KURUNGBUKA.com – Sebagai seseorang yang sudah puluhan kali mendaki gunung, saya sering dimintai pendapat terkait gunung apa yang ramah untuk pemula. Jujur ya, pertanyaan itu sebetulnya simpel tapi ruwet kalau dijawab. Saya tidak bisa menjawab sembarangan mengingat dulu saya pernah merasa tertipu dengan rekomendasi “gunung pemula” dari seorang kawan.
Sebelas tahun lalu, saya diajak muncak ke Gunung Penanggungan di Jawa Timur. Tingginya yang hanya 1.652 mdpl ditambah waktu pendakian sekitar tiga jam via Tamiajeng terasa mudah saat dibayangkan. Sekilas cocok untuk first timer seperti saya.
Kenyataannya? Gunung jahanam ini sangat menyiksa. Jalurnya kelewat curam dan tak kenal ampun terutama antara pos bayangan sampai puncak. Saya ingat hampir menangis saking takutnya melihat tanjakan di depan mata. Mungkin memang ada diluar sana pemula yang merasa gunung ini ramah. Namun yang jelas, orang itu bukan saya. Setelah pengalaman itu, Penanggungan tidak bisa sembarangan saya rekomendasikan ke orang lain.
Setelah puluhan pendakian, belum ada satupun gunung yang benar-benar ramah pemula dan bisa saya rekomendasikan. Malah saya menemukan kalau jebakan “gunung pemula”, seperti Penanggungan, ada di mana-mana. Saya bahkan sempat sampai pada kesimpulan kalau gunung pemula itu mitos. Entah itu karena tipe jalurnya, tingkat kelandaiannya, durasi pendakiannya, atau gabungan semuanya, pada dasarnya semua gunung itu tidak boleh diremehkan dengan diberi label “ramah pemula”.
Namun, keyakinan tadi runtuh seketika semenjak saya muncak Gunung Sibayak. Gunung di Sumatera Utara ini bak outlier dalam statistik yang mematahkan skeptisisme saya. Saat ini bisa dengan mantap saya menobatkan Gunung Sibayak sebagai sebaik-baiknya gunung bagi pemula. Mari saya jelaskan alasannya.

- Jalan Tidak Terlalu Curam
Saat pertama kali tahu durasi pendakiannya hanya sekitar tiga jam, insting pendaki saya memberikan isyarat curiga. Gunung berketinggian 2.100an Mdpl durasinya singkat? Jawabannya kemungkinan besar karena jalurnya memotong kontur gunung. Dengan kata lain, jalur menanjak yang tak kenal ampun.
Ketika saya mendaki pun sebetulnya sambil diliputi perasaan cemas. Setiap langkah kaki diiringi perasaan ketar-ketir, menunggu di tanjakan mana gunung ini akan “menghukum” pendaki. Ternyata, setelah sampai atas, hukuman yang dikhawatirkan tidak kunjung tiba. Tanjakannya sopan dan manusiawi. Sungguh menyenangkan karena tahu-tahu sudah sampai kawah.
Oiya, bagi yang ingin mendaki Gunung Sibayak, kawah itu ibarat “puncak sosial”nya Sibayak. Berhasil sampai sini saja pemandangan sudah bagus, bisa pasang tenda, sekaligus foto-foto buat dipajang di medsos. Jadi kalau nafas sudah habis di sini, nggak maksa naik lagi juga nggak dosa.
- Treknya bervariasi, cocok untuk “ospek”
Sebagai pendaki, kita harus mempersiapkan diri dengan segala medan pendakian. Pasalnya, selama mendaki, kita tidak bisa memilih seperti apa jenis trek yang akan dilalui. Mau tidak mau ya harus memaksakan diri untuk jalan terus kalau mau sampai ke puncak. Kebanyakan pemula ketika sudah mulai mendaki, karena kaget dan tidak nyaman, sering melontarkan pertanyaan seperti “kok treknya gini?” atau “ini kapan selesainya?”.
Untungnya Gunung Sibayak ini ibarat laboratorium praktek. Tempat latihan yang cocok untuk para pendaki nyicip seperti apa gilanya trek pendakian gunung-gunung di Indonesia namun dalam porsi “sachet”.
Berangkat dari basecamp, jalannya masih aspal sepanjang beberapa ratus meter. Mirip sama jalanan komplek perumahan mahal. Cuman jalannya aja yang nanjak. Cocok sekali sebagai pemanasan dan penyesuaian langkah. Tidak diburu-buru untuk segera memikirkan kemana kaki aman berpijak atau mencari tumpuan dan pegangan. Rasanya seperti jalan di komplek perumahan. Hanya beda di jalannya saja yang menanjak. Tipe awalan seperti ini sangat bagus untuk pemula karena tidak dipaksa mengatasi banyak tantangan sekaligus di awal.
Memasuki hutan, menu treknya pun berubah. Sebelum aspal digantikan tanah, terdapat tangga buatan dari semen. Sama seperti sebelumnya, bagian ini cocok sekali sebagai pembiasaan sebelum selanjutnya melewati tangga-tangga alam terbuat dari akar pohon dan bebatuan. Di sinilah ketahanan dilatih sedikit-sedikit. Tapi tenang, karena “sachet”, cobaannya jadi nggak terlalu lama.

- Bisa memilih puncak sesuai dengan kemampuan
Gunung Sibayak memiliki tiga puncak dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Dari kawah langsung terlihat dua puncak yang dapat dipilih, yakni Puncak Antene di sebelah kanan dan Puncak Tapal Kuda di sebelah kiri. Puncak Antene adalah puncak yang paling rendah sekaligus paling mudah didaki. Mungkin hanya sekitar lima belas menit jaraknya dari kawah. Meskipun terdapat tebing yang perlu dipanjat, ketinggiannya tidak seberapa. Dapat dilalui dengan beberapa langkah saja. Bagi pendaki pemula, ini bisa dijadikan bahan cerita seru, “gilak, kemaren muncak sampe manjat tebing, lur!” Padahal ya manjat dikit doang.
Puncak tertinggi kedua adalah Puncak Tapal Kuda. Jalan menuju puncak ini dari kawah palingan cuma sekitar tiga puluh menit. Kalau yang ini, jalannya sedikit lebih susah dan perlu sedikit upaya ekstra bila ingin ke atas.
Berbeda dengan kedua puncak sebelumnya yang saya rasa masih ramah pemula, Puncak Pintau sudah masuk kategori menyiksa. Beberapa pendaki yang saya kenal mendeskripsikan sensasi jalan menuju Puncak Pintau seperti “naik gunung sungguhan”. Lokasinya pun cukup jauh dari kawah, sekitar satu jam perjalanan. Sehingga saya sendiri sangat menyarankan pemula tidak usah mendaki sampai Puncak Pintau. Toh pemandangannya sebelas-dua belas dengan dua puncak sebelumnya. Sangat tidak worth it kalau misal kalian mendaki cuma untuk pajang status doang.
Intinya, Gunung Sibayak memang sangat layak dinobatkan sebagai gunung ramah pemula. Tanpa perlu naik sampai atas, sebetulnya bukti-bukti keramahannya sudah dapat dilihat bahkan sejak sebelum mulai mendaki. Pengalaman saya waktu di basecamp, baik ketika naik maupun turun, terlihat pendaki dari berbagai rentang usia. Dari yang sudah ubanan sampai dengan bocah TK yang naik bersama kedua orang tuanya.
Jadi kalau mereka saja bisa, sudah jelas kalian yang masih muda dan sehat wal afiat nggak?











