IN VINO VERITAS

I
Meramu malam, agar pagi
tak sempoyongan.
Gelas kesekian kadang beri inspirasi,
lebih sering mengorek luka
& penyesalan & rasa ngeri
pada keberulangan. Sungguh,
aku ingin pulang.

II
setelah beberapa gelas
yang kau butuhkan barangkali
keberanian menerima
untuk hal-hal esensial yang konstruk
kita tidak ada beda
: titik-titik kecil dalam gerombolan anonim

setelah beberapa gelas
yang kau butuhkan barangkali
keberanian jatuh tertidur
alih-alih membunuh dirimu
bahwa kau bisa
memberi makna
yang berbeda

aku tak memberi penanda waktu
untuk puisi-puisiku
aku tak mau keburu mati
sebelum kau membaca puisi-puisiku

III
Kota ini melesat sedemikian gegas
& aku merangkak ke arah berlawanan
Kesia-siaan terbaik yang aku bisa kerjakan
sejak kau katakan tak mungkin aku terbang
sebab ke balkon ini saja kita butuh 17 anak tangga

Kejujuran yang tiba terlambat sudah amat menyakitkan
apalagi kebohongan. & aku yang menolak keduanya
terbang juga saat menjelang pagi. Meninggalkan kau
di bawah meja dengan semangkok buah anggur
& harapan agar tak ada lagi kebohongan
yang memaksa kau berlari 5 km setiap hari

IV
Aku tak lagi mengenal diriku yang dulu

Kau, bukannya tak mengenal dirimu yang dulu
Kau memilih jadi asing sebab jadi dirimu
yang dulu—bahkan untuk sehari saja
akan sangat menyiksa. Sebab
tak ada lagi yang tersisa
selain dirimu sendiri.

Berani kau membayangkan hari esok?

Biarlah hari ini usai, dengan rasa syukur
yang tak berkurang sedikitpun.

Tahu kau kenapa orang mabuk jadi
percaya diri & bijaksana?

Dia mengerti bahwa tidak satu orang pun
yang mendengarkan.

***

SILINDUR

Anjing merah seorang gerilyawan
suatu waktu menantang gelapmu
menyusur ketakpastian yang menakutkan
aku yang hidup dalam tutur moyangku

Tapi hidup selalu berbaik hati
Menawarkan cara tak biasa
mencicip yang pasti: mati

Dan apakah yang biasa?
Duduk menunggu gaji
di ruangan berpendingin

Tanpa kesempatan memeluk batu-batumu
dan menerka muasal jerami yang terbawa
aliran bening airmu

Pulang aku kini
dengan buah tangan seutas temali
Bersama para pemberontak
Mengais sisa-sisa kenangan
yang tak sempat ayah ceritakan
Mencari anjing merah seorang gerilyawan
yang belum juga kembali.

***

DEMIKIANLAH KESUDAHANNYA

Selalu ada hal-hal yang kita biarkan tak dibicarakan
Dan yang kalah selalu kedua pihak: 
dia yang tak lagi bercerita &
dia yang tak lagi peka

Harapan membuatmu tidak nyaman
Tapi yang membunuhmu perlahan
ialah ketaksanggupan melepasnya

Aku pernah percaya bahwa
percaya pada sesuatu bisa
mencegah kesedihan

Apa yang aku percaya sekarang?
Merasa tak kesepian cukuplah

Sedang kau sudah sepenuhnya asing
Kita punya hidup masing-masing

Demikianlah kesudahannya: aku hilang percaya
& kau malah menemukan keyakinan baru
pada dalil ribuan tahun yang lalu.

*) Image by istockphoto.com