KURUNGBUKA.com, SERANG – Sekitar 50 peserta memadati Teater Terbuka Rumah Dunia, Kota Serang, Sabtu (14/3), dalam acara Nyenyore dan Kado Lebaran 2026 yang dirangkaikan dengan peluncuran dan diskusi buku Suara dari Alaska. Buku ini ditulis oleh Heru Anwari, atlet BMX freestyle yang kini mulai menapaki dunia kepenulisan.
Diskusi yang dipandu oleh Ade Ubaidil menghadirkan pula jurnalis Wahyu Arya sebagai pembedah buku. Acara berlangsung hangat dengan pembahasan mengenai proses kreatif, pengalaman hidup, hingga kemungkinan lahirnya suara baru dalam dunia literasi di Banten.
Dalam pemaparannya, Heru menjelaskan bahwa tulisan-tulisannya berangkat dari pengalaman tubuh dan perjalanan hidupnya sendiri. Ia mengisahkan berbagai pertemuan sederhana yang kemudian memantik refleksi—mulai dari obrolan ringan tentang buaya hingga percakapan dengan orang asing di pesawat. Pengalaman-pengalaman itu kemudian diolah menjadi esai yang mencoba membuka kesadaran baru.

“Menulis bagi saya seperti perjalanan mencari jalan yang lebih sunyi, seperti mencari jalan suci. Ada kebahagiaan yang berbeda ketika pengalaman hidup bisa menjadi tulisan,” ujar Heru.
Moderator diskusi, Ade Ubaidil, menilai esai-esai dalam buku tersebut memiliki nuansa reflektif sekaligus religius. Ia menduga hal itu tidak terlepas dari latar belakang Heru yang tumbuh dalam lingkungan pesantren.
“Menariknya, Heru belajar menulis dari pengalaman yang dialaminya sendiri selama berkeliling dunia. Dari situ lahir kesadaran baru yang kemudian menjadi cerita,” kata Ade, seraya menekankan pentingnya konsistensi dalam menulis agar pengalaman tersebut tidak berhenti hanya pada satu buku.
Hal serupa juga disampaikan Wahyu Arya. Ia menilai kemunculan buku pertama sering kali menjadi momen krusial bagi seorang penulis.

“Ketika buku pertama muncul lalu dipuji, itu bisa berbahaya. Banyak orang berhenti setelah itu,” ujarnya. Namun, menurutnya latar belakang Heru yang tidak berasal dari dunia akademik justru membuka peluang baru bagi dunia literasi.
“Justru ini menarik. Orang yang tidak terdidik secara akademis pun bisa menghasilkan tulisan yang kuat. Saya kira ini tidak akan menjadi buku satu-satunya. Kisah-kisah Heru bisa berkembang menjadi cerpen, esai, bahkan karya sastra lain,” tambahnya.
Dalam sesi tanggapan, Encep, pendiri Klinik Menulis, menyoroti stagnasi regenerasi penulis di Banten. Ia menilai kemunculan Heru menjadi bukti bahwa dunia literasi masih terbuka bagi siapa saja.
“Penulis di Banten sering kali orangnya itu-itu saja. Hari ini kita melihat sosok baru. Ini harus disambut dengan baik,” katanya.
Menurut Encep, kegelisahan merupakan bagian dari fitrah manusia yang kerap melahirkan tulisan. Namun kegelisahan tersebut perlu diarahkan melalui bimbingan dan proses belajar.
“Heru memiliki banyak kegelisahan dalam tulisannya. Itu bagus, tetapi tetap perlu guru atau mentor agar tidak larut dalam kegilaan hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Gol A Gong, yang pernah menjabat sebagai Duta Baca Indonesia periode 2021–2025, menilai buku Suara dari Alaska sebagai awal yang menjanjikan. Ia mendorong Heru untuk terus mengeksplorasi pengalaman hidupnya, termasuk kemungkinan menulis kisah perjalanan.

“Ini awal yang bagus. Tinggal dieksplorasi lagi. Kisah-kisah seperti ini bisa berkembang menjadi tulisan perjalanan,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi peran Encep yang dianggap berhasil menemukan “mutiara baru” di Banten, sekaligus menantang agar ke depan lebih banyak menemukan penulis perempuan.
Pandangan lain datang dari Arip Senjaya, dosen Filsafat Ilmu Universitas Sultan Ageng Tirtayasa sekaligus penulis kata pengantar buku tersebut. Menurutnya, “Alaska” dalam buku itu tidak sekadar merujuk pada wilayah geografis, melainkan metafora tentang pengalaman dari pinggiran.
“Esai-esai Heru lahir dari pengalaman tubuh yang benar-benar ia alami sendiri. Itu membuatnya reflektif dan autentik,” katanya. Namun ia juga mengingatkan agar gaya esai tersebut tidak terjebak pada nada yang terlalu menggurui.
Apresiasi juga disampaikan oleh Firman Venayaksa, penggerak Motor Literasi (Moli). Ia menilai buku tersebut membuktikan bahwa profesi apa pun memiliki peluang untuk menulis.

“Tidak semua orang berpikir seorang atlet bisa menulis esai reflektif seperti ini. Ini membahagiakan dan patut diapresiasi,” ujarnya. Ia bahkan berharap buku tersebut dapat menjadi bahan diskusi di lingkungan kampus.
Diskusi buku Suara dari Alaska berlangsung dalam suasana santai dan interaktif, diikuti oleh mahasiswa, pegiat literasi, komunitas BMX freestyle, serta masyarakat umum. Kegiatan kemudian ditutup dengan buka puasa bersama dan sesi foto bersama para peserta.
Peluncuran buku ini sekaligus menandai kemunculan suara baru dalam dunia literasi di Banten, seorang atlet yang mengubah pengalaman tubuhnya di jalanan menjadi refleksi yang dituliskan di atas kertas. (rls/dhe)












