KURUNGBUKA.com – Mungkin nggak punya uang, atau apa—saya juga tak mengerti: mengapa saya tidak ‘dijebloskan’ ke taman kanak-kanak oleh mamak saya. Mak, selalu bercerita kepada teman-temannya, bahwa “Titan nggak TK, tapi dia sudah bisa membaca.” lalu matanya menuju mata saya & bilang “yakan, Nak? Kamu masih ingat ada poster huruf, angka & gambar-gambar hewan yang kamu senangi di dinding kamarmu?” saya tersenyum kepada Mak & temannya itu.
Iya, Mak, saya ingat.
Itu juga yang ada dalam film Na Willa yang disutradarai Ryan Adriandhy (Visinema). Willa, tokoh utama film ini, belum masuk TK (walau seharusnya sudah bisa masuk TK; karena umurnya sudah mencukupi, teman-temannya juga sudah sekolah)—tapi Mak-nya masih belum yakin dengan dirinya: apakah Willa perlu masuk TK? Alhasil Mak menulis sendiri huruf abjad di kertas yang ditempel di dinding kamar Willa. Dari situ Willa mengeja & akhirnya mampu membaca dengan lancar. Ya, Mak adalah guru pertama anak manusia (Mak selalu membacakan buku kepada Willa & Pak selalu memberikan buku-buku untuk Willa); di dalam rumah, di dalam kehangatan. Namun setelah berjalan waktu, karena tak memiliki teman (semua teman Willa sudah sekolah) Willa selalu melakukan ‘sesuatu’ yang akan membahayakan dirinya & orang sekitar di rumah. Misal, Willa penasaran dengan radio yang mengeluarkan lagu Lilis Suryani: apakah Lilis Suryani ada di dalam radio? Apa yang akan Willa lakukan? Ya, benar, membongkar radio tersebut untuk membuktikan bahwa penyanyi kelahiran 1948 itu di dalam radio. Willa juga ingin ikut mengaji di seberang rumahnya; Willa menarik sprei dari jemuran untuk menjadi mukena, alhasil sprei yang baru dicuci Mbok itu menjadi kotor, sangat kotor. Willa diberikan ‘konsekuensi’ (saya menggunakan kata ini untuk mengganti kata yang terus berserakan dalam film yaitu “hukuman”—Mak Willa menggunakan kata ini) untuk mencuci sprei tersebut bersama Mbok. Akhirnya karena Willa kesepian—Mak membelikan ayam kuning kecil sekali di pasar yang Willa sudah inginkan dari kapan lalu & saya yakin bahwa Willa bukan malah menuntaskan sepinya.
Sama seperti saya yang dibelikan playstasion 1 & 2 (selanjutnya saya sebut PS) oleh Mak—supaya saya tidak keluar rumah & akhirnya saya kehilangan banyak teman, tidak bersosial & tidak pernah terkena matahari (saya menduga bahwa akibatnya sekarang, dewasa ini, ada yang terganggu dengan motorik saya: saya kesulitan mengikat balon, melepas simpul tali, agak lambat ketika mengikat tali sepatu, membuka kemasan dengan pembuka yang sempit/kecil & lainnya—kemungkinan saya mengidap Dispraksia) saya hanya menamatkan puluhan kaset dari PS & sejak Sekolah Dasar saya sudah tidur pada pukul 1-2 malam sedangkan pada pukul 7 pagi saya mesti menonton Spongebob, makan lontong & bergegas menuju penjara bernama sekolah. Dari peristiwa itu, saya semakin ingin tahu tentang dunia, persis seperti Willa yang mencari Lilis Suryani dalam radio, setelah PS dijual, saya dibelikan komputer. Hidup semakin sepi lagi. Orang tua saya menjejeli kebahagiaan semu dari layar. Saya sudah SMP ketika itu, teman saya juga tidak ada & setiap harinya saya hanya mengakses internet untuk hal-hal ini: bermain Facebook, melihat foto hantu serta ramalan Jawa via website Primbon serta mengunduh sebagian besar gambar monster-monster mitos Yunani. Untuk monster Yunani, setiap hari saya rutin melihatnya satu per satu & saya bertanya: apakah benar bahwa di dunia ini ada manusia berbadan kuda (maksudnya Kentaur), ada raksasa bermata satu (maksudnya Kiklops), ada perempuan berambut ular (maksudnya Medusa) & lainnya.
Toh, akhirnya Willa masuk sekolah juga. Pada scene ini menurut saya kritik terhadap guru & pendidikan disorot dari jarak yang sangat dekat: Willa sebagai anak baru memperkenalkan nama di depan teman-temannya & teman-temannya tertawa (dengan bermaksud mengejek), Willa hanya disuruh duduk diam di bangku & disuruh memperhatikan teman-temannya yang sedang menulis, Willa ingin mengajarkan temannya yang salah menulis huruf b menjadi d & berakhir dengan Willa diejek, dijambak oleh 2 temannya yang lain & dikatai: asu cino!, Willa membuktikan bahwa dirinya sudah bisa membaca & menulis lalu gurunya bilang “tidak ada murid yang bisa membaca & menulis sebelum masuk sekolah” … lalu Willa mengambil kapur & menuliskan kalimat yang hampir lengkap “Namaku Na Willa & bla bla bla” & gurunya, Miss Tini, mengambil kapur tersebut & menarik Willa untuk kembali ke bangkunya. Dari berbagai peristiwa yang terjadi di dalam kelas, di hari pertama Willa sekolah itu, film ini memperlihatkan bahwa fungsi sekolah telah bergeser: yang mestinya “menyalakan api rasa ingin tahu, membuktikan bakat-intelektual setiap anak & mengiyakan, mengizinkan sekaligus mendukung bahwa setiap anak berbeda” malah menjadi “tempat penyeragaman pikiran, tindakan sekaligus sifat, ruang sempit yang mengurung kreativitas, guru menjadi otoriter (memiliki kuasa & pengetahuan) & murid sekadar budak (hanya pasif & kosong pengetahuan)—ini bertaut dengan ‘gaya bank’ yang disinggung Paulo Freire” … pada pendapat ini saya juga akan menautkan pada peristiwa ketika Dul mengajak Willa untuk mengejar kereta api & “Ayo, Willa, kamu ikut denganku, supaya kamu bisa bacain rambu-rambu.” … pada dialog itu terlihat bahwa Dul belum bisa membaca & Willa sudah bisa membaca. Lalu Mak berbohong pada Dul bahwa Pak (ayah Willa) akan pulang sebentar lagi, Pak takkan pulang karena Willa & Mak baru saja membaca surat dari Pak yang masih mempunyai pekerjaan di kapal. Mak berbohong karena cemas & melarang Willa mengejar kereta api, tak lama kemudian scene berganti menjadi tragedi bahwa ada yang ditabrak kereta api: kakinya hilang. Ya, itu Dul, teman Willa. Pada titik inilah bahwa “membaca” begitu penting & sangat penting: bagaimana seorang anak kecil membaca rambu-rambu & waspada terhadap kereta api. Dengan itu mereka bisa lebih hati-hati menjalani hari.
Ah, tapi saya sedang tinggal di kota yang isinya anak-anak, remaja sekaligus dewasa yang tak bisa membaca lampu lalu lintas: tetap saja mereka berjalan dengan motor-mobil mewahnya walau lampu menyala merah, mungkin mereka harus belajar membaca pada Mak & Willa.
Salah satu rumus atau aturan membuat cerita adalah ‘nasib karakter’ akan berubah pada akhirnya (koda atau ending)—& Na Willa pun begitu: Willa mendapatkan sekolah baru yang lebih inklusif, guru yang mendukung serta teman-teman asik nan baik, Dul lebih slow & mindfull dalam kesehariannya, Bud sudah tidak ingusan lagi & Farida lebih disayang oleh orang tuanya—mereka semua berubah menjadi lebih baik.
Sebagai guru (menjadi guru bukan cita-cita saya, menjadi guru adalah terapi & menebus sesuatu yang tak saya dapatkan di masa kecil, remaja & dewasa: merasai kesepian yang sangat terhadap sosial & dunia ini, menjadi guru adalah membuat saya belajar setiap hari & mempunyai teman bercakap yang penuh perasaan, humor & pengetahuan: mereka adalah murid-murid saya di kelas & di luar kelas)—saya melihat Na Willa adalah anak manusia yang cemerlang, yang mengajarkan betapa indah, rapuh & penuh ‘perasaan’ hidup ini. Agaknya Willa, sepakat dengan apa yang dikatakan aktivis yang wafat di gunung itu: “Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: ‘dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan’. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita” … & Willa ‘menularkan’ itu semua pada saya, pada kita.
Medan, 2026











