit menggelap. Titik-titik hujan turun. Peserta membubarkan diri. Sebagian peserta meneduh dan menggambar air yang berjatuhan, sebagian memasukkan kertas gambar ke tas dan pulang tanpa pamit. Nunu mendumal, videonya tidak tersimpan di galeri, sementara lelaki berambut perak belum sadar dari lamunannya.
“Bang, hujan, Bang!” teriak Asti.
*) Image by istockphoto.com













Endingnya suka.
Endingnya suka