KURUNGBUKA.com – Saya baru saja menonton film Dia Bukan Ibu garapan Randolph Zaini yang diproduksi oleh MVP Pictures, dengan produser Raam Punjabi dan skenario hasil kerja sama Randolph Zaini, Titien Wattimena, serta Beta Ingrid Ayu. Film yang diangkat dari thread @jeropoint di X ini mengisahkan sesuatu yang dekat dengan keseharian kita yaitu hubungan ibu dan anak tetapi dikemas dengan nuansa horor thriller yang cukup segar dan sesekali dilapisi komedi dengan porsi yang pas.
Cerita dimulai setelah dua tahun perceraian orang tuanya, Vira (Aurora Ribero) tinggal bersama sang adik, Dino (Ali Fikry), dan ibu mereka, Yanti (Artika Sari Devi). Yanti yang dulu hancur karena ditinggalkan suaminya mendadak berubah drastis: tampil lebih ceria, modis, sukses, mampu membeli rumah baru sekaligus membuka salon yang entah bagaimana selalu ramai meski lokasinya kurang strategis. Perlahan, Vira mulai menyaksikan perilaku ibunya yang janggal: melukai pelanggan, menyerang anaknya sendiri, lalu bertindak seolah tidak ada yang terjadi. Pertanyaan pun muncul—masih adakah sosok “ibu” di dalam diri Yanti?
Film ini sangat terbantu dengan akting para pemainnya. Aurora Ribero tampil natural, Ali Fikry menghadirkan sisi adik yang menggemaskan sekaligus berani, dan Artika Sari Devi berhasil memerankan ibu yang menawan sekaligus menakutkan. Chemistry antar pemain terasa meyakinkan, membuat hubungan ibu-anak di layar tetap hidup. Bahkan dengan latar yang sebagian besar hanya di rumah, film ini tidak terasa membosankan, justru terjaga dinamikanya.
Namun, beberapa hal membuat film terasa kurang bulat. Beberapa detail cerita muncul tapi dibiarkan tanpa tindak lanjut. Semakin lama saya menonton, semakin terasa bahwa film ini serba tanggung. Ada adegan yang terasa art-house, seakan sedang bermain di ranah festival, tetapi kemudian kembali lagi dengan treatment populer.

Beberapa detail yang muncul juga seperti dibiarkan tanpa penjelasan: kenapa anak-anaknya tidak pernah diperlihatkan sekolah meski ibunya sukses, kenapa kucing menjadi korban tapi tidak dikaitkan dengan konflik utama, atau kenapa vlog konten horor yang dibuat Vira dan Dino tidak pernah benar-benar menjadi planting untuk sesuatu yang penting. Padahal, sejak awal hubungan mereka sudah digambarkan dekat tanpa perlu tanpa perlu ada dialog bahwa adiknya ingin kembali akrab dengan kakaknya.
Ambience film juga kadang jomplang: promosi salon memakai selebaran seakan jadul, sementara di sisi lain anak-anaknya aktif membuat konten video, membuat linimasa terasa kabur. Adegan ritual pelepasan susuk juga lebih menyerupai fantasi gelap ketimbang berangkat dari tradisi yang akrab di Indonesia, sehingga sulit untuk dipercaya sepenuhnya. Motivasi perubahan Yanti pun tidak sepenuhnya jelas. Film menyinggung perceraian sebagai pemicunya, tetapi sang ayah hanya muncul sekali tanpa dialog. Padahal, alasan ini krusial karena menjadi dasar mengapa Yanti mencari jalan pintas lewat susuk dan ritual—termasuk juga motivasi Vera yang tidak jelas goalnya sejak awal apa. Ditambah jumpscare yang terasa berlebihan di beberapa titik.
Meski begitu, secara keseluruhan film Dia Bukan Ibu tetap saya rekomendasikan. Film ini menghadirkan hiburan yang berbeda, horornya terasa segar, komedinya efektif, dan kualitas akting para pemainnya sangat layak diacungi jempol. Saya sendiri menontonnya dalam undangan special screening di Bintaro Xchange XXI. Film ini akan tayang serentak di bioskop pada 25 September 2025.
Skor: 7/10.
*) Image by imdb.com













