KURUNGBUKA.com – Mata bocah, mata yang melihat ketakjuban. Ia tidak sekadar melihat. Yang tampak mata, yang mendapat makna. Maka, pengalaman takjub itu memerlukan kata-kata. Bocah yang mampu memilih dan mengucapkan kata-kata agar takjub tidak cepat berlalu atau berganti dengan yang lain. Yang takjub adalah Anne, bocah yang terlalu menghasrati alam. Ia mungkin merasa menjadi utusan Tuhan untuk mengisahkan dan menjelaskan yang tersaji di alam.
Lucy M Montgomery dalam Anne of Green Gables (2014) memberi kehormatan tertinggi pada alam. Kehormatan yang terasakan maknanya jika dibahasakan Anne, bukan orang lain. Anne menjadi juru bicara perkamusan alam. Bocah yang mengira segala yang terlihat adalah firman yang mengejawantah di hadapannya. Ia berada dalam firman.
Waktu masih pagi. Pengarang yang menerangkan Anne: “Dia telah melihat banyak sekali tempat yang tidak indah selama hidupnya, sungguh anak yang malang.” Pagi itu berubah drastis: “Semua pemandangan ini seindah yang pernah ia impikan.” Anne melihat pohon, padang rumput, dan sungai. Mulutnya berucap: “Oh, bukankah semua menakjubkan?” Ia mungkin merasa berada di firdaus.
Pengalaman sekejap tapi cerewetnya sulit dihentikan. “Dan, aku bisa mendengar sungai kecil itu tertawa dari atas sini.” Yang dewasa agak susah membayangkan saat menghadapi bocah yang mengaku mendengar sungai tertawa. Yang diucapkan bukan hanya metafora. Takjub itu berlimpah kata. Ia keranjingan memberi pujian: “Bukankah terasa sangat menakjubkan bahwa selalu ada pagi dalam setiap hari?”
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<












