KURUNGBUKA.com – Judul novel paling keren di Indonesia, yang belum ada tandingannya: Merahnya Merah. Yang menulis novel bernama Iwan Simatupang. Siapa yang tidak tahu Iwan Simatupang jika mengaku memuliakan sastra di Indonesia? Yang wajib ditanyakan semestinya novel yang dibaca. Paling banyak mungkin membaca novel berjudul Ziarah. Namun, judul novel yang berjudul Merahnya Merah tetap yang pantas di urutan pertama. Kita tidak sedang membahas isi tapi pilihan judul.

Di buku yang berbeda, kita menemukan judul yang apik: Tegak Lurus dengan Langit. Apesnya, judul itu tiba-tiba politis. Simak saja omongan-omongan orang di PDI Perjuangan, PKS, dan pelbagai partai politik. Mereka keseringan bicara “tegak lurus” dalam kepetingan-kepentingan mengandung pertaruhan politik. Di mata pengamat. “tegak lurus” kadang feodalistik ketimbang merayakan demokrasi. Mereka tidak dijamin pernah membaca cerita-cerita gubahan Iwan Simatupang dalam Tegak Lurus dengan Langit.

Yang sering diingat memang cerita-cerita Iwan Simatupang. Selanjutnya, ada yang suka dengan esai-esainya. Jumlah penikmat puisinya terhitung sedikit. Dulu, ada usaha mengumpulkan puisi-puisi gubahan Iwan Simatupang, yang diterbitkan oleh Grasindo menjadi buku tipis. Buku yang kurang diburu ketimbang Ziarah, Merahnya Merah, dan Kering. Esai-esainya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, yang membuat orang terpukau tapi dipaksa mengeluarkan duit banyak jika ingin mengoleksinya.

Kita membuka majalah Tiara, 4-17 Agustus 1991. Di situ, ada halaman-halaman yang mengisahkan Iwan Simatupang. Pengarang yang pernah belajar dan berkelana di Eropa. Ia menikah dengan perempuan Belanda. Di Prancis, ia tekun belajar filsafat. Selama di Eropa, ia mengerti banyak hal meski babak-babak yang dilaluinya selama di Medan, Surabaya, dan Jakarta memberi pengaruh besar dalam misi bersastra.

Yang membaca novel-novelnya akan lekas mengetahii bahwa Iwan Simatupang kental berfilsafat. Ia tidak asal-asalan atau cari gengsi melalui penulisan novel. Iwan Simatupang memang cocok membuat kejutan dalam sastra Indonesia. Novel-novel itu bukti meski orang terbiasa mengenalinya “manusia hotel”. Sebab, ia lama tinggal di Hotel Salak.

Selama kuliah di Paris, Iwan Simatupang wajib bekerja untuk menghidupi keluarga (istri dan anak). Di majalah Tiara, kita membaca: “… ia terpaksa melakukan kerja serabutan. Ia pernah bekerja sebagai sopir taksi dan pelayan di sebuah restoran terkenal di Paris. Sering juga ia mengirimkan tulisan-tulisannya tentang masalah sastra, film, drama, seni lukis, dan masalah kebudayaan umum kepada teman-temannya di tanah air.” Kehidupan selama di Eropa turut menentukan seleranya dalam menggubah cerita. Jadi, kita tidak usah kaget jika mengetahui petilan-petilan biografisnya.

Setelah menikah dua kali, Iwan Simatupang tampil sebagai lelaki yang mendamba. Yang ditulis di majalah: “Bakat bertualang cinta yang telah tumbuh ketika merantau di Eropa, membawanya bercinta dengan seorang wanita Prancis, istri kenalannya sendiri. Konon, affair ini sangat membuat berang kelompok orang-orang Prancis yang bekerja di Kedubes Prancis di Jakarta, sampai pihak Kedubes Prancis turun tangan. Nyonya insinyur itu dipulangkan ke Paris dan beberapa bulan kemudian sang suami menyusul. Tapi, si nyonya insinyur terus berkorespondensi dengan Iwan. Bahkan dalam surat terakhirnya, si madame bertutur tentang kelahiran oroknya yang diberi nama Marcel Iwan Vermont.”

Kita bila membaca lagi novel-novelnya akan mudah tertawa bila berurusan dengan asmara. Iwan Simatupang seperti main-main dalam menghadirkan tokoh-tokoh untuk percintaan. Lakon keluarga pun terasa aneh. Iwan Simatupang itu pengarang Indonesia tapi citarasa Barat memang kuat.

Yang serius dan sabar semestinya sudah membuat persiapan dalam upaya mengadakan peringatan 100 tahun Iwan Simatupang: 2028. Kita membayangkan perayaan itu pasti seru. Pihak Prancis melalui beragam lembaganya di Indonesia boleh ikut mengadakan acara untuk menghormati Iwan Simatupang. Paastinya yang sering terkutip tentu tulisan-tulisan Dami N Toda, yang pernah membiat riset serius mengenai teks-teks buatan Iwan Simatupang.

Kita pun menginginkan agar surat-surat Iwan Simatupang dapat terkumpul dalam jumlah makin banyak. Dulu, kita sudah membaca surat-surat politiknya yang diterbitkan LP3ES. Kita penasaran dengan surat-surat yang lain. Kumpulan surat itu bisa saja diolah menjadi novel, yang membuat pembaca memasuki dunia Iwan Simatupang.

Kita perlu mengingat pula pidato Frans Seda dalam pemakaman Iwan Simatupang: 4 Agustus 1970: “Saya teringat Iwan di saat saya mengajarkan Schubert, yaitu simfoni yang tak selesai-selesai. Dan inilah yang saya lihat dalam hidupmu berjalan, simfoni dari pahit dan getir, frustrasi, kontradiksi-kontradiksi. Iwan, kamu selalu intensif dalam hidup ini. Intensif dalam marah, dalam hal-hal yang menggiurkan, kepahlawanan yang hebat-hebat. Dan di situlah Iwan, kau menjadi besar.” Ia memang pantas menjadi pengarang besar.

*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)

Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<