KURUNGBUKA.com – Dua hari lalu, tepat di hari penayangannya, saya langsung menonton Tinggal Meninggal, karya debutan Kristo Immanuel. Film ini punya premis yang menurut saya segar dan jarang hadir di sinema Indonesia. Ceritanya tentang Gema (Omara Esteghlal), seorang anak yang sejak kecil sampai dewasa tak pernah benar-benar mendapat perhatian. Hingga suatu hari ayahnya meninggal, dan anehnya, Gema tidak merasa kehilangan apa-apa. Justru dari momen itulah perhatian mulai datang dari teman-teman kantornya. Namun perhatian itu ternyata singkat. Dua minggu kemudian, perlahan berkurang. Dari situ lahir pikiran absurd dalam diri Gema: siapa lagi yang harus meninggal agar ia kembali jadi pusat perhatian?

Buat saya, ini ide yang menarik sekaligus gelap, tapi dieksekusi dengan gaya yang segar. Menariknya lagi, film ini sama sekali tidak menawarkan bumbu kisah cinta. Justru tanpa itu pun, ceritanya tetap berjalan seru, lucu, sekaligus getir—dengan kemasan sarkas yang halus.

Perjalanan Gema berlanjut dengan rangkaian kebohongan demi kebohongan yang ia buat. Ia mulai menjadikan perhatian itu sebagai candu. Setiap kali tak mendapatkannya, ia seperti orang sakaw. Ada momen ketika perasaan itu digambarkan dengan visual “butterfly in the stomach”, tapi diterjemahkan secara literal: ngengat berterbangan di dalam perutnya. Kreatif, sekaligus bikin ngilu.

Omara Esteghlal tampil memukau. Lapisan emosinya terasa kaya, tapi tidak berlebihan. Karakternya tricky—mudah sekali terjebak jadi artifisial—tapi Omara berhasil membuatnya tetap believable. Seluruh jajaran aktor juga tampil solid, masing-masing dengan ciri khasnya. Chemistry dan interaksinya enak diikuti.

Secara penceritaan, Kristo memilih teknik circular ending. Jadi, sebaiknya jangan ada satu pun scene yang dilewatkan karena semuanya punya fungsi. Dari awal promo, film ini juga sudah memberi petunjuk: breaking the fourth wall. Gema kerap mengajak ngobrol penonton lewat kamera, meski di mata teman-temannya ia hanya terlihat bergumam sendiri. Bagian ini bikin saya merasa relate banget, bahkan sempat nostalgia pada masa kecil. Termasuk adegan tidur selalu dikelilingi bantal sambil menyalakan televisi, supaya nggak sepi aja. Kristo anjjjj!

Salah satu scene favorit saya adalah ketika Gema bermimpi seolah masuk ke dalam produksi film. Saya sempat terkecoh, mengira filmnya sudah selesai. Teknik penceritaan ini segar sekali untuk ukuran film populer Indonesia. Salut buat Kristo, yang ternyata detail dan rapi sekali dalam menulis.Kalau ada catatan pribadi, saya tidak terlalu nyaman dengan pilihan ending-nya. Memang hidup sering menghadirkan hal-hal tak terduga, dan film ini berhasil menangkap itu. Tapi menghadirkan cameo-cameo di akhir membuat saya merasa motivasinya kurang kuat dan tidak memberi penjelasan berarti. Meski begitu, film ini tetap meninggalkan rasa canggung yang unik setelah menontonnya—bahkan ada beberapa scene yang bikin saya bingung harus ketawa atau tidak.

Spesial apresiasi saya berikan untuk Ardit Erwandha sebagai Ilham, Jared Ali sebagai Gema kecil, dan Mario Caesar sebagai Danu yang cukup berhasil jadi “antagonis”. Mereka semua menambah warna cerita. Segera tonton di bioskop, dan temukan: kamu lebih cocok dengan karakter yang mana?

Skor: 8,5/10

*) Image by IMDb.com