Di Antara Dua Kereta

Peron ini dipenuhi orang
yang sama-sama ingin pergi.

Ada yang menuju pulang,
ada yang menuju lupa.

Aku berdiri di tengah,
mendengar pengumuman
yang tak menyebut namaku.

Kereta datang
lalu pergi
tanpa menunggu aku yakin.

Di antara dua jadwal
aku belajar:
ragu pun
punya tempat berdiri sendiri.

Aku menggendong pertanyaan,
memilih diam,
meski merasa
tak selalu berarti.

2025

***

Barang Tertinggal

Di kantor kehilangan
aku tidak menyerahkan benda.

Aku menyerahkan
beberapa tahun hidup
yang tercecer.

Petugas hanya mencatat:
warna: kusam
kondisi: pernah berharap

Barang-barang seperti ini
biasanya tidak diambil kembali.

Aku mengangguk,
paham.

Aku pulang
melupakan ingatan,
membiarkan barang-barang itu
berserakan
di dalam kepala.

2025

***

Catatan Kecil di Meja Makan

Piring kosong
tidak selalu berarti kenyang.

Ada percakapan
yang berhenti
sebelum selesai.

Aku mengunyah ingatan
pelan-pelan,
berusaha tidak tersedak
oleh hal-hal
yang tak sempat dibicarakan.

Makan malam selesai.
Sunyi
masih tinggal.

Tersisa kata-kata
di kepala,
mengingatkanku
bahwa tak semua hal
harus selesai sekarang.

Cukup dijalani
satu per satu,
dengan langkah
yang pelan.

2025

***

Sesuatu Tentang Pulang

Pulang tidak selalu
berupa rumah.

Kadang ia
hanya kursi kosong
dan lampu
yang dibiarkan menyala.

Aku masuk
tanpa disambut,
meletakkan lelah
di sudut paling aman.

Di tempat seperti ini
aku boleh
tidak menjelaskan apa pun.

Bahwa aku juga manusia,
retak seperti serpihan kaca,
dan memilih
diam
untuk bertahan.

2025

*) Image by istockphoto.com