KURUNGBUKA.com – Film drama komedi Indonesia terbaru dari Imajinari, Agak Laen: Menyala Pantiku! layak disematkan sebagai salah satu film komedi terbaik yang ada di Indonesia, sepanjang masa. Ini bukan promosi berbayar, melainkan sebuah pengakuan tulus dari penonton yang merasakan sendiri betapa gila dan lucunya film ini. Muhadkly Acho selaku penulis dan sutradara kembali berhasil membuktikan bahwa film komedi bisa digarap dengan sangat serius, profesional, dan berkelas, bahkan berani diadu dengan film-film komedi Asia dari negara lain seperti Thailand dan Korea Selatan.
Boris, Bene, Jegel, dan Oki adalah empat detektif kepolisian yang reputasinya jauh dari kata cemerlang, karena hampir setiap penyelidikan yang mereka tangani berakhir dengan kekacauan. Untuk menghindari pemecatan, keempatnya harus menerima misi memburu pembunuh anak wali kota yang diduga bersembunyi di sebuah panti jompo dengan cara menyamar. Dipaksa bergerak dengan strategi yang berbeda, Bene dan Jegel menyamar sebagai perawat. Sementara itu, Boris dan Oki mengambil penyamaran yang lebih tak terduga. Namun di balik misi rahasia ini, mereka juga harus menghadapi beban hidup pribadi masing-masing. Boris berjuang menghadapi perpisahan pahit, Oki mati-matian mencari penghasilan demi anak pertamanya, Bene tercekik biaya kuliah adiknya, dan Jegel menanggung hidup ibunya di kampung. Penyamaran di panti jompo tersebut menghadapi berbagai rintangan tak terduga, yang justru memicu kekacauan yang kocak, menegangkan, sekaligus emosional.
Film ini dibuka dengan sekuens aksi yang mengejutkan, membuat penonton kagum pada keseriusan kuartet lawak ini dalam berakting. Konsep cerita secara keseluruhan mengingatkan saya pada film Extreme Job dari Korea, di mana penyamaran yang dilakukan malah jadi kebablasan, menciptakan kekacauan yang kocak.
Formula komedi yang disajikan dalam film ini terasa sempurna. Muhadkly Acho berhasil membangun patahan komedi yang tidak tertebak dengan eskalasi tawa yang terus meningkat, membuat penonton benar-benar “loncat dari kursi bioskop” seperti yang dijanjikan Indra Jegel—pengalaman saya bahkan melompat sampai lima kali! Sentuhan magis dari comedy consultant Awwe memang tidak diragukan, menegaskan posisinya sebagai dewa komedi saat ini.
Lebih dari sekadar tawa, film yang diproduseri Ernest Prakasa dan Dipa Andika ini juga tidak mengorbankan kedalaman dramanya. Kekuatan drama terasa sangat menghantam, terutama melalui karakter yang diperankan Boris Bokir, yang menampilkan sisi emosional yang begitu nyata dengan keluarganya yang sudah di ujung tanduk. Jalan cerita yang ditawarkan Acho untuk setiap karakter terasa masuk akal. Dia tidak memaksakan solusi, melainkan membangunnya dengan sangat apik di sepanjang plot berjalan. Semua elemen dilibatkan dan digunakan dengan sangat baik, hampir tidak ada adegan yang terasa sia-sia.
Kehadiran aktor pendukung seperti Jarwo Kuat dan geng-nya juga menambah kekayaan komedi lewat celetukan-celetukan yang jenaka. Selain itu, Bene Dion memiliki momen-momen yang pasti akan terus membekas di ingatan penonton dalam waktu yang lama. Bahkan, film ini meninggalkan apa yang disebut sebagai ‘residu’ tawa; saking lucunya, teringat adegan “itu” saat di luar bioskop pun bisa membuat senyum-senyum dan tertawa sendiri, dan momen “itu” tidak hanya satu. Yang jelas, sekarang setiap mendengar lagu Terlalu Cinta (2024) yang dinyanyikan ulang oleh Lyodra Ginting dan Yovie Widianto takkan lagi sama.
Secara teknis dan naratif, lagu original Agak Laen yang disulap menjadi lagu penyambutan pegawai dan penghuni baru panti juga sungguh brilian. Kesan panti jompo yang gloomy pun berhasil disulap jadi “arena bermain” yang ceria dan menyenangkan. Sementara itu, meskipun alur cerita thriller-nya agak mudah ditebak—yang memang bukan fokus utama—keberhasilan menjaga ketegangan dan rasa penasaran penonton patut diacungi jempol. Satu-satunya catatan minor adalah adanya sisipan build in product bank BCA yang terasa sedikit dipaksakan, namun hal ini masih termaafkan mengingat kualitas komedi dan drama yang ditawarkan. Ada juga satu gimmick yang terasa kebablasan, tetapi menghasilkan tawa yang besar dan anehnya berhasil lolos sensor.
Secara keseluruhan, Agak Laen: Menyala Pantiku! menyajikan pengalaman menonton yang sangat memuaskan dan melelahkan, karena saking lucunya bikin capek rahang dan perut. Film ini lebih bagus dari pendahulunya, memiliki tipe yang akan tetap seru jika ditonton berulang kali. Pesan penting bagi calon penonton: jangan spoiler! Biarkan yang belum menonton mendapatkan pengalaman tawa kejutan terbaik saat pertama kali.
Skor: 9/10.







