KURUNGBUKA.com – Yang masih teringat: HB Jassin. Dulu, ia yang paling gemar mencatat untuk membuat umat sastra di Indonesia mengingat nama tokoh, judul novel, majalah, sayembara, dan lain-lain. Yang ditekuninya adalah dokumentasi sastra, yang kadang kebablasan membuatnya menulis resensi, artikel, dan surat. Anehnya, HB Jassin segera disebut kritikus sastra. Apakah ia menginginkan sebutan dan derajat yang mentereng dalam ketekunan mengurusi sastra?
Konsekuensi yang ditanggungnya terlalu besar dalam memakmurkan sastra di Indonesia. Yang tidak terlupa, usahanya mengenalkan dan membesarkan para pengarang di seantero Indonesia. Maka, ia telanjur diakui berperan besar atau berhak mengeluarkan fatwa sastra. Padahal, ia bukan ulama atau orang yang keramat.
Tubuhnya yang gemuk kadang terlihat lucu. Lelaki yang tidak menampilkan gagah dan perkasa. Ia bukan lelaki flamboyan, yang tidak mungkin bersaing dengan Rendra. Orang-orang mengenalinya santun. Ada yang mengira bijaksana. Pokoknya, HB Jassin mudah mendapat perhatian. Apakah ia tampil dengan keberanian dan kebenaran-kebenaran agung? Ia masih makan nasi dan merasakan udara Jakarta. Kita meragu jika ia bakal menjadi orang keramat dalam sastra Indonesia.
Namun, sebutan “sakral” diberikan dalam pembenaran perannya selama bertahun-tahun. Kita sudah jemu tapi tetap ingat sebutan yang mengandung komedi: Paus Sastra. Yang terbaca bikin penasaran di majalah Tempo, 18 Juli 1987, judul untuk resensi buku: “Paus yang Minus Warna.” Komedi yang ditambahi komedi. Keyakinan umat sastra di Indonesia: HB Jassin tidak diciptakan untuk menjadi manusia yang lucu.
Resensi yang dibuat Mohamad Cholid untuk buku yang berjudul HB Jassin: Paus Sastra Indonesia (1987) susunan Pamusuk Eneste. Buku tipis yang pengaruhnya tebal, melewati beberapa dekade. Persamaan HB Jassin dan Pamusuk Eneste: keseringan menjadi editor. Resensi itu bukan bermaksud menkultuskan dua editor terpenting di Indonesia.
Di majalah Tempo, kita membaca pujian: “Tentu saja, Jassin lebih dari sekadar seorang dokumentator. Atau, pada perkembangannya kemudian, sekadar kritikus. Sebab, secara politis, kalau boleh dibilang demikian, prinsipnya jelas sangat membela kemandirian kesusastraan.” Kalimat yang sangat sulit dibuat tapi kita terbukti membacanya dalam resensi buku.
Yang pasti, kita ikut memuji bahwa HB Jassin adalah “manusia tak sekadar”. Berarti ia memiliki peran yang macam-macam di Indonesia. Apakah kita mau menambahi gelar lagi? Kita mendingan tidak sibuk memikirkannya lagi. Di Indonesia, sudah bermunculan tokoh-tokoh baru yang boleh diberi gelar aneh-aneh untuk hiburan atau keseriusan dalam memajukan sastra di Indonesia.
Kini, beberapa tokoh berpengaruh dalam sastra mulai bosan dan berani “meledek” kekuasaan HB Jasin. Mereka menyarankan agar para pengulas sastra tidak perlu lagi menjadikan buku-buku HB Jassin sebagai referensi. Padahal, ada yang masih sungguh-sungguh menghormati HB Jassin meski tidak dalam kritik sastra. Ia tetap menonjol sebagai dokumentator.
Siapa mau melupakan dan meninggalkannya? Kita tidak wajib menjawabnya. HB Jassin masih selalu bersama kita. Kutipan lagi di majalah: “Tetapi, buku Pamusuk Eneste ini barangkali boleh dibilang belum final.” Kita membayangkan penulisan buku itu pertandingan yang melewati perempat final dan semi final untuk sampai ke final. Yang menulis resensi mungkin tidak mengenal akrab Pamusuk Eneste atau membaca buku-bukunya. Kita pun cuma membaca beberapa buku, terutama Leksikon Sastra Indonesia dan Proses Kreatif. Pamusuk Eneste itu editor ampuh meski tidak menyibukkan diri sebagai dokumentator sastra yang unggulan.
Pada masa sekarang, yang ingin meniru menjadi dokumentator seperti HB Jassin mungkin hanya 3 orang. Yang mau tampil sebagai editor seperti Pamusuk Eneste mungkin 2 orang. Zaman terlalu berubah, yang menjadikan dokumentator dan editor model lawas terkalahkan oleh godaan-godaan digitalisasi dan menu-menu dalam gawai.
Pamusuk Eneste bukan yang membuat julukan untuk HB Jassin. Namun, kemauannya menulis tentang HB Jassin itu bukti mencermati perkembangan sastra Indonesia. HB Jassin dianggap berpengaruh, yang kadang malah menentukan arah. HB Jassin memang “berkuasa” dalam sastra Indonesia.
Yang meresensi membuat kalimat penutup menuntut jawab: “Apa betul Jassin serius terus, atau mulus saja kehidupannya, seperti yang diceritakan buku ini?” Pamusuk Eneste tidak wajib menjawab. Ia memiliki urusan-urusan lain, yang akhirnya terbit menjadi buku-buku.
*) Image by dokumentasi pribadi Bandung Mawardi (Kabut)
Dukung Kurungbuka.com untuk terus menayangkan karya-karya penulis terbaik dari Indonesia. Khusus di kolom ini, dukunganmu sepenuhnya akan diberikan kepada penulisnya. >>> KLIK DI SINI <<<
















