Tiada angin tiada hujan, sejak hari pertama bekerja sebagai penjaga toko bangunan, Barjo tak henti-henti dibuat penasaran pada sebuah bangunan di seberang jalan. Pagi-pagi sekali Barjo sudah tegak di sisi jalan. Ia mengarahkan pandang matanya pada bangunan itu. Ini bukan kali pertama Barjo memperhatikannya. Barangkali ialah satu-satunya orang yang dengan mata membulat menghadap bangunan yang bergaya klasik kolonial. Bangunan itu menjadi tampak mencolok di antara deratan ruko dan gedung minimalis yang beraneka warna. Meskipun terlihat selalu kosong tak berpenghuni, bangunan antik itu tampak terawat dan segala sisinya diperhitungkan. Fasadnya yang gagah dilengkapi 4 pilar putih yang kokoh menjulang dan menopang atap. Dinding-dindingnya yang tebal dan putih didominasi jendela kaca besar dengan lis kayu cokelat gelap. Ventilasi silang dan jendela kacanya menjamin udara dan cahaya matahari menjangkau sudut-sudut ruang. Pelatarannya yang cukup luas untuk lahan parkir dihiasi bunga-bunga kertas dan sedap malam yang berjajar tanpa mengganggu jalur keluar-masuk kendaraan. Pikir Barjo, biasanya bangunan klasik kolonial semacam itu tak jauh-jauh dari kesan kuno, lembap, usang, dan tak terawat, tetapi ini tidak.
Maka Barjo pun semakin tertarik. Matanya menjelajah dari kejauhan. Lalu ia dapati plang nama bercat kuning dengan gambar sepiring nasi goreng dan bertuliskan NASI GORENG GEMPA di dekat pintu parkir. Warna dan nuansa plang nama itu bagi Barjo begitu kontras dari kesan klasik dan elegan bangunan di belakangnya. Plang nama itu cenderung biasa-biasa saja tanpa estetika desain yang diperhitungkan dengan matang. Tentu itu tak jadi masalah. Barangkali itu strategi untuk menyita perhatian orang-orang. Tetapi Barjo cukup heran. Bangunan seapik itu rupanya sekadar kedai nasi goreng, bukan kafe atau restoran mahal yang instagramable, yang biasa diburu muda-mudi yang suka cekrek sana cekrek sini. Biasanya nasi goreng hanya dijual di tenda-tenda lepas-pasang atau gerobak dorong yang bisa menjangkau gang-gang sempit pinggiran kota. Ia ingat betul betapa kebanyakan penjual nasi goreng tidak repot-repot memikirkan estetika gerobak atau tenda jualan. Yang penting harganya murah, porsi melimpah, dan enak rasanya. Pasti laris. Selesai!
Maka Barjo menggelengkan kepala tanpa sedikit pun melepaskan perhatiannya pada bangunan itu. Bayangan tubuhnya yang menjulur ke jalan raya karena cahaya pagi begitu saja dilindas kendaraan yang berkali-kali lewat. Barjo tak bergeming. Yang ia pedulikan hanyalah kekagumannya pada bangunan itu. Lain tidak. Maka ketika sebuah truk melaju lambat karena mesinnya yang tua dan berbatuk-batuk dengan kepulan asap hitam yang menusuk hidung, Barjo melompat ke belakang dan segera menutup hidungnya. Asu! Ia mengumpat sambil terbatuk-batuk.
Sudah 5 minggu Barjo bekerja sebagai penjaga toko bangunan tak jauh dari seberang bangunan klasik itu. Biarpun sehari-hari berlalu-lalang di jalan dan berkepentingan melemparkan pandangan pada bangunan itu, tak sekali pun ia mendapati bangunan bertuliskan NASI GORENG GEMPA yang katanya rumah makan itu buka, padahal ia penasaran seberapa gandrung orang-orang dengan bangunan itu. Baginya, bukan saja eksterior bangunan yang tampak antik, tetapi dari jendela kacanya tampak bahwa interior ruangannya pun ditata sedemikian rupa dengan deretan kursi dan meja kayu yang tersusun rapi, serta lampu gantung yang jika dinyalakan semakin menambah kesan klasik dan mewah.
Barjo begitu saja bertanya-tanya mengapa rumah makan dengan bangunan semewah itu tidak pernah buka selama lima minggu ini. Jika memang bangkrut, mengapa bangunan itu terkesan bersih dan terawat, bahkan jendela-jendelanya tak ditutup tirai. Meskipun tak bisa melepaskan rasa penasarannya terhadap bangunan itu, Barjo tak sekali pun memberanikan diri bertanya kepada rekan kerjanya atau orang-orang yang sering berlalu-lalang di depan toko bangunan tempatnya bekerja, apa lagi bertanya kepada juru parkir yang gemar menantangnya main catur. Sebagai pegawai yang tak akrab dengan wilayah tempatnya bekerja, Barjo mencukupkan diri untuk tidak bertanya apa-apa kepada siapa-siapa. Ia hanya menyimpan rasa penasarannya. Yang ia andalkan hanyalah smartphone-nya.
Di sela-sela waktu senggangnya menjaga toko, Barjo sesekali membuka peta Google. Ia ketikkan kata kunci NASI GORENG GEMPA. Ketemu! Tetapi tak ada apa-apa. Yang ia tahu dari Google hanyalah rating tempat yang lebih dari bintang 4. Tiada foto dan daftar menu beserta harganya. Yang terpampang hanyalah foto-foto pengunjung tanpa memberikan review yang jelas soal rasa dan pelayanannya. Juga sederet pertanyaan kapan buka tanpa balasan dari yang empunya. Yang lebih menarik perhatian Barjo adalah beberapa balasan akun local guide yang menyebut “saat mau gempa”. Selain itu hanya ada foto eksterior dan interior bangunan yang semakin membuat Barjo penasaran dan mengernyitkan dahi. Maka sejak itu Barjo berjanji menyempatkan diri berkunjung dan mencicipi nasi goreng yang entah rasanya itu jika buka.
Hari mulai gelap, dan di luar hujan membuat jalanan depan toko tampak tak tertib: pengendara sepeda motor yang saling salip karena tak mau basah kena hujan, klakson bus kota jalur khusus yang memekik lantaran seorang mahasiswa asal menyeberang jalan, dan jalanan yang macet karena mobil-mobil diparkir sembarangan. Jalanan menjadi lebih bising daripada hari-hari yang cerah. Dari toko tempatnya bekerja Barjo sesekali memperhatikan bangunan di seberang. Baru setelah smartphone-nya bergetar, ia mengalihkan perhatiannya pada pesan pendek isterinya dengan kiriman tautan berita dan tangkapan layar. Hati-hati, Kang. BMKG bilang akan ada gempa malam ini. Hanya pesan singkat. Ia balas dengan emotikon cium yang dulu biasa ia ketik dengan titik dua dan tanda bintang dalam SMS. Notifikasi BMKG memang kerap muncul pada layar smartphone-nya. Peringatannya tentu ada-ada saja. Mulai dari peringatan perkiraan hujan lebat, paparan radiasi matahari, tinggi gelombang pasang, potensi hujan angin, waspada bajir, dan yang mutakhir dari teknologi masa kini adalah perkiraan gempa. Betapa manusia saat ini jauh berkembang—bisa memperkirakan bencana yang datangnya tanpa salam dan janji pertemuan. Tetapi bagi Barjo peringatan itu hal biasa. Baik curah hujan tinggi maupun sapuan angin puting beliung, toh Barjo tetap harus bekerja menjaga toko dari pagi hingga menjelang malam. Libur sehari berarti gajinya tak hanya dipotong, tetapi dicincang-cincang sampai ia kapok absen dari pekerjaan.
Kembali Barjo melemparkan pandanganannya ke arah bangunan di seberang. Menjelang kumandang azan magrib, lampu-lampu bangunan itu menyala. Tanpa Barjo sadari beberapa kendaraan telah terparkir dekat bangunan itu. Rumah makan yang selama ini tutup buka juga. Tapi belum banyak pelanggan yang datang. Mata Barjo begitu saja membulat. Matanya mengarah ke jam dinding. Satu jam lagi ia bisa pulang dan melenggang ke seberang. Kalau hanya untuk memesan seporsi nasi goreng tentu dia mampu membayar. Menurut Barjo, toh tidak mungkin nasi goreng dihargai sampai ratusan ribu. Seenak-enaknya nasi goreng paling mentok di harga puluhan ribu. Tidak lebih!
Untuk mengobati rasa dan penasarannya—juga karena janji sebelumnya, sepulang kerja Barjo mampir ke bangunan itu. Dibacanya menu makanan tanpa harga dan dipesannya menu utama rumah makan hari itu: nasi goreng gempa. Barjo percaya makanan yang ia pesan tak akan mahal sebab buku menu yang ia lihat di meja kasir tak seestetik bangunannya—tidak jauh beda dari daftar menu nasi goreng tenda lepas-pasang. Sambil menunggu pesanannya datang di bangku paling ujung dekat lukisan seekor kuda terbang, Barjo memperhatikan para pelanggan yang datang. Ruangan berangsur penuh. Barjo semakin heran. Apa yang membuat rumah makan ini begitu spesial selain arsitektur bangunannya yang apik dan klasik? Barjo tidak tahu. Kedatangannya ke tempat itu justru untuk menjawab berbagai pertanyaan yang berpusing di kepalanya.
Seperti pesta malam tahun baru, para pelanggan rumah makan itu begitu cemas. Mereka seperti menantikan sesuatu. Sebentar-sebentar melirik arloji dan menarik-embuskan napas panjang. Barangkali mereka tak sabar menunggu pesanan. Pesanan Barjo datang. Sambil sesekali melirik jalan yang mulai sepi dan memperhatikan para pelanggan yang menunggu pesanan datang, Barjo melahap nasi goreng gempa pesanannya yang masih hangat. Asap tipis mengepul di atas gundukan nasi goreng yang cokelat. Sebuah telur mata sapi bertahta tepat di puncak gundukan itu dikelilingi potongan tomat merah dan acar timun segar. Sendok Barjo pun kembali mendarat dan membelah susunan makanan di atas piring.
Bagi Barjo, tak ada yang sitimewa dari rasa nasi goreng pesanannya. Jika dibandingan dengan nasi goreng buatan istrinya, tentu nasi goreng pesanannya masih kalah jauh. Barjo ingat betul, nasi goreng istrinya pulen tapi juga kriyuk-kriyuk. Biarpun Barjo cuma penjaga toko bangunan tetapi soal nasi dia enggan toleran. Ia pilih nasi pulen yang tidak pera sebab nasi pera hanya membuat kerongkongan seret tapi tidak mengenyangkan. Ia tidak tahu apa yang membuat nasi goreng istrinya kriyuk-kriyuk semacam kerak nasi. Selain itu nasi goreng istrinya juga tak pelit bumbu. Mulai dari ketumbar, kemiri, bawang merah, bawang putih, sampai potongan cabai hijau sesuai takaran tanpa dikurang-kurangi. Juga kecapnya. Baginya pokonya nomor satu. Maka Barjo merasa nasi goreng pesanannya di rumah makan itu jauh dari standar enak. Malah perut Barjo jadi eneg.
Hanya sisa satu suapan. Barjo berhenti. Ia letakkan garpu dan sendok di atas piring. Kerongkongannya seret. Ia teguk es jeruk peras di mejanya. Sepet! Rupanya es jeruk peras itu kurang gula. Barjo kesal. Ia mengumpat sebentar. Ia tarik napas untuk melegakan paru-parunya yang mulai sesak bergejolak. Ia mesti sabar dan mengendalikan perasaan. Untuk meluapkan rasa kesalnya, Barjo “sikat” satu suapan terakhir nasi goreng pesanannya dengan sepotong acar timun di ujung sendok.
Tepat pada suapan nasi gorang terakhir, air es jeruk peras dalam gelas Barjo bergelombang seperti kena benturan. Barjo tak ambil peduli. Tapi air itu masih juga bergelombang biarpun Barjo tak menyentuhnya. Vas bunga, lukisan kuda terbang, dan lampu gantung dalam ruang mulai bergoyang. Seorang pelayan yang mengantarkan pesanan berjalan sempoyongan. Getaran halus pada lantai yang semula tak dihiraukan Barjo dalam sekejap bertambah kencang dan kasar. Deretan meja dan kursi yang semula tenang bergetar. Barjo merasa seperti berada di atas meja kayu yang didorong teman-temannya di atas kantai kasar sewaktu masih SMA. Para pelanggan yang sebelumnya menantikan sesuatu, yang sesekali melirik penunjuk waktu, yang menggoyang-goyangkan kakinya karena tak sabar menunggu, yang suka menarik-embuskan panjang-panjang napasnya, tiba-tiba melompat. Serentak heboh dan bersorak seperti para penonton pertandingan bola yang girang lantaran pemain tim favoritnya menjebol gawang. Lantai dan dinding kaca waktu itu ternyata bergetar hebat selama 10 detik. Untungnya kaca itu cukup tebal dan kuat. Tidak pecah. Bagi Barjo, bangunan itu benar-benar istimewa. Yang tak kalah istimewa lagi dalam pikiran Barjo adalah perkiraan gempa BMKG. Itu gila!
Selepas gempa reda, Barjo masih duduk melongo sementara pengunjung lain di hadapannya girang dan terbahak-bahak sambil rekaman dengan kamera smartphone. Mereka menggumamkan kata-kata yang serupa yang biasa Barjo dengar dari vlog dan video Tiktok. Ada rasa puas memancar dari wajah meraka. Tidak ada gentar dan takut. Hanya Barjo yang masih duduk dan senyap sendiri. Ia tidak hanya terguncang karena gempa tiba-tiba, tetapi juga garena perayaan pelanggan lain atas musibah—gempa. Barjo lemas. Dadanya basi berdegup. Ia palingkan muka dan menarik napas panjang-panjang. Setelah melahap nasi goreng pesanannya itu Barjo merasa harus mencerna dua hal yang membuatnya tak nyaman: nasi goreng pera dan perayaan bencana! Betapa dunia saat itu begitu membingungkan Barjo.
Setelah menguasai diri, Barjo bangkit. Ia letakkan sendok dan garpunya di atas piring dengan posisi menelungkup. Sebutir nasi goreng dan kilatan minyak tertinggal di ujung garpu. Barjo harus berdiri dan melangkahkan kakinya ke kasir untuk membayar pesanan dan segera menyingkir dari suasana ganjil di sana. Sambil berpegangan pada dinding Barjo menguatkan tubuh dan hatinya untuk berjalan. Dengan pikiran yang terguncang, Barjo menatap wajah kasir yang ramah dengan senyum mengembang dan kerut di pipinya. Barjo menyebutkan menu makanan yang telah ia pesan. Kasir menekan tombol mesin lalu mengulangi yang Barjo sebutkan: nasi goreng gempa dan es jeruk peras.
“Tiga ratus ribu rupiah, Kak.”
“Hah?”
“Tiga ratus ribu rupiah, Kak.”
“Nasi goreng dan es jeruk, ‘kan?”
“Betul, Kak.”
“Kok bisa?”
“Betul. Itu menu utama hari ini.”
“Di mana-mana nasi goreng paling mentok Rp70.000, 00, Mbak!”
“Betul, tapi ini bukan sembarang nasi goreng. Ini spesial. Nasi goreng gempa! Kakak telah menikmati sepiring nasi goreng beserta gempa selama kurang lebih 10 detik.”
Mulut Barjo menganga. Dalam beberapa detik ia beku. Ia belum mengerti apa hubungan makan nasi goreng dan gempa. Apa ada resep khusus untuk membuat nasi goreng dengan sensasi gempa? Atau mereka menjual gempa dan ia memesannya? Entahlah. Barjo menggeleng. Ia masih sulit mempercayai kasir itu. Gempa tadi memang betulan. Bukan buatan atau igauan. Sepintar-pintarnya manusia tentu tidak mungkin bisa mengatur gempa, mengatur musibah. Barjo tak habis pikir. Rasa heran dan penasarannya membawanya memesan bencana! Barjo juga tak habis pikir betapa dunia tempatnya berpijak benar-benar ganjil dan berubah. Orang-orang tak lagi takut bencana. Rupanya ada orang-orang yang menjual bencana. Anehnya ada juga yang menikmatinya. Edan! Kepala Barjo pening. Keringat dingin menyembul dari pori-pori kulitnya.
Sambil berjalan lurus ke arah pintu, Barjo memperhatikan orang-orang dalam ruangan yang masih kegirangan, sementara ia menyesal telah memesan bencana: gempa. Didorongnya daun pintu keluar rumah makan itu. Ia, perhatikan jalanan yang mulai sepi. Di hadapannya deretan bangunan retak-retak. Beberapa tiang miring. Beberapa ruko nyaris ambruk. Dan atap toko bangunan tempatnya bekerja di seberang jalan ambruk. Apa besok bakal libur, pikir Barjo. Barjo balik badan. Ia kembali menatap bangunan klasik yang rupanya rumah makan itu. Tak ada yang retak. Betapa bangunan itu memang dibangun dengan perhitungan yang mantap, tapi tidak semantap nasi gorengnya. Barjo menarik napas dan melemparkan pandang matanya pada seekor kecoak yang melesat dari retakan dinding ruko sebelah dan hinggap pada papan nama bertuliskan NASI GORENG GEMPA yang sedikit miring.
*) Image by istockphoto.com


















