alkisah seorang perempuan
ia berjalan di malam yang p a n j a n g,
malam yang menjahit sunyi ke ubun-ubun
menyusuri gang sempit dengan langkah yang ditahan.
di jemarinya, luka menggumpal:
rahasia yang digenggam agar dunia tetap utuh.
amarahnya tak bersuara,
karena nama-nama untuk marah
telah dicabut dari lidahnya sejak kecil.
beberapa luka tak punya pintu keluar,
hanya terowongan gelap dalam dada
tanpa akhir yang menenangkan.
wajahnya dihiasi senyum, bukan dari kebahagiaan,
tapi dari pelajaran panjang tentang bertahan.
ia telah lama menghapal bentuk kalimat yang aman
agar tidak ditanya-tanya, agar tidak dianggap gila,
agar tidak menjadi beban.
setiap malam ia berdoa,
tapi doanya berubah jadi kawanan kecoak
yang terbang ke langit,
menabrak pintu surga dan jatuh lagi ke wajahnya.
meninggalkan bau asam yang tak bisa ia bilas.
ia perempuan seribu ibu,
yang menanggung warisan diam dan luka.
di matanya, dunia adalah altar.
tempat luka dipajang tanpa upacara.
dan tubuhnya, rumah yang sering dipaksa diam
oleh tangan-tangan yang tak segan mengutuknya,
mengatur geraknya,
menulis nasibnya,
dengan tinta pejantan yang mengepal
dan menggelegar.
***
setelah tubuh dijarah*
lupakan obat tidur
ketika aku masih mendengarkan desis rayuannya di kepala
lupakan pula air hangat dan garam
ketika tubuhku masih asing dengan cermin
dan buatlah rekaman
ketika aku teringat ranjang tempat suaraku hilang di tenggorokan
boleh dalam format mp4
sebuah luka diam-diam matang di dadaku, seperti apel yang tak pernah sempat kupetik
atau format mkv
aku membasuhnya dengan doa-doa basi, tapi doa itu hanya jatuh seperti hujan di musim kemarau
yang mana saja asal cukup jelas untuk menjadi bukti
sejak kapan hujan menerima: jatuh adalah takdir yang tak bisa ia tolak?
lalu cabik dengan pisau berkarat, biar daging ingatan mengelupas satu per satu,
biar darahnya menetes sampai memenuhi kepala
rasa malu dan bersalah menempel di kulitku, selengket getah daun jarak
atau bisa juga menunggu sepuluh tahun lagi, lalu kunyah pelan-pelan dengan lambung sendiri sampai usus ikut terkoyak
dalam hati aku berharap, semoga diamku sampai ke purgatori
*terinspirasi dari puisi “Saya Rukiah di Pasar Suanggi Sementara Saya Belum Siap Saya Sudah Siap Koak Koak dan Menari Bulan di Tanah Tumpah Darah Kami” karya Bobi Tuankotta.
(Agustus, 2025)
*) Image by istockphoto.com














indah banget💗