KURUNGBUKA.com – Ada satu hal yang belakangan ini semakin sulit dijelaskan oleh guru kepada murid-muridnya: mengapa mereka harus menjaga ucapan apabila ruang publik justru mempertontonkan hal yang berbeda.

Di sekolah, anak-anak diajarkan untuk berbicara dengan santun, menghormati orang yang lebih tua, menjaga adab ketika berbeda pendapat, serta menghargai para pemimpin bangsa. Nilai-nilai tersebut tidak lahir begitu saja. Ia ditanamkan melalui proses yang panjang, berulang, dan sering kali melelahkan. Seorang guru dapat menghabiskan waktu bertahun-tahun hanya untuk membiasakan peserta didik memilih kata yang tepat ketika berbicara kepada orang lain

Namun pekerjaan itu menjadi jauh lebih rumit ketika anak-anak menyaksikan sendiri bagaimana figur-figur yang menempati posisi tertinggi dalam kehidupan berbangsa menggunakan bahasa yang sulit diselaraskan dengan nilai yang diajarkan di ruang kelas.

Belakangan ini, masyarakat ramai memperbincangkan sejumlah ungkapan yang terlontar dari tokoh penting negeri ini, seperti “ndasmu” dan “emang gue pikirin”. Sebagian orang menganggapnya sebagai bentuk spontanitas. Sebagian lain memaknainya sebagai gaya komunikasi yang lugas dan apa adanya. Akan tetapi, dari sudut pandang pendidikan, persoalannya tidak berhenti pada pilihan kata. Yang menjadi kegelisahan adalah keteladanan.

Selama ini, pembicaraan tentang pendidikan sering berpusat pada kurikulum, anggaran, kualitas guru, sarana sekolah, hingga capaian akademik peserta didik. Semua itu memang penting. Namun ada satu unsur yang kerap luput dari perhatian, padahal pengaruhnya sangat besar, yakni keteladanan yang diterima anak-anak dari lingkungan sosialnya.

Pendidikan karakter tidak pernah berlangsung hanya di sekolah. Anak-anak belajar dari rumah, lingkungan sekitar, media sosial, tayangan digital, tokoh publik, dan figur-figur yang mereka anggap memiliki otoritas. Bahkan dalam banyak situasi, apa yang mereka lihat sering kali lebih berpengaruh daripada apa yang mereka dengar.

Karena itu, ucapan seorang pemimpin memiliki makna yang jauh melampaui sekadar rangkaian kata. Ia bukan hanya suara yang didengar, melainkan juga contoh yang diamati. Dalam posisi tertentu, setiap perkataan seorang pemimpin dapat menjadi pesan sosial yang diam-diam membentuk cara pandang masyarakat, termasuk anak-anak yang sedang belajar memahami dunia.

Masalahnya, anak-anak tidak selalu memahami konteks politik. Mereka tidak mengikuti dinamika kekuasaan. Mereka tidak membaca analisis para pengamat. Mereka juga tidak sibuk menafsirkan strategi komunikasi para elite. Yang mereka lihat hanyalah sosok yang selama ini diperkenalkan sebagai pemimpin bangsa. Sosok yang fotonya terpajang di ruang kelas. Sosok yang namanya disebut dalam pelajaran kewarganegaraan. Sosok yang oleh orang-orang dewasa diminta untuk dihormati.

Di sekolah, guru menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menanamkan kesantunan berbahasa. Anak-anak diajarkan memilih kata yang baik, menghargai lawan bicara, serta mengendalikan emosi ketika berbeda pendapat. Bahkan untuk membiasakan siswa mengucapkan “tolong”, “maaf”, dan “terima kasih” secara tulus, dibutuhkan proses panjang yang tidak selalu mudah.

Lebih dari itu, guru juga diminta menanamkan nilai penghormatan kepada orang yang lebih tua. Guru mengingatkan siswa agar berbicara dengan sopan kepada orang tua, menghormati guru, menghargai pemimpin, dan menjaga adab dalam setiap interaksi sosial. Dalam banyak kesempatan, sekolah bahkan menjadi benteng terakhir yang berusaha mempertahankan nilai-nilai kesantunan di tengah perubahan sosial yang begitu cepat.

Namun di sinilah kegelisahan itu muncul. Guru diminta mengajarkan penghormatan kepada pemimpin bangsa. Guru diminta menjelaskan bahwa jabatan publik harus dihormati karena mengemban amanah yang besar. Guru juga diminta menanamkan keyakinan bahwa pemimpin adalah figur yang layak dijadikan teladan.

Akan tetapi, bagaimana guru menjelaskan pentingnya menjaga tutur kata ketika anak-anak menyaksikan sendiri contoh yang berbeda di ruang publik? Bagaimana guru mengajarkan pentingnya menghormati pemimpin apabila sebagian perilaku yang tampak justru bertolak belakang dengan nilai yang selama ini diajarkan?

Bagaimana guru menjelaskan bahwa seseorang harus menjaga marwah dan wibawa jabatannya ketika pemegang jabatan itu sendiri terkadang terlihat mengabaikan marwah yang melekat pada posisinya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak selalu terucap secara langsung di dalam kelas. Namun bukan berarti pertanyaan itu tidak ada. Anak-anak memperhatikan lebih banyak daripada yang sering dibayangkan orang dewasa.

Mereka melihat video yang sama dengan yang dilihat orang tuanya. Mereka mendengar percakapan yang sama yang beredar di media sosial. Mereka menyaksikan potongan-potongan pidato yang berulang kali muncul di layar gawai. Ketika sekolah mengajarkan satu hal, sementara ruang publik memperlihatkan hal lain, kebingungan pun tidak terhindarkan.

Pada titik tertentu, guru berada dalam posisi yang sulit. Mereka tidak sedang mengajarkan politik. Mereka tidak sedang mengarahkan siswa untuk mendukung atau menolak seseorang. Mereka hanya berusaha menjaga konsistensi nilai yang diajarkan di sekolah. Namun konsistensi itu menjadi rapuh ketika contoh yang diterima anak-anak di luar sekolah bergerak ke arah yang berbeda.

Keresahan ini bukanlah tuntutan agar para pemimpin menjadi manusia sempurna. Tidak ada manusia yang bebas dari kesalahan. Tidak ada tokoh publik yang selalu tepat dalam setiap ucapan dan tindakannya. Akan tetapi, semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula pengaruh yang ditimbulkan oleh perilakunya.

Jabatan publik bukan hanya soal kewenangan. Jabatan publik juga mengandung tanggung jawab moral. Ketika seseorang berada di puncak kepemimpinan, setiap kata yang diucapkan tidak lagi menjadi milik pribadi sepenuhnya. Kata-kata itu membawa bobot simbolik. Ia menjadi representasi nilai yang secara tidak langsung akan ditangkap oleh masyarakat.

Dalam budaya Indonesia, pemimpin sejak lama dipandang bukan hanya sebagai pengambil keputusan, melainkan juga sebagai teladan. Bahkan dalam berbagai tradisi lokal, seorang pemimpin diharapkan mampu menunjukkan sikap yang lebih baik dibandingkan orang yang dipimpinnya. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar tuntutan untuk menjaga perilaku dan ucapannya.

Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik justru memperlihatkan gejala yang berbeda. Bahasa yang kasar sering dianggap sebagai ketegasan. Sindiran yang merendahkan dianggap sebagai keberanian. Respons emosional dipuji sebagai kejujuran. Padahal ketegasan dan kesantunan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Seseorang dapat bersikap tegas tanpa kehilangan rasa hormat kepada orang lain. Seseorang dapat menyampaikan kritik tanpa menggunakan bahasa yang merendahkan. Seseorang dapat menunjukkan keberanian tanpa harus mengorbankan etika komunikasi.

Inilah pelajaran yang setiap hari berusaha diajarkan oleh para guru. Namun pelajaran tersebut menjadi lebih berat ketika anak-anak menyaksikan contoh yang berbeda dari figur yang memiliki pengaruh jauh lebih besar dibandingkan guru mereka sendiri.

Mungkin benar bahwa satu atau dua ucapan tidak akan menghancurkan pendidikan bangsa. Akan tetapi, pendidikan tidak pernah runtuh karena satu peristiwa besar. Pendidikan berubah sedikit demi sedikit melalui kebiasaan yang terus diulang. Apa yang dianggap lumrah hari ini dapat menjadi budaya pada masa mendatang.

Ketika bahasa yang kurang pantas terus-menerus mendapatkan pembenaran karena diucapkan oleh orang yang berkuasa, anak-anak perlahan belajar bahwa standar etika dapat berubah mengikuti jabatan. Mereka dapat sampai pada kesimpulan bahwa yang penting bukanlah apa yang dikatakan, melainkan siapa yang mengatakannya. Dan di situlah letak persoalan yang sesungguhnya.

Pendidikan karakter berusaha mengajarkan bahwa nilai berlaku bagi semua orang. Bahwa adab tidak bergantung pada jabatan. Bahwa rasa hormat tidak boleh dipilih-pilih. Bahwa semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberi contoh yang baik.

Karena itu, kritik terhadap bahasa dan perilaku para pemimpin seharusnya tidak dipandang sebagai persoalan sepele. Ini bukan semata-mata soal diksi, gaya komunikasi, atau sensitivitas publik. Ini adalah persoalan tentang teladan yang sedang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Guru akan tetap mengajarkan adab di kelas. Guru akan tetap mengingatkan pentingnya menghormati orang yang lebih tua, menjaga tutur kata, serta menghargai para pemimpin bangsa. Namun tugas itu akan jauh lebih ringan apabila nilai-nilai yang diajarkan di sekolah memperoleh dukungan dari keteladanan yang hadir di ruang publik.

Sebab pada akhirnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu memerintah, memengaruhi, atau menggerakkan massa. Bangsa ini juga membutuhkan pemimpin yang memahami bahwa setiap kata yang diucapkannya sedang didengar oleh jutaan anak yang kelak akan menentukan arah Indonesia. Dan ketika seorang pemimpin berbicara, sesungguhnya bukan hanya masyarakat yang mendengarkan. Guru-guru di seluruh negeri pun ikut menanggung dampaknya.