“Lituma menatap matanya. Perempuan itu membuat tanda salib dan mulai terisak lagi. Sembari mendengarkan isak tangisnya, Lituma memandangi serangga-serangga yang berkerumun di sekeliling lampu. Ada lusinan, berdengung dan berulang kali menabraki tudung kaca, mencoba mencapai api. Mereka ingin bunuh diri. Dasar goblok!”

(Mario Vargas Llosa, Siapa Pembunuh Palomino Molero?, Komodo, 2012)

KURUNGBUKA.com – Yang kita baca adalah cerita kejahatan. Pembunuhan yang terjadi mencipta rangkaian cerita, menderetkan beragam jenis duka. Cerita digubah oleh pengarang yang dikenang di dunia gara-gara Nobel Sastra 2010. Yang diceritakan menimbulkan marah, penasaran, kecewa, sedih, bingung, dan lain-lain. Pembaca yang berharap memungut sukacita mendingan menunda atau membatalkan demi capaian kesusastraan.

Tokoh-tokoh yang bersikap dan berkata diusahakan sesuai cerita yang dikehendaki pengarang memikat pembaca, sejak halaman awal sampai akhir. Para tokoh itu perlahan dikenali pembaca memiliki perbedaan sifat, cara berbahasa, dan penentuan sikap dalam masalah-masalah yang sering dilematis. Maka, “salah tingkah” dalam beragam pertemuan dan percakapan gampang terjadi.
Bersama yang berduka menimbulkan kesulitan dalam meraih cerita atau pengakuan. Yang terjadi adalah saling memberi kata tapi rumit dalam ketubuhan. Bagi yang sedih atau berduka, posisi tubuhnya menentukan kadar untuk berterima dengan kehadiran yang lain atau tersiksa kenanga-kenangan. Pada saat duduk, berdiri, atau berbaring, perasaan-perasaan akan terketahui secara cepat atau lambat.

Duka menentukan kondisi raga. Yang makin terasakan saat tempat, suasana, dan benda-benda turut bersekutu dengan duka. Llosa menghadirkan kita dalam sutau tempat yang memastikan derajat derita, diwujudkan melalui kata dan raga. Namun, ada hal-hal lain yang membuat pembaca merasakan dampak-dampak derita.

Di penggalan cerita, kita membayangkan sosok yang dipaksa tabah mengalami situasi yang tidak menentramkan. Yang pasti, penentu segalanya adalah duka. Telinga mendengar tangisan. Pembaca ikut mendengarnya atau berimajinasi kepasrahan kepada Tuhan dan pernyataan air mata. Tokoh yang masih bertahan dalam tumpukan kesedihan.

Yang berada bersamanya dibuat kebingungan. Pada ruangan yang sama, ia tak wajib turut menangis atau menyetarakan duka. Ia menginginkan cerita atau tuturang yang bisa membuka selubung banyak pertanyaan. Namun, dirinya mengerti duka itu menyiksa. Doa dan tangisan seperti belum mencukupi.

Bingung yang dialihkan dengan melihat lampu dan serangga. Kita seolah menyaksikan tokoh-tokoh yang berbeda pengalaman atau perasaan tapi berdekatan. Yang satu tenggelam dalam duka. Yang satu punya pamrih tapi dituntut sabar dan berharap mendapat kejutan. Yang memandang lampu dan serangga mungkin sedang mengolah emosi atau mengurangi siksa.

Bagi pembaca yang terbiasa dengan kepustakaan sufi perlahan paham. Cara tokoh bertaut lampu dan serangga justru renungan yang tidak harus menginduk kepada tokoh yang menangis dan berharap pertolongan Tuhan. Pemandangan itu makin mengukuhkan masalah kematian. Yang melihat masih percaya yang tampak mata, belum masuk ke pemaknaan yang berjenjang.
Serangga ingin mencapai api. Pembaca bisa berpindah perhatian, tidak lagi mengarah untuk tokoh yang berduka. Serangga itu memberi peristiwa yang bisa ditafsirkan secara religius. Serangga yang berdatangan atau ingin mencapai api dianggap bunuh diri. Pembaca yang pernah diterangi hikmah kuno agak menyangkal. Yang dilakukan serangga adalah “penyatuan”. Pemandangan itu bukan bercerita bunuh diri yang konyol.

Yang menangis paham kematian. Yang melihat lampu dan serangga beralih dalam kematian yang berbeda, bukan pembunuhan. Llosa tampak sedang bermain dua misteri, yang terjadi duluan menimbulkan akibat dan yang tampak sebagai “pemandangan” tidak harus berkaitan tapi berpesan kematian. Pada penggalan cerita membawakan tema kematian, pembaca tidak selalu dalam perhatian yang tunggal. Llosa memahaminya dan memberi sodoran-sodoran yang mengikat pembaca dalam pemaknaan kematian-kematian.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<