(PDH: Awal Mula)
Berita dugaan kasus korupsi yang menyeret bupati A sudah kau dengar sedari kemarin. Berita itu kau dapatkan dari sesama rekan jurnalis. “Berita Kriminal,” begitulah kau menyebutnya.

“Sudah malam betul, aku mau makan sup. Tapi mungkin sup buatan Dilla sudah dingin sekarang, huft,”

Lagi-lagi lembur. Itulah bagaimana menjelang jam sebelas ini kau masih terjebak bersama vespa kesayanganmu yang kau beri nama Vegas. Motor itu walaupun tua dan kerap terkentut-kentut menerobos padatnya jalan, masih terus kau pertahankan. Mungkin karena itu merupakan peninggalan ayahmu, Vespa GTS 250 IE yang diproduksi tahun 2005, motor antik yang menyimpan banyak kenangan.

“Besok harus bangun pagi,” gumammu kembali sembari mendesah lelah. Yap, seperti yang telah kau sangka, tugas meliput kasus itu jatuh ke tanganmu. Kurasakan detak jantungmu sejak tadi terus berpacu, seperti gerung mesin otomotif yang hendak melaju. Ah, adrenalin. Itu barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan getar di dadamu.

(Boneka Kelinci: 22 Tahun Lalu, Malam Sepi)
Malam demikian suntuk, dan kau masih tersedu sambil memelukku. Untungnya, di samping, sesosok bayi berumur delapan bulan belum menunjukkan tanda-tanda terganggu, dan bakal menangis sepertimu. Akan repot sekali jika sekamar dengan dua anak yang tengah menangis.

Malam semakin dingin, tapi aku tak tahu bagaimana cara menenangkanmu. Bibi pembantu tadi izin pergi ke rumah sakit karena ada kerabatnya yang sedang sakit. Dia berpesan kepadamu untuk segera tidur, dan menemani adikmu. Namun, ah, apa yang bisa diharapkan dari seorang anak berumur tujuh tahun?

Ayah dan ibumu pasti akan menepuk-nepuk bokongmu kalau kau tak kunjung tidur. Tapi bagaimana kedua orang itu bakal menenangkanmu kalau mereka saja begitu sibuk belakangan ini. Entahlah, aku tak mengerti. Setiap salah satu dari keduanya bertandang ke kamar ini, kulihat raut pucat di wajah mereka. Kuingat langit gelap yang kadang menggumpal seperti bulu hitam serigala di luar jendela. Seperti itulah wajah dua orang itu.

Ayah dan ibumu tak bakal datang malam ini, sama seperti malam-malam sebelumnya. Kau tidurlah saja dalam hangat pelukku.

(PDH: Percakapan Suram Pagi Hari)
“Kemarin lusa ada wartawan meninggal di Papua,” Dilla masuk tanpa salam ke kamarmu.

“Permisi! kau sudah dewasa dan masih tidak tahu etika sederhana itu?”

Adikmu yang tomboi itu mengendikkan bahu, “Kamu masih mau jadi wartawan? mau bernasib sama seperti wartawan itu?”

Kau mematut diri di depan cermin. Kau tampak keren. Kau sapukan lip balm di bibirmu, sempurna. Kau berbalik.

“Terima kasih sudah mengkhawatirkan kakakmu ini. Kau harus tahu, tidak semua wartawan akan berakhir seperti itu. Bukankah teman kerja kakak dulu pernah ke sini? ada yang tua, kakek-kakek, dan mereka panjang umur.”

“Aku hanya mengingatkan, terserah kalau kau tak mau.”

Kau tepuk bahunya pelan. “Ya, terima kasih. Kakak berangkat dulu,”

Kau pergi, mengendarai Vegas. Di dadamu, jantung semakin kuat bertalu.

(Boneka Kelinci: Ayah-Ibu & Gunung Emas Berbahaya)
Adikmu menangis. Ah, menyebalkan. Kau menaruhku di sampingnya.

Dari dapur, bibi datang tergesa membawa sebotol susu. Dia pikir adikmu sedang lapar. Tapi, bau dari balik popok, segera menyadarkannya. Adikmu pup.

Dengan sigap, ia bawa si kecil ke teras belakang untuk mengganti popok. Di belakangnya kau mengikuti, bersamaku.

Mata kecilmu yang penuh binar memperhatikan apa yang dilakukan bibi.

“Bibi, ayah dan ibu di mana? Katanya hari minggu kemarin, ayah mau bawa aku, Lily, dan Dilla ke kebun binatang.”

Bibi tersenyum, “Ayah dan Ibu Kana sedang pergi ke gunung emas yang jauh dan berbahaya. Kalau kembali, emas itu akan dikasih ke kalian. Jadi, tugas Kana sekarang berdoa, semoga ayah dan ibu cepat kembali dan membawa banyak emas.”

(PDH: Kau Memasuki Labirin)
Sepuluh hari berlalu sejak kau menyelidiki kasus sang bupati. Selama itu, sudah ada beberapa berita yang kau buat terkait perkembangan kasus tersebut. Disinyalir kuat kasus itu turut melibatkan beberapa perusahaan tambang besar, beberapa pejabat di tingkat provinsi, juga pusat.

“Ini semakin rumit. Aku mulai takut,” ucapmu kepada teman jurnalis di kantor.

“Mengapa tidak kau hentikan saja? jangan membahayakan diri.” Salah seorang rekan coba memberi ide.

Sejenak kau berpikir, mempertimbangkan usulan tersebut. Tapi, ah, kau begitu lembut sayang. Kau membayangkan wajah orang yang dirugikan oleh kasus itu. Kau membayangkan wajah adik, bibi, juga ayah dan ibumu.

Degup jantungmu semakin keras berdetak. Aku tahu kau dilingkupi gelisah. Percakapan dengan adikmu beberapa hari lalu terus terngiang. Aku merasakan dingin. Tubuhmu menggigil, walau banyak keringat mengalir.

(Boneka Kelinci: Ku Ingin Mendekapmu Seerat Mungkin)
Pagi itu kau terbangun di bawah bising yang begitu asing. Kau keluar kamar, dan segera menemukan keramaian yang begitu jarang ada di rumah ini. Ayah dan ibumu belum juga pulang. Kau bertanya-tanya, sedang apa mereka di rumah?

Di antara keramaian, kau dapati wajah-wajah yang hanya bisa ditemui setahun sekali, yaitu ketika hari raya. Ada Om Beji, Om Galih, Om Satria, Tante Maya, Tante Riska, dan banyak lagi. Di antara mereka juga ada bibi, sedang tersedu. Ia memakai gamis dan kerudung serba hitam.

Di tengah keramaian, ada dua gundukan yang ditutupi kain batik cokelat. Oh, aku tahu ini. Ini sangat menyedihkan. Tapi sayang kau masih begitu muda untuk paham.

Mulutmu menguap. Masih ada sisa kantuk di wajahmu.

“Bibi, aku mau minum susu.”

Semua orang mengalihkan perhatian padamu, Mata-mata sayu itu menatapmu sedih. Aku ingin mendekapmu seerat yang aku bisa.

Tiba-tiba saja hujan deras turun, guruh menyusul. Dari dalam kamar, tangis adikmu terdengar meraung-raung.

(PDH: Sepaket Peringatan)
Surat itu sudah ada di depan pintu kantor redaksi sejak pagi buta. Menurut kesaksian salah seorang cleaning service, surat itu ada dalam sebuah kotak berbau bangkai. Dengan menahan mual, si cleaning service menceritakan bahwa dalam kotak itu, selain ada surat, juga ada bangkai tikus, yang eww, berbelatung. Pada kertas itu, ada namamu.

Kau memasang wajah tenang. Tapi kau tak bisa mengelabuiku. Dingin dalam dirimu, semakin menusuk, membuatku kian menggigil.

“Kana, saya minta tolong kamu hentikan liputan kasus itu.” Pak Bima, sang boss memohon. “Saya tahu kamu sangat menjunjung kebenaran, tapi kali ini situasinya begitu mengkhawatirkan. Demi ayah dan ibumu, Kana.”

(Boneka Kelinci: Wasiat Bibi)
Lima tahun berlalu sejak keramaian tak diharapkan yang membuatmu yakin, bahwa itulah dalang di balik tak kunjung kembalinya ayah dan ibumu. Kemarin, bibi menghembuskan napas terakhir. “Dia terbang ke langit, menemui ayah dan ibu,” begitu kata Dilla, adikmu yang indigo.

Walau wajahku datar selalu, aku sedih untukmu. Wajahmu itu, betapa kini hampir menyerupai wajahku. Tanpa emosi, tanpa ekspresi, pucat seolah tanpa nyawa. Tersenyumlah. Pada wajahmu, aku ingin melihat senyum rekah.

Namun, matamu lengang tanpa binar. Sepasang sayu itu menatap sebuah figura yang menangkup wajah tersenyum bibi. Aku menduga, ucapan terakhir bibi-lah yang membuatmu seperti ini: tentang pekerjaan orang tuamu sebagai wartawan dan kematian yang menyertai keduanya.

(PDH: Malam Beku, Tubuh Kita Membiru)
Malam ini semakin dingin. Tak hanya kau, aku pun juga menggigil. Terhitung seminggu sudah berlalu sejak teror surat tikus itu. Pak Bima memaksamu untuk berhenti, tapi kau tak mau. Kali ini aku pun setuju dengan kata-kata Pak Bima sebelum kau keluar dari ruangannya. “Kau gila.”

Baiklah, kau memang gadis yang kuat lagi hebat. Aku takjub dengan keteguhan hatimu, apalagi setelah hari-hari terakhir. Tidakkah kau rasakan mata-mata singa yang beringas mengintaimu? Kau harus tahu bahwa aku takut sekali.

Cukup sudah kesabaranku untuk malam ini. Aku mendekapmu semakin erat agar kau tahu kegelisahanku.

Sepertinya usahaku tak sia-sia. Kau meneguk ludah. Tanganmu memacu gas. Mata-mata singa semakin awas.

Tapi oh Tuhan, kali ini aku harus merutuki kegigihanmu mempertahankan si Vegas. Lihat saja, vespa tua itu terus melaju lambat-lambat, seolah tak peka pada rasa takut yang menggerogoti kita kian buas.

Keringatmu semakin deras. Sebuah letusan terdengar dari belakang. Kurasakan kainku bolong, dan darahmu merembes mengurapiku dengan merah darah.

(Megatruh: Ke Mana Perginya Aromamu di PDH & Boneka Kelinci Itu?)
Telingaku lengang diserbu berbagai kata-kata hiburan dari para tetangga, kerabat, juga kolega kakak. Kini, aku benar-benar sendiri. Lihatlah wajah yang tersenyum dalam rengkuhan figura putih itu. Apakah ia sedang tersenyum melihat adiknya sebatang kara?

Mataku sudah lama mongering. Jejak hitam tertinggal di bawahnya. Walau berkali-kali aku mencoba menguatkan diri, tapi tetap saja ada yang bergejolak dalam dadaku. Rasa sedih bercampur rasa bersalah karena dulu sering mengajaknya berseteru. Aku merasa menyesal. Sangat. Sebab, tujuh hari selepas ia pergi, di rumah ini tak lagi kurasakan kehadirannya. Bahkan, pada Lily sang boneka kelinci, juga pada PDH yang terdapat bolong di punggungnya.

Sumenep-Subang, 2025-2026

*cerpen ini dibuat dengan mengadopsi teknik fraksionasi cerpen ala Pak Ranang Aji SP.

*) Image by istockphoto.com