Hari pertama bekerja di rumah sakit ini sungguh tidak nyaman. Aku bisa merasakan atsmosfer tidak nyaman itu dari tatapan para penghuni rumah sakit ini. Aku rasa akan sangat sulit bagiku untuk bekerja di sini.

“Diana, aku tahu sulit harus berbaur dengan orang-orang di sini, namun cobalah menyesuaikan diri. Kamu hanya perlu mendekati pasien, tahu permasalahannya, obati, lalu selesai. Hanya sebatas itu.”

Aku tersenyum mengangguk mendapati kepala perawat menghampiriku dengan kalimatnya itu. Wajahnya sangat teduh dan dia sudah 10 tahun di rumah sakit ini, aku tidak melihat sedikit pun kelelahan pada dirinya.

“Sepertinya senior sangat menikmati pekerjaan ini,” ucapku dengan memanggilnya senior. Aku memanggil semua di sini dengan sebutan senior.

“Kamu hanya perlu melakukan tugasmu sebagai perawat, jangan terlalu memasukkan ke dalam hati setiap masalah pasien, jika kamu terlalu memikirkan masalah pasien yang ada nanti kamu ikutan gila.”

Aku mengangguk mendengar nasihatnya itu dan segera berlari karena namaku dipanggil perawat lainnya.

“Cobalah mendekati pasien, agar kamu mulai terbiasa bekerja di sini,” ucap senior Anna, satu tahun di atasku.

Dengan penuh keyakinan, aku mengamati satu per satu pasien untuk memilih mana yang harus aku dekati terlebih dahulu. Seorang pasien yang tampak rapi dan masih muda, aku memilih menghampirinya.

“Halo Nadia!” Aku melambaikan tangan.

Gadis yang bernama Nadia tadi menatapku dengan tajam, tak suka dengan kehadiranku. Ah, aku rasa salah memilih.

“Kamu tampak sehat, mengapa kemari?”

Aku memperhatikan baju yang aku kenakan, tidakkah tampak bahwa aku seorang perawat?

“Aku perawat baru di sini,” ucapku menunjuk bajuku.

Plak!

Sebuah tamparan mendarat di pipiku. Nadia tersenyum bahagia saat aku meringis kesakitan karena tamparannya.

“Berani-beraninya kamu membohongi saya? Kamu juga pasien di sini, mengapa harus mengaku menjadi perawat? Dasar gila!”

Nadia tidak berhenti berbicara sambil menunjuk-nunjuk diriku. Dia tak suka saat aku bilang bahwa aku perawat di sini.

“Baiklah, saya juga pasien di sini. Salam kenal!” Ucapku dengan berbaik hati menahan amarahku. Seorang perawat memang harus seperti ini.

Namun, tiba-tiba saja Nadia mendekat ke arahku dan berusaha melepaskan bajuku. Katanya, aku tidak cocok memakai baju perawat ini.

Aku berusaha mati-matian menahan tangan Nadia dan tetap mencoba sabar menghadapinya karena ini adalah sebuah ujian bagi perawat baru. Semakin lama, gerakannya semakin agresif sehingga bajuku robek dan memperlihatkan dalamanku. Sontak saja, emosiku tidak terkendali.

Sebuah tamparan kembali mendarat, namun kali ini bukan di pipiku, melainkan pipi Nadia. Semua ruangan menatap ke arah kami. Nadia menangis sangat kencang, hingga para perawat datang.

“Apa yang kamu lakukan Diana? Ke ruangan kepala sekarang juga!”

Di sinilah aku sekarang, ruangan kepala dengan tak berani sedikit pun mengangkat kepalaku.

Senior Sri, merupakan kepala perawat di sini dari tadi tak berhentinya berbicara. Dia sibuk menasihati dengan banyak sekali kalimat. Fokusku bukan ke kalimatnya, namun pada telapak tanganku yang memerah. Name tag perawatku juga masih terpampang rapi di bajuku, namun mengapa dia tak mengenaliku sebagai perawat?

“Dia ke sini karena trauma disakiti dan dilecehkan ayahnya, jadi semua yang dia lakukan kepadamu hari ini adalah bentuk trauma yang dialaminya. Kamu harus lebih paham hal ini, bahwa banyak dari mereka memperlakukan kita layaknya kita adalah diri mereka sebelum datang ke sini.”

Aku mengangguk mengerti, walau aku masih tak mengerti mengapa harus melampiaskan pada perawat? Kami yang menjaga dan merawat mereka, bagaimana jika aku mempunyai dendam nantinya?

Aku kembali bekerja setelah satu jam lamanya senior Sri berceramah dan memberikan beberapa informasi baru agar aku tidak kembali salah langkah. Dari beberapa pasien yang dijelaskan Senior Sri, aku mengingat seorang pasien yang ada di hadapanku ini. Seorang ibu-ibu dengan boneka di tangannya.

“Boneka yang cantik,” aku memuji boneka yang sudah dianggap anaknya itu.

“Minumlah obatmu, Nak. Tidak baik memukuli orang seperti tadi, nanti perawat akan datang memarahimu.”

Aku membisu. Kali kedua aku dianggap sebagai pasien. Ada perasaan tidak terima dari wajahku, rasa kesal, dan rasa ingin marah. Namun, aku berusaha menahannya.

“Aku perawat baru di sini, bu. Mohon maaf soal yang tadi.”

Ibu di hadapanku ini mengelus lembut lenganku. “Tidak apa-apa, Nak. Memang menjadi waras adalah impian kita semua.”

Dia tidak mempercayai ucapanku? Dia masih menganggap aku pasien di saat aku memperlihatkan name tag dan bajuku?

Baiklah, aku butuh pendapat lainnya. Rasa ingin membuktikan bahwa diriku perawat sudah menggebu-gebu.

Pasien ketiga, seorang lelaki umur 32 tahun yang gila karena pinjaman online. Aku mendekatinya dan menyerahkan sebuah jeruk padanya. Dia memakan jeruk itu dengan lahap dan aku sibuk bercerita tentang diriku yang mana aku memperjelas bahwa aku adalah perawat.

“Uangku mana? Uang yang aku pinjamkan habis ke mana? Mengapa rumahku ramai sekali?”

Aku bernapas lega, akhirnya ada yang normal seperti seorang pasien pada umumnya.

“Aku tidak punya uang, jangan memaksaku membayarnya!”

Aku berusaha menenangkannya. Aku lega sekali karena akhirnya ada yang menganggap aku perawat.

Namun, tiba-tiba saja semua kelegaanku itu berubah menjadi amarah.

“Kamu ini gila! Orang gila! Mengapa mengambil uangku? Mengapa memaksaku membayarnya? Dasar pasien gila!”

Pasien?

Aku menunjukkan name tag beserta baju perawatku.

Dia menggeleng, “pasien ini gila! Dia sangat gila!”

Tidak, aku tidak bisa meladeni orang gila ini.

Pasien selanjutnya, aku harus mendapatkan satu pasien hari ini.

Kali ini, lelaki tua yang sedang asyik menikmati pemandangan di dekat jendela. Aku berdiri di sebelahnya, namun kakek itu tetap fokus pada pandangannya.

“Pemandangan indah itu memang selalu dinantikan banyak orang. Katanya, dengan melihat pemandangan saja hatimu sudah tenang.” Ucapku berbasa-basi.

Kakek itu menatapku dari atas hingga bawah. Aku yakin, pasien ini menyadari bahwa aku perawatnya.

Kakek itu kini lurus menatapku, “apa saja rasa sakit yang kamu alami, Nak?”

Sontak saja keningku berkerut. Tidak mungkin dia juga menganggapku pasien.

Aku tersenyum, “tidak ada, aku di sini menyembuhkan pasien. Tidak mungkin aku sakit, karena jika sakit maka pasienku tidak akan sembuh.”

Kakek itu kembali menatap pemandangan semula, langit yang cerah sekali, namun kami yang di dalam tetap nyaman karena berada di bawah pendingin ruangan.

“Matamu tampak sangat lelah, jiwamu juga tidak kalah lelah. Mengapa kamu kemari jika tidak ingin dirawat?”

Sudah kali keempat dan tidak satu pun dari mereka yang menganggapku perawat. Amarahku memuncak, jendela tertutup tadi aku buka dan mendorong lelaki tua itu ke sana. Suara seseorang terjatuh mengisi keributan ruangan ini. Aku bisa melihat di bawah sana lelaki tua tadi sudah berlumuran darah.

Semua berteriak histeris dan berlari kesana-kemari. Bahkan para perawat tidak bisa menenangkan mereka semua.

Aku? Masih diam membisu memperhatikan darah yang memenuhi halaman rumah sakit. Senyuman terbit di wajahku.

*) Image by istockphoto.com