KURUNGBUKA.com – Pada pertengahan Oktober lalu, Jakarta terasa seperti laboratorium naskah kuno raksasa. Para filolog, peneliti, dan pencinta naskah dari berbagai penjuru Nusantara berkumpul di Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara Ke-20 yang digelar oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI. Selama tiga hari, 15-17 Oktober 2025, ratusan makalah dibentangkan, dan naskah-naskah kuno diberi penghargaan “Ingatan Kolektif Nasional”. Serangkaian acara ini berusaha menjawab tantangan masa depan kebudayaan Indonesia.

Setelah melalui proses seleksi ketat dari ratusan pendaftar, sebanyak 172 pemakalah terpilih memaparkan hasil riset mereka dalam forum-panel sesuai subtema pilihan. Setiap panel diisi oleh pembicara kunci dari dalam dan luar negeri. Berbagai guru besar dan ahli juga ikut bicara dalam forum bermartabat ini, di antaranya E. Aminuddin Aziz, Oman Fathurahman, Herry Yogaswara, Annabel Teh Gallop, Bernard Arps, Munawar Holil, Wayan Jarrah Sastrawan, Muhlis Hadrawi, Sudibyo, Pramono, dan lainnya.

Dari berbagai subtema yang dibahas, satu yang cukup mencuri perhatian ialah filologi pertunjukan. Tema ini menjadi pintu masuk bagi pembicara utama, Prof. Bernard Arps dari Leiden University, untuk menantang cara lama kita memahami naskah. Ia tidak datang membawa kabar tentang naskah yang tersimpan di museum, melainkan tentang teks yang hidup di panggung, berwujud suara, gerak, dan hubungan sosial.

Melalui pemaparannya berjudul “Sumbangan Filologi Pertunjukan kepada Kajian Naskah Nusantara”, Arps mengajak kita membaca naskah bukan sebagai benda mati, tetapi sebagai peristiwa kebudayaan yang terus diperbarui setiap kali dipentaskan.

Tema menarik Filologi Pertunjukan
Ben Arps memulai dengan kalimat sederhana, “Filologi bukan hanya urusan naskah”. Kalimat itu terdengar seperti peringatan bagi para filolog di Nusantara yang terbiasa menatap halaman berdebu, membedah varian teks, lalu menulis edisi kritis dengan jarak emosional. Bagi Arps, dunia naskah adalah dunia yang hidup, dunia yang bergerak, berbunyi, menari, dan bernapas.

Dari sanalah lahir gagasan filologi pertunjukan (performance philology). Filologi, katanya, tidak berhenti pada teks tertulis, melainkan meluas ke segala bentuk artefak budaya yang ‘dibuat, disusun, ditampilkan, dan dihidupi’. Dalam buku Tall Tree, Nest of the Wind (2016), Arps menunjukkan bahwa lima prinsip kerja filologi yakni keterbuatan (artefactuality), ketercerapan (apprehensibility), ketersusunan (compositionality), kontekstualitas (contextuality), dan kesejarahan (historicity). Ini juga berlaku untuk pementasan wayang kulit semalam suntuk. Wayang, kata Arps, adalah “teks yang hidup”, yang dibaca bukan dengan mata, melainkan dengan telinga dan pengalaman kolektif penonton.

Dalam paparan di simposium itu, Arps mencontohkan Serat Cĕnthini, utamanya episode Paricara, ketika Mas Cebolang menyamar menjadi perempuan dan menari di pendapa Nyai Demang. Bagi Arps, deskripsi adegan itu bukan hanya cerita erotik, melainkan analisis pertunjukan itu sendiri. Narasi Cĕnthini, katanya, sudah mengandung model analitis: ada dalang, penanggap, penonton, dan wayang yang saling menggerakkan satu sama lain. “Wayang tidak bisa bergerak tanpa dalang, dalang tak bergerak tanpa penanggap, dan penonton pun digerakkan oleh pertunjukan,” ujarnya. Dengan kata lain, teks tidak pernah berdiri sendiri; ia lahir dalam hubungan sosial dan spiritual yang konkret.

Kita melihat bagaimana Arps melanjutkan tradisi filologi Jawa, tapi dengan cara yang membalik arah pandang. Bila filolog lama mencari teks asli, Arps justru mencari cara kerja kebudayaan di balik teks itu. Ia membaca naskah bukan sebagai benda mati, melainkan sebagai peristiwa kebudayaan. Dalam tulisannya tentang wayang kulit (Flat Puppets on an Empty Screen, 2016), ia menelusuri bagaimana ruang dalam pertunjukan diciptakan bukan lewat layar dan boneka, tetapi melalui bunyi, bahasa, dan imajinasi penonton. “Layar wayang itu kosong,” tulisnya, “tapi dari kekosongan itu dunia dibangun.”

Sementara dalam artikelnya yang lebih baru, Princess Sodara Kartika Frees Amir from Prison (2021), Arps kembali menegaskan hal yang sama dalam konteks naskah Islam awal di Jawa. Ia membaca Caritanira Amir, teks abad ke-16 dari Banten, bukan semata sebagai warisan kesusastraan Islam, tetapi sebagai upaya dunia Jawa memahami dirinya di tengah arus Islamisasi. Dalam teks itu, kata Arps, dunia Arab dan dunia Jawa berpadu, menandai “cara-cara dunia dibangun melalui teks dan performa.”

Maka, ketika kita berbicara tentang kajian naskah Nusantara, seharusnya yang kita bicarakan bukan hanya naskah yang tersimpan di lemari arsip, melainkan juga “naskah-naskah yang hidup”: pertunjukan, pidato, khutbah, seni tari, teater, atau bahkan unggahan di media sosial yang membentuk cara kita memandang diri dan dunia.

Pelajaran dari Arps sederhana tapi menuntut kesetiaan bahwa filologi adalah kerja mendengar, bukan hanya membaca. Arps mengingatkan kita bahwa setiap teks adalah suara yang pernah diucapkan, dihayati, dan didengar dalam konteks sosialnya. Dan mungkin di situlah, bagi para filolog Nusantara, pekerjaan sejati itu dimulai di tengah bunyi, bukan hanya di balik debu.

***

Rangkaian simposium ditutup dengan Musyawarah Nasional (Munas) VIII Manassa, yang menjadi momentum penting bagi regenerasi kepemimpinan para filolog Indonesia. Dalam sidang pleno yang berlangsung hangat, para anggota memilih Dr. Agus Iswanto sebagai Ketua Umum Manassa periode baru, menggantikan Dr. Munawar Holil yang telah memimpin dengan dedikasi tinggi dalam memperluas jejaring filologi dan menguatkan kolaborasi lintas lembaga.

Pergantian kepemimpinan ini disambut dengan optimisme, Manassa diharapkan kian terbuka terhadap riset-riset inovatif, penguatan digitalisasi naskah, serta pelibatan generasi muda dalam kerja kebudayaan. Kini, organisasi yang berdiri sejak 1996 dan menaungi 944 filolog serta pemerhati naskah di dalam dan luar negeri itu menatap masa depan dengan semangat baru bahwa menjaga naskah bukan sekadar merawat masa lalu, tetapi juga menulis arah pengetahuan bangsa di masa depan.

*) Image by Jumhira/Makassar