KURUNGBUKA.com, SERANG – Selama lebih dari dua dekade, publik mengenal Heru Anwari sebagai sosok yang akrab dengan kecepatan, risiko, dan ketinggian. Ia menaklukkan arena di Asia, Eropa, Amerika Utara hingga Australia-Oseania, melayang di udara dengan sepeda BMX-nya, menjaga keseimbangan dalam hitungan detik yang menentukan. Namun menjelang Ramadan 2026, Heru memperlihatkan sisi lain dirinya yang lebih hening dan lebih reflektif melalui peluncuran buku esai berjudul Suara dari Alaska dan Sejumlah Esai Lainnya yang akan digelar pada 14 Maret 2026 di Rumah Dunia, Kota Serang.
Buku ini lahir dari perjalanan panjangnya selama enam bulan di Amerika Serikat dan Kanada pada 2024. Di sela tur, pertunjukan, dan perjumpaan lintas budaya, Heru menyimpan catatan-catatan kecil tentang kegelisahan, syukur, jarak, juga tentang dirinya sendiri. Dari situlah esai-esai ini bertumbuh—bukan sebagai laporan perjalanan, melainkan sebagai upaya memahami hidup dari jarak yang lebih sunyi.
Heru pernah berkata bahwa menjaga keseimbangan di atas sepeda telah ia pelajari selama 20 tahun, tetapi menjaga keseimbangan batin adalah tantangan yang berbeda. Buku ini menjadi jejak proses itu—sebuah usaha untuk tetap tegak di antara puncak keberhasilan dan lembah ujian hidup.
Musisi sekaligus penulis lagu Jason Ranti melihat sisi itu dengan cara yang khas. Dalam testimoninya di dalam buku, ia menulis, “Kita tahu sama tahu, semakin ke sini semakin sulit menemukan keseimbangan hidup di dunia maya & di dunia nyata. Garis keduanya makin lama makin kabur. Terlepas dari pertanyaan tentang mencari keseimbangan itu perlu atau tidak, Heru saya pikir salah satu manusia yang dengan segala upaya ala dirinya sendiri (entah ia belajar dari mana), tampaknya cukup berhasil menemukan keseimbangan, paling tidak versinya sendiri.”

Jason menyoroti bagaimana Heru tetap aktif secara fisik sekaligus hidup dalam pikirannya. “Ia urban, gerakannya cepat, tapi tampaknya ia selalu bisa menemukan waktu jeda untuk merefleksikan berbagai pengalamannya… Ia bisa menemukan waktu yang pas untuk turun dari sepeda, duduk, melambat sebentar, di tengah lingkungan yang bergerak super cepat. Saya kok suka. Sukses ya Her. Jangan lupa pakai helm. Salam Damai.”
Sementara itu, penyair dan komponis lagu Panji Sakti menilai buku ini sebagai bukti bahwa Heru telah melampaui identitasnya sebagai atlet. “Mas Heru hari ini layak membicarakan dirinya saja, orang-orang akan mudah menyenangi bakat dan kerja kerasnya. Tapi, tulisan-tulisan ini menunjukkan bahwa Mas Heru bukan sekadar seorang atlet dan seniman. Banyaknya detail yang beliau sampaikan menasbihkan bahwa beliau seorang pemerhati dan penulis ulung, dan itu melegakan.”
Dukungan juga datang dari pegiat literasi Banten, Gol A Gong, yang melihat langkah Heru sebagai peristiwa penting: seorang atlet memilih literasi sebagai ruang pulang dan ruang tumbuh. Sementara itu, budayawan dan cendekiawan Muslim Nadirsyah Hosen atau Gus Nadir menyoroti dimensi reflektif dan spiritual buku ini—bahwa pengalaman global tidak harus menjauhkan seseorang dari kedalaman batin, justru bisa menjadi jalan untuk semakin mengenal diri dan nilai-nilai hidupnya.
Perjalanan itu juga menjelma dalam bentuk visual melalui kolaborasi bersama label streetwear ZTFF.CO lewat lini American Tour Series. Sepuluh desain yang dirilis menjadi semacam arsip visual dari perjalanan yang sama—menghadirkan pengalaman Heru di Amerika dalam wujud yang bisa dikenakan. Namun, kolaborasi ini tetap menjadi perpanjangan narasi, bukan pusatnya. Jantung peristiwa tetaplah buku dan gagasan tentang keseimbangan yang ia tawarkan.

Peluncuran di Rumah Dunia terasa simbolik. Di ruang literasi yang selama ini menjadi simpul pertemuan penulis, pembaca, dan pegiat kebudayaan, Heru memulai fase barunya sebagai penulis. Seorang rider yang terbiasa melayang di udara kini menjejakkan pikirannya di halaman-halaman buku.
Di tengah dunia yang bergerak cepat, mungkin memang perlu seseorang yang sesekali turun dari sepeda, duduk, dan menuliskan apa yang ia lihat dan rasakan. Heru Anwari memilih melakukan itu. Dan Serang akan menjadi saksi langkah barunya—bukan di atas roda, melainkan di atas kata-kata. (rls/dhe)













