KURUNGBUKA.com – Setiap kali kita merayakan Hari Nelayan, bayangan yang muncul hampir selalu sama yaitu laki-laki yang melaut, menantang ombak, dan pulang membawa hasil tangkapan. Namun, ada satu kelompok yang hampir tak pernah disebut, padahal mereka bekerja sama kerasnya yaitu perempuan.
Di banyak wilayah pesisir, perempuan bukan hanya “pendamping hidup” nelayan. Mereka justru ikut menyiapkan alat tangkap, memperbaiki jaring, bahkan turut melaut. Di darat, mereka mengolah hasil tangkapan, menjualnya ke pasar, dan memastikan dapur tetap menyala ketika hasil laut tak menentu. Peran mereka hadir di seluruh rantai perikanan, dari laut hingga ke meja makan. Bahkan, sebagian perempuan turut merawat keberlanjutan sumber daya alam untuk memastikan ketersediaan ikan tetap terjaga seperti membibit, menanam dan merawat mangrove.
Namun ironisnya, kerja-kerja ini sering tidak diakui sebagai bagian dari aktivitas kenelayanan. Padahal, secara hukum ruang pengakuan itu sudah ada. Dalam Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, nelayan kecil didefinisikan sebagai orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, baik yang menggunakan kapal penangkap ikan maupun yang tidak menggunakan kapal penangkap ikan.
Artinya, perempuan yang mencari kepiting bakau di pesisir, mengumpulkan hasil laut, atau bekerja tanpa kapal, seharusnya juga diakui sebagai nelayan.
Namun apa yang terjadi?
Di Demak, Jawa Tengah, sebanyak 31 perempuan nelayan akhirnya diakui dengan mendapatkan kartu asuransi nelayan pada 9 Agustus 2019. Pengakuan ini bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil perjuangan mereka selama tiga tahun. Sebelumnya, mereka kerap dianggap hanya sebagai buruh atau sekadar membantu suami, sehingga tidak berhak mendapatkan identitas sebagai nelayan.
Bahkan setelah diakui secara administratif, tantangan belum berhenti. Pengakuan itu kerap masih berhenti di atas kertas. Dalam praktiknya, hak-hak sebagai nelayan akses terhadap bantuan, pelatihan, hingga perlindungan sosial belum sepenuhnya mereka rasakan.
Lebih dari itu, mereka juga menghadapi kerentanan yang jarang dibicarakan. Perempuan pencari kepiting bakau di pesisir Demak, misalnya, tidak hanya berhadapan dengan risiko alam, tetapi juga tekanan sosial. Beberapa di antaranya mengalami intimidasi dari nelayan lain, bahkan kehilangan alat tangkap seperti bubu sebagai bentuk ancaman bahwa mereka tidak boleh mengakses sumber daya alam. Ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga soal ruang kerja dan akses yang tidak aman.
Di sisi lain, tidak sedikit perempuan yang ikut melaut bersama suaminya. Namun alih-alih mendapat pengakuan, mereka justru kerap direndahkan oleh nelayan laki-laki lain dianggap sebagai tanda bahwa suami mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Stigma ini menunjukkan bahwa persoalan perempuan nelayan bukan hanya soal akses, tetapi juga soal cara pandang.
Di rumah, situasinya tidak menjadi lebih ringan. Setelah kembali dari laut atau aktivitas perikanan, mereka tetap memikul tanggung jawab domestik mulai dari memasak, mengurus anak, hingga pekerjaan rumah tangga lainnya. Perempuan nelayan hidup dalam beban ganda yaitu bekerja di sektor produktif, tetapi tetap dibebani peran domestik tanpa pengakuan yang setara.

Kondisi ini menjadi semakin berat dalam beberapa tahun terakhir. Perubahan iklim telah mengubah pola musim, meningkatkan ketidakpastian cuaca, dan berdampak langsung pada hasil tangkapan. Di Demak, nelayan merasakan penurunan hasil tangkapan hingga sekitar 50 persen dalam lima tahun terakhir. Dampaknya tidak hanya pada pendapatan, tetapi juga pada ketahanan rumah tangga.
Ketika hasil laut berkurang, perempuanlah yang sering kali menjadi penyangga terakhir, mencari cara agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi, meskipun sumber penghasilan utama semakin tidak pasti.
Di saat yang sama, ancaman fisik juga semakin nyata. Banyak wilayah pesisir Demak mengalami banjir rob yang semakin parah. Rumah-rumah warga tergenang, bahkan perlahan tenggelam. Dalam situasi ini, perempuan kembali berada di garis depan menjaga rumah, merawat keluarga, dan beradaptasi dengan kondisi yang terus memburuk.
Ini menunjukkan satu hal penting: pengakuan belum tentu berarti keadilan. Perempuan nelayan masih berada di wilayah abu-abu, diakui tapi tidak sepenuhnya dianggap, dilibatkan tapi belum diprioritaskan. Padahal, tanpa mereka, rantai perikanan tidak akan berjalan utuh.
Masalah ini menjadi semakin krusial ketika negara dibawa kepemimpinan Prabowo Subianto mulai mendorong program besar seperti pembangunan 1000 kampung nelayan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pembangunan infrastruktur, penguatan usaha, serta integrasi rantai nilai perikanan.
Namun, pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah perempuan benar-benar menjadi bagian dari desain program ini?
Jika pendekatan yang digunakan masih bertumpu pada definisi nelayan yang sempit dalam praktiknya, maka perempuan berisiko kembali ditempatkan di pinggir. Mereka mungkin hadir dalam aktivitas pengolahan dan pemasaran, tetapi tidak masuk dalam data utama, tidak terlibat dalam pengambilan keputusan, dan tidak menjadi prioritas dalam penerima manfaat.
Padahal, justru di tangan perempuan, nilai tambah sektor perikanan banyak diciptakan dari mengolah hasil tangkapan hingga memastikan keberlanjutan ekonomi rumah tangga pesisir. Mengabaikan mereka berarti mengabaikan fondasi dari kesejahteraan itu sendiri.
Tanpa keberpihakan yang jelas dalam kebijakan, program sebesar apa pun berpotensi hanya mengulang pola lama: perempuan bekerja, tetapi tetap tidak dihitung.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin kita berbicara tentang kesejahteraan nelayan jika sebagian pelakunya masih tak terlihat?
Hari Nelayan seharusnya menjadi momen untuk memperluas cara pandang kita, bahwa nelayan bukan hanya mereka yang melaut, tetapi juga mereka yang bekerja di sepanjang rantai perikanan, termasuk perempuan. Karena laut tidak hanya dijaga oleh mereka yang pergi ke tengahnya, tapi juga oleh mereka yang setia bekerja dari darat.
Jika negara terus menutup mata, maka perempuan nelayan akan terus bekerja menghidupi bangsa tanpa pernah benar-benar dihidupi oleh kebijakan. Selamat memperingati Hari Nelayan Nasional.












