KURUNGBUKA.com – Di X (dulu: Twitter) ada perbincangan lumayan ramai soal selera atas bacaan (buku) versus kualitas bacaan (buku). Satu kelompok bilang, bacaan itu terpulang pada selera pribadi masing-masing, tiap orang punya selera berbeda-beda, tidak perlulah dibanding-bandingkan, apa lagi sampai menjelek-jelekkan selera orang lain. Kelompok lain bersikukuh, ada buku bagus dan ada buku jelek, kita perlu kritis memilahnya.
Bagi saya, jika obrolan perbukuan berhenti pada “bacaan itu selera pribadi masing-masing”, itu tidak lain hasil dari kegagalan pembelajaran bahasa/sastra di ruang kelas/keluarga/masyarakat. Waktu anak-anak masih kecil, kamilah, orangtua mereka, yang mengarahkan dan membentuk selera baca mereka. Makin mereka besar, makin lapang ruang untuk berdiskusi, makin mampu mereka memilih sendiri bacaan sesuai dengan selera mereka. Namun, selera bentukan kami tak ayal memengaruhi perkembangan selera tersebut.
Nah, apakah soal selera ini sekadar “ya tiap orang berbeda-beda seleranya”? Apakah setiap selera sah-sah saja? Apakah selera tidak bisa dinilai baik dan buruknya? Tentu saja, tidak. Soal makan, misalnya. Orang yang selera makannya serbakarbo dan serbagula serta benci makan sayur, apa ya akan disebut punya selera makan yang baik? Begitu juga dengan selera terhadap buku (bacaan).
Di satu sisi, selera itu berkembang—sejalan dengan pembelajaran seseorang. Saat remaja saya sok suci tidak menyentuh novel-novel Abdullah Harahap, menilainya sebagai bacaan murahan dan cabul. Di umur 40-an, setelah membaca sejumlah ulasan tentangnya, saya mendapati Abdullah Harahap sebagai salah satu juru cerita paling mumpuni dan mahir menyusupkan isu sosial-politik dalam kisah horornya.
Di sisi lain, karena bisa berkembang, selera dengan demikian juga ada kelasnya. Ada kualitasnya. Ada selera baik dan ada selera buruk. Atau, sebagai pembaca, ya kita mestinya mengasah ketajaman selera kita, agar makin cakap memilah mana bacaan (buku) yang bagus dan mana yang buruk.
Bagaimana menilai buku (bacaan)? Secara umum, ada dua aspek yang bisa ditelaah: ide (gagasan yang diusung) dan detail (bagaimana gagasan itu dikemas, teknik penyampaiannya).
Aspek Detail
Kita bahas dulu aspek detail. Dan, kita soroti yang paling sederhana: soal kalimat. Dari tataran kalimat saja, bacaan bisa dinilai baik-buruknya. Ada takarannya secara ilmu bahasa. Ada bacaan dengan kalimat-kalimat efektif; tidak sedikit bacaan yang penuh dengan kalimat-kalimat bermasalah (kalimat rancu, kalimat membosankan, kalimat mubazir, dsb.).
Ada penulis pemula yang masih gagap berkalimat; ada penulis cakap yang piawai mendayagunakan berbagai gaya dan variasi kalimat. Ada yang menulis dengan kalimat panjang berkelok berliku beranak-cucu, tapi tetap asyik dikuti karena si penulis pintar menempatkan subyek dan predikatnya.
Sebaliknya, ada yang menulis dengan kalimat pendek-pendek, tapi tetap saja membingungkan karena kalimat-kalimatnya rancu, tidak jelas mana subyek mana predikat. Kalau seorang pembaca belum mumpuni soal kalimat efektif, ya jangan berlindung di balik selera, tapi belajarlah soal tata kalimat yang baik.
Aspek Ide
Selanjutnya, buku (bacaan) bisa dinilai dari sisi ide, gagasan apa yang ditawarkan si penulis. Apakah dia menawarkan idenya secara segar dan memikat? (Ini persoalan teknis juga sebenarnya.) Dan, yang lebih penting, apakah idenya itu sehat dan menggarisbawahi nilai-nilai kemanusiaan atau malah merendahkannya, apakah idenya menggugah empati pada perjuangan hidup sesama?
Saya ambil contoh ide seksualitas yang diusung dua penulis perempuan kita: Nh. Dini dan Ayu Utami. Nh. Dini menampilkan seksualitas secara rileks: sebagai salah satu bagian wajar dari pergulatan hidup manusia. Sebaliknya, Ayu Utami, khususnya lewat Saman dan Larung (saya hanya baca dua itu, lainnya tidak), menempatkan seksualitas sebagai teriakan holier-than-thou: Gue mengekspresikan seksualitas secara lebih leluasa, bukti bahwa gue lebih tercerahkan dan lebih terbebaskan dari elu-elu yang kolot!
Bagi saya, sikap dan posisi Nh. Dini lebih sehat dan lebih menghargai dinamika seksualitas manusia. Tentu saja, penilaian seperti di atas bisa diperdebatkan. Namun, poinnya, kita tidak berhenti di selera, melainkan belajar bersikap kritis atas bacaan. Bukan sekadar suka atau tidak suka, tapi paling tidak mampu mengungkapkan alasan di baliknya. Kemampuan itu, daya kritis itu, juga sangat terbuka untuk berkembang. Kita ditantang untuk terus-menerus belajar agar lebih peka terhadap perspektif yang lebih sehat, yang lebih empatik, yang lebih menghormati manusia dan kemanusiaan.
Meningkatkan Selera
Dari dua aspek tadi saja, secara garis besar buku (bacaan) dapat dinilai dalam empat kuadran berikut ini:
- Ide buruk, detail buruk.
- Ide buruk, detail bagus.
- Ide bagus, detail buruk.
- Ide bagus, detail bagus.
Membaca adalah mengasah sikap kritis. Memprihatinkan kalau obrolan soal bacaan dimentahkan ke soal selera belaka, seolah selera mesti dihormati dan tidak layak diganggu gugat. Selera bisa berkembang. Selera bisa diasah. Jangan berlindung di balik kemalasan untuk memperbaiki selera. Sikap begini, lagi-lagi, buah dari kegagalan tiga pusat pendidikan kita (sekolah, keluarga, dan masyarakat). Pembaca yang tekun tidak hanya membaca untuk memuaskan seleranya, tapi tergugah untuk meningkatkan kualitas bacaannya. ***

















Penulis artikel ini sudah punya berapa buku? Laku tidak buku2nya? Pernah memenangkan penghargaan IKAPI tidak? Duuh, bukan siapa2 kok sok gaya menilai “selera baca” orang lain, sok gaya menilai kualitas buku, bahkan website kurungbuka ini sendiri apa sih? Kocak banget. Fokuslah membesarkan dunia tulisan kalian sendiri, bukan mencari sensasi dgn sibuk menilai selera baca orang lain sambil sok pling nyastra.